Apakah Doa Bisa Merubah Takdir ?

Info ZISWAF

Nasehat Dhuha Selasa, 22 Juni 2021 | 12 Dzulka’dah 1442 H| Oleh : Ust Sarwo Edy, ME

Klikbmi, Tangerang – BMI Kliker yang dirahmati Allah SWT tema nasehat dhuha kita kali ini adalah apakah doa kita bisa merubah takdir kita. Mari simak dalam firman Allah berikut ini. Allah berfirman di dalam surat Al-Hadid ayat 22 yang berbunyi :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Ayat di atas menggambarkan bahwa takdir setiap makhluk (yang diciptakan-Nya) sudah ditetapkan oleh Allah di Lauhul Mahfudz sebelum penciptaannya. Bahkan sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana kita ketahui bahwa takdir atau ketetapan Allah terhadap makhluk-Nya harus kita imani (percayai). Bahkan Iman terhadap Qadha dan Qadar termasuk 6 Rukun Iman. Hal itu sesuai sabda Nabi. Rasulullah SAW bersabda :

الإيمان أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره

Iman adalah Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Sebagaimana kita ketahui, Qadha’ yaitu setiap ketetapan dari Allah SWT semenjak dari zaman azali atau sebelum diciptakan alam semesta sesuai kehendak-Nya, mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan makhluk ciptaan-Nya. Sementara untuk Qadar, yaitu perwujudan dari Qadha’ Allah dalam kadar tertentu sesuai kehendak-Nya. Secara sederhana, Qadha’ adalah ketetapan dari Allah yang saat ini belum terjadi dan itu semua menjadi rahasia Ilahi. Qadha’ seperti “rencana” dan Qadar adalah “perwujudan” dari Qadha’.  Qadha adalah Ketetapan Allah yang mutlak yang tidak bisa dirubah.  Dan Qadar adalah Ketetapan Allah yang bisa dibagi 2, Yang sudah pasti dan bersifat rahasia dan yang bisa berubah sesuai ikhtiar makhluk-Nya. Takdir yang bisa berubah disebut Takdir Muallaq.

Ada tiga tarekat yang paling banyak penganutnya di Indonesia yang kepercayaannya tentang perbuatan manusia dan atau  makhluk-Nya. Dan bisa kita kaitkan dengan kepercayaan terhadap Qadha’ dan Qadar :

  1. Jabariyah, Secara harfiah Jabariyah berasal dari kata ja-ba-ra, yang memiliki arti keterpaksaan. Sebuah paham teologi dalam Islam yang meyakini bahwa alur hidup manusia merupakan ketentuan Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak dalam menentukan garis hidup manusia. Dalam hal ini, manusia tidak berdaya, segala tindakan manusia merupakan ketentuan Tuhan.
  2. Qadariyah, Qadariyah berasal dari kata-kata qa-da-ra, yang memiliki arti kehendak. Sebuah paham teologi yang mengatakan bahwa apa yang terjadi pada diri manusia merupakan kehendak pribadi. Aliran ini dipegang oleh kalangan Mu’tazilah yang menempatkan akal pada posisi tertinggi, lebih tinggi dari wahyu. Menurut paham ini perbuatan manusia sepenuhnya merupakan tanggung jawab.
  3. Asy’ariyah, Tidak ada istilah khusus bagi aliran ini. Aliran ini berkeyakinan bahwa apa kehendak manusia dan Tuhan terdapat porsinya tersendiri. Aliran yang dicetuskan oleh Abu Hasan al-Asy’ari, seorang murid Wasil bin Atha’ seorang ulama dari kalangan Mu’tazilah. Secara sederhana, aliran ini memiliki adagium yang cukup sederhana tetapi cukup mewakili, yakni, “Manusia berencana tetapi Tuhan yang menentukan. Meskipun manusia berkehendak bebas tetap saja Tuhan yang menentukan.

Dalam hal ini, ada 2 komposisi yang saling berkaitan. Yaitu Kehendak Allah SWT dan Kebebasan Makhluk-Nya. Allah berfirman di dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi :

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia

Lalu, apakah ketika Allah telah mentakdirkan keburukan kepada kita, lalu keburukan itu dapat diperbaiki? Ketika Allah telah mentakdirkan sesuatu, berarti hal itu ada beberapa level. Pertama, ditakdirkan dalam ilmu Allah (al-ilm). Kedua, ditakdirkan dalam kehendak Allah (al-iradah). Ketiga, ditakdirkan dalam catatan Allah (kitabah). Keempat, penciptaan oleh Allah melalui sifat qudrat-Nya (al-khalqu).

Takdir yang berada dalam sifat Allah (ilmu dan iradah) tidak dapat berubah. Berbeda dengan takdir yang berada dalam catatan amal (kitabah) dan penciptaan (al-khalqu). Sebagian di antaranya dapat berubah sesuai kehendak Allah SWT. Allah berfirman di dalam surat Ar-Ra’d ayat 39 yang berbunyi :

 يَمْحُ الله مَا يَشَاء وَيُثْبِت وَعِنْدَه أُمُّ الكِتَاب

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz)

Di sinilah, doa dan silaturahim dapat berperan mengubah ketentuan ini. Keburukan menjadi kebaikan. Doa, silaturahim, sedekah dan kebaikan-kebaikan lainnya dapat memperbaiki takdir buruk yang menimpa kita. Dengan demikian, jika seseorang sudah ditakdirkan buruk, hal itu sebenarnya masih dapat diperbaiki. Tentu oleh Allah SWT sendiri. Perbaikan itu dapat diwujudkan oleh Allah dengan kita melakukan kebaikan-kebaikan, seperti doa, sedekah, dan silaturrahim. Rasulullah SAW bersabda :

لا يرد القدر إلا الدعاء، ولا يزيد في العمر إلا البر

Taqdir yang telah ditetapkan tidak dapat ditolak kecuali dengan doa, dan umur seseorang tidak bisa bertambah kecuali dengan melakukan kebaikan.

Akan tetapi, walaupun ada beberapa takdir yang bisa dirubah melalui doa (atas izin Allah), Kita tidak boleh berandai-andai hal lain yang terjadi berbeda dengan apa yang sudah ditentukan oleh Allah SWT ketika itu sudah terjadi. Karena itu merupakan perbuatan syaitan. Rasulullah SAW bersabda :

إحرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز فإن أصا بك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كذا وكذا لكن كذا وكذا ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل فإن (لو) تفتح عمل الشيطان

Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat).Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya)’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan.”(HR. Muslim)

Kesimpulannya, Kita sebagai umat islam harus beriman kepada Qadha’ dan Qadar dengan menerima segala ketetapan-Nya tanpa menafikan ikhtiar yang terbaik, terus beramal sholeh dan tidak lupa untuk berdoa dan tawakkal kepada Allah sembari berharap mendapatkan hasil yang terbaik. Dan jika ketetapan Allah belum sesuai dengan harapan kita, maka seyogyanya menerima dengan lapang dada dikarenakan ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk kita. Wallahu a’lam bish-showaab. Doa tanpa usaha itu BOHONG, Usaha tanpa doa itu SOMBONG

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi).

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.