KamaBara : Tuah Sambal Sepekan dari Umak, Membuat Anak Kuli Ini Menjadi Pemenang Kehidupan

BMI Corner

Klikbmi.com, Tangerang –  Nasib kadang sulit ditebak. Itulah gambaran dari kisah nyata kehidupan dari seorang manusia. Sudah sering kita lihat, banyak orang sukses yang lahir dari kepedihan hidup bahkan penderitaan. Kadang, kisah nyata kehidupan orang orang yang dinilai sukses dan berhasil itu, mampu membangkitkan energi positif dan membuat motivasi menjadi berlebih dalam manapaki terjalnya jalan kehidupan.

Kisah nyata seorang Kamaruddin Batubara, atau biasa disapa KamaBara adalah sekelumit retorika dan lika liku kehidupan seseorang yang notabene susah dan perih sedari kecil hingga mampu menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan darma baktinya diakui oleh negara secara formal. Lahir dari pasangan alm. Anwar Batubara dan Ibu Rohana Nasution, KamaBara kecil hidup di tengah tengah masyarakat yang agamis dan kental dengan kehidupan yang memaksanya secara naluri untuk selalu kerja keras. Sejak duduk di bangku SMP Negeri Aek Nangali tahun 1988, KamaBara sudah terbiasa membantu orang tuanya bekerja dengan mengangkut pasir dan batu dari sungai Batang Natal ke penampungan dengan jarak minimal 150 meter hingga 250 meter dengan kontur tanah menanjak sekitar 45 derajat sepanjang 50 meter. Tentu bukan pekerjaan enteng untuk kekuatan fisik ukuran anak SMP saat itu. KamaBara kecil juga terbiasa membantu membersihkan kebun orang, dengan upah yang selalu ditabung dan dikumpulkan guna memenuhi kebutuhan sekolahnya. Saat itu, KamaBara kesengsem dan sangat ingin sekali membeli sepatu impiannya, yakni sepatu merk Spotec yang harganya waktu itu senilai 30.000 rupiah. Demi sepatu impiannya saat itu, dan untuk membeli baju sekolah satu pasang saja, KamaBara berjuang sendiri dan bekerja keras karena tidak ingin merepotkan orang tuanya yang sudah cukup susah bekerja menghidupi dirinya dan keenam adiknya.Dalam benak KamaBara, minimal dengan bekerja seperti itu dirinya bisa memenuhi keperluannya sendiri dan tidak membebani lagi orang tuanya.

Kebiasaan seperti itu terus berlangsung hingga masuk bangku SMA Negeri Muarasoma. Bedanya, karena sekolah SMA tersebut jauh dari kampung halamannya, maka KamaBara harus kost di tempat yang sangat sederhana di sekitar sekolahnya. Tetapi setiap libur sekolah, dipastikan KamaBara selalu bekerja seperti semula, membantu membersihkan kebun orang dan mengangkut pasir dan batu di sungai Batang Natal. Itu kerap dilakukan  untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, seperti membeli buku, membeli seragam sekolah dan membeli  sepatu sekolah.

Menu Jagoan, Sambal Sepekan

Ada yang menarik selama KamaBara sekolah di SMA dan kost di sekitar sekolah tersebut.  Dua tahun pertama sekolahnya di SMA Negeri Muarasoma,  KamaBara kost bersama dua kawannya. Setiap minggu sore KamaBara berangkat dari kampungnya untuk kembali kost di dekat sekolah SMA nya itu. Sebelum berangkat ke tempat kost, Ibunya selalu membuat sambal khas yang cukup buat dimakan seminggu. KamaBara menyebutnya, sambal sepekan. Setiap hari menu makanannya adalah ikan teri jengki, yang dihiasi dengan sambal sepekan tersebut.

Bekal yang didapatkan dari orang tuanya pun waktu itu hanya 1000 rupiah per minggu. Jajan hanya bisa untuk hari senin saja, untuk membeli indomie rebus yang harganya 500 rupiah, sisanya untuk ongkos pulang pergi. Praktis dari hari Selasa sampai Sabtu, KamaBara tidak bisa jajan seperti lazimnya orang lain. Menu utama sarapan paginya hanya nasi plus teri jengki, kadang ada ikan asin kalo Umak (demikian KamaBara memanggil Ibunya) ada rejeki. Saat makan siang, menunya kembali dengan sambal sepekan yang telah disiapkan untuk seminggu. Dan jika malam tiba, barulah KamaBara bisa makan gulai. Tapi jangan salah, gulai yang dimaksud bukan gulai sapi atau gulai kambing yang enak, melainkan  gulai kol  atau kacang panjang/buncis, yang dibawanya sedikit dari rumah, setiap minggu sore sebelum berangkat ke kostan lagi.

Tahun ketiga masa SMA KamaBara pindah kost. Barulah Dia mendapatkan makan dengan ikan sesekali, karena anaknya Ibu Kost yang berprofesi sebagai supir truk sering menangkap ikan di sungai Batang Natal menggunakan jala (jaring). Itupun jika beruntung ada ikan yang terjaring di sungai. Dan jika dapat ikan, maka KamaBara bisa ikut menikmati ikan tersebut, tentu saja dengan sambal sepekan yang tetap menjadi menu utamanya.

Ada yang menarik selama KamaBara sekolah di SMA. Selama tiga tahun sekolah, KamaBara hanya memiliki tiga pasang pakaian seragam yang dibelinya tiap tahun dengan uang hasil kerjanya sebagai kuli angkut pasir dan batu saat libur sekolah. Dengan tinggi badannya yang menjulang 185 cm, tentu saja tidak ada pakaian seragam yang sudah jadi yang cukup buat sosok KamaBara. Alhasil dia harus menjahit sendiri pakaiannya ke tukang jahit dan tentu ongkosnya juga lumayan mahal. Itu alasan kenapa KamaBara berusaha mencari penghasilan dengan bekerja sebagai kuli angkut pasir dan batu semasa libur sekolah. Sepatu pun, sama hanya tiga pasang saja, itupun diganti jika sudah rusak saja. Dan satu hal yang mencolok, KamaBara selalu menenteng buku pelajaran seberapun banyaknya pelajaran hari itu, karena memang Dia tidak memiliki tas sekolah.

Selain bekerja mengangkut pasir dan batu dari sungai Batang Natal, KamaBara juga sering menjadi kuli serabutan, misalnya menjadi kuli bangunan, kenek cat duco mobil, membabat kebun pala, kopi dan kayu manis. Itu semua dilakukan jika sekolahnya libur. Saat hari Minggu tiba, ada rutinitas yang kerap dilakukan juga oleh KamaBara adalah ikut dengan ayahnya dari pagi hingga siang untuk menyadap karet. Setelah itu KamaBara membantu bibinya menyiapkan dagangan, dengan berkeliling kampung mengambil daun talas untuk bungkus tape ketan, membersihkan bulu ayam sambal mencuci pakaian sendiri di sungai Batang Natal. Dan dari sore hingga malam harinya, KamaBara menjadi pelayan warung nasi milik bibinya itu,  dengan upah yang lumayan, 500 rupiah.

KamaBara menjalani masa masa kecil hingga remajanya dengan penuh kesungguhan dan kerja keras untuk membantu orang tuanya. Terlebih sejak ayahnya meninggal tahun 1996, praktis Ibunya yang bertanggung jawab penuh menghidupi keenam adik adiknya dengan berjuang dan bekerja sebagai penyadap karet, garap sawah warisan, kuli tandur, kuli ngoyos sambil tetap menganyam tikar pandan setiap malam. Hal itulah yang meneguhkan semangat seorang KamaBara untuk berjuang membantu beban Ibunya sebagai anak yang paling tua.

Hijrah dan Menemukan Dunia Yang Mengantarkannya kepada Kesuksesan

Lahir Di Desa Bangkelang, Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal, 2 Mei 1975, sejak kecil KamaBara sudah ditempa berbagai kesulitan hidup dan kerasnya kehidupan. Kesulitan hidup itulah yang  membentuk pribadinya menjadi sosok yang tegar dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan dan permasalahan yang datang menghadang.  Semangatnya yang membara, untuk bisa menjadi pelindung dan tulang punggung keluarga membuat energinya bertambah setiap saat untuk melakukan yang terbaik. Tercatat, sejak SD hingga SMA, KamaBara selalu dipercaya menjadi Ketua Kelas, dan Ketua OSIS. Disinilah jiwa kepemimpinannya tumbuh dan kelak akan menjadikannya menjadi pribadi yang disegani berbagai kalangan di negeri ini.

Tahun 1994 KamaBara muda hijrah ke Bogor. Mimpinya untuk menuntut ilmu di tanah Jawa kesampaian. Berkat kecakapannya dan kecerdasannya, KamaBara diterima di Fakultas Kedoketran Hewan IPB di Bogor. Masa masa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) saat itu dilaluinya dengan penuh semangat. Namun karena energinya terkuras dan fokusnya terpecah saat harus bertahan hidup dengan bekerja juga, maka KamaBara gagal melalui masa TPB dan dinyatakan drop out. Saat itu untuk bertahan hidup, KamaBara melakoni kuliah sambil mengajar juga, menjual pakaian, serta jika libur puasa tiba, maka KamaBara bekerja di toko pakaian di Pasar Anyar dan Dewi Sartika Bogor, yaitu Toko Sentral Jeans milik alm. H,Mardan Lubis, seorang pengusaha asal Mandailing juga. Lagi lagi mental seorang KamaBara teruji hebat. Walaupun dinyatakan drop out (DO), tidak lantas mengganggu sikap dan kepribadian KamaBara untuk berbuat yang terbaik. Karakter dan mental yang kuat, membuatnya tidak merasa gengsi atau minder. KamaBara lalu down grade ke program diploma di Fakultas yang sama, FKH IPB, dan mengambil jurusan Teknisi medis Veteriner hingga tuntas. Ke depannya, tahun 2014 KamaBara  berhasil menuntaskan Program S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi, Universitas Nusa Bangsa Bogor, bahkan 5 tahun berikutnya berhasil menjadi lulusan terbaik Magister Ekonomi Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor pada tahun 2019.

Saat ini KamaBara sudah berhasil membuktikan semua perjuangannya tidak sia sia. Berbagai prestasi telah ditorehkan dan sepak terjangnya dalam mewujudkan pemerataan ekonomi yang mensejahterakan lewat gerakan koperasi sudah diakui oleh berbagai kalangan. Kedudukannya sebagai Ketua Pengurus sekaligus Pesiden Direktur Koperasi BMI, semakin meneguhkan sikap dan kepribadiannya yang luhur dalam pemberdayaan anggota dan masyarakat luas. Pejuang dakwah muamalah ini, bahkan berhasil membawa Koperasi BMI yang dipimpinnya menjadi Koperasi Besar di Indonesia yang menjadi role model bagi koperasi lainnya di Indonesia.  Model BMI syariah yang digagasnya telah menjadi icon baru bagi dunia perkoperasian di tanah air. Komitmen dan konsistensinya dalam mengawal gerakan ekonomi kerakyatan melalui koperasi dengan berlandaskan prinsip ekonomi syariah, membuatnya sebagai pribadi yang menjadi suri tauladan dalam berbagai hal. Tak ayal, Pemerintah mengganjar KamaBara dengan berbagai penghargaan prestisus diantaranya, anugerah Lencana Bakti Koperasi dari Kemenkop dan UKM RI tahun 2017 serta tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI tahun 2018. Suatu penghargaan yang semakin menguatkan peran dan kapasitasnya sebagi mujahid pemberdayaan masyarakat. Ikuti kisah dan perjuangan hidupnya segera dalam Novel dan Buku autobiografi, yang akan segera dirilis. (AH/klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *