Kisah Yulandi, Pemulung Disabilitas yang Berjuang Agar Anak-anaknya Bisa Sekolah Sampai Sarjana

Edu Syariah

Nasehat Dhuha  Rabu, 23 Maret 2022| 20 Syaban 1443 H | Oleh : Ustadz Sarwo Edy, ME

Klikbmi, Tangerang – Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Mumun sudah bersiap dengan peralatan memulungnya. Gerobak pun sudah stand by di depan rumah. Dengan pakaian seadanya Mumun dan anaknya mulai berjalan dari rumah ke rumah. Mencari botol plastik, kardus dan barang-barang bekas yang sekiranya masih bisa dijual.

Begitulah rutinitas Bu Mumun dan putranya, Yulandi setiap harinya. Pekerjaan ini mereka lakukan dari pukul 7 pagi hingga kembali ke rumah pada jam 12 siang. Di saat Mumun mendorong gerobak, sementara Yulandi memungut barang-barang rongsokan. Alat bantu tongkat membantu Yulandi agar langkahnya tetap stabil. Dikarenakan kaki kanannya sudah tidak berfungsi dari lahir.

Bu Mumun (69) yang menjadi anggota Koperasi BMI Cabang Sepatan ini tinggal serumah dengan suaminya, Tara (60) dan anaknya, Yulandi (41). Rumah mereka beralamat di Kampung Rawa Beureum, RT 004, RW 003, Desa Lebak Wangi, Sepatan Timur, Tangerang.

Di rumah itu juga, Yulandi mengurus empat anaknya . Yang tertua sudah lulus SMK. Yang kedua, sebentar lagi lulus SMA. Sementara sang adik sebentar lagi masuk SMK. Kemudian si bungsu sebentar lagi masuk SMP.

“Alhamdulillah, dari hasil memulung bisa buat jajan cucu, angsuran ke Koperasi BMI, iuran sekolah cucu.” ujar wanita yang karib disapa Mak Ebot itu menceritakan penghasilannya.

Ada kisah menarik dari anaknya, yaitu Yulandi. Ternyata awalnya dulu ia tidak langsung menjadi pemulung atau mengikuti jejak orang tuanya. Bahkan ibunya lah yang mengikuti jejaknya jadi pemulung.

“Dulu saya belum kepikiran untuk jadi pemulung. Ibu kuli nyuci. Dia makan hanya 2 kali sehari. Itupun makannya pakai garam. Saya nggak tega kalau masih minta sama ibu. Apalagi biasanya nyuci sampai 3 bak. Kadang merasa kasihan aja,” ujar Yulandi yang selama hidupnya tak pernah mengenyam bangku sekolah.

“Suatu ketika saya melamun karena belum punya kerjaan. Tiba-tiba saya melihat kakek-kakek membawa 3 karung barang rongsokan. Saya kepikiran mau nyoba. Dia bisa, masa saya nggak bisa. Akhirnya saya mencoba mengumpulkan dan dapat 4 karung.  Saya langsung jual pada hari itu juga. Hasilnya saya belikan lauk untuk emak, ” tambah pemuda yang memulai mulung pada tahun 1997 ini.

“Dari hari itulah saya melanjutkan pekerjaan ini. Dan akhirnya ibu pun juga ikut mulung 1 tahun setelahnya. Karena dulu saya pernah kecelakaan ketika mulung. Katanya ibu mau ikut sekalian menjaga saya.” Tambahnya.

Yulandi bersama Ibunya Mumun.

Untuk ukuran jalan kaki, rute mereka mencari rongsokan lumayan jauh. Dari Sepatan Timur mereka berjalan 5 Km menuju Kawasan Cadas. Kemudian berlanjut ke Kukun Rajeg. Mereka kembali balik arah ke Perumahan Batavia Pasar Kemis berlanjut hingga ke Pasar Kutabumi menuju Kawasan Regency di Sangiang Kota Tangerang dan kemudian kembali ke rumah.

”Biasanya sampai rumah jam 12 siang. Sorenya saya mulai milah-milah barang per itemnya. Kadang kalau sore belum kelar, saya lanjutkan di malam harinya,” paparnya.

Disinggung berapa penghasilan yang didapat, Yulandi, menjawab dengan lugas meski tak pernah mengenyam bangku sekolah sekalipun. “Biasanya penadahnya ngambil di rumah seminggu sekali. Dan langsung dibayar di muka. Rata-rata seminggu dapatnya 400 ribu. Kadang pernah barangnya banyak bisa dapat Rp 950.000 per minggu,” tuturnya.

“Hilang rasa capek saya lihat anak-anak ketika pulang ke rumah. Saya merasa bertanggung jawab terhadap masa depan mereka. Saya nggak bisa baca tulis (karena tidak sekolah). Maka jangan sampai mereka juga. Walaupun mereka cuma anak asuh, saya sudah anggap mereka sebagai anak sendiri.” Jawabnya ketika ditanya penyemangatnya untuk terus bekerja tanpa Lelah.

Selain kepeduliannya terhadap keluarga, ia juga memiliki kepeduliaan yang tinggi terhadap sesama. “Walaupun saya kekurangan, tapi saya masih bisa berbagi ke orang lain. Ketika dapat rezeki tambahan  (makanan ataupun uang) dari dermawan, saya bagikan juga ke anak-anak yatim sekitar rumah maupun yang ada di jalan. Selain itu juga kadang dibagiin untuk kakek nenek yang saya temui di jalan.” Tambahnya

“Hal itu saya lakukan karena saya sudah merasakan pahitnya hidup. Jangan sampai mereka juga. Maka saya bisa berbagi walaupun rezeki sedikit. Kadang kalau saya melihat anak yatim, berpikir saya masih ada orang tua, saya kasih juga ke mereka. Walaupun rezeki yang saya bagi itu adalah pemberian dari orang lain,” lanjutnya.

Alhamdulillah dengan kondisi seperti ini, Yulandi memiliki semangat untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus dan jadi sarjana. Agar menjadi anak yang berguna dan bisa kelak dapat memperbaiki ekonomi dan derajat keluarganya “Saya tidak mau berharap lebih. Saya juga bersyukur kepada Allah. Selain mendapat rezeki dari hasil mulung, tidak sedikit juga yang ngasih uang. Saya ingin anak-anak saya bisa sekolah sampai sarjana,” tambah Yulandi.

“Saya hanya berpesan untuk jangan putus semangat, walaupun penuh cobaan. Insya Allah nanti ada hikmahnya. Di balik kesusahan, nanti ada kebaikan. Kehidupan itu seperti makan cabe : Ada prosesnya. Selanjutnya, ketika kita punya rezeki lebih, sisihkanlah harta itu untuk mereka. Karena di dalam rezeki kita masih ada harta orang yang tidak mampu.” Pungkasnya ketika diminta memberikan pesan untuk pembaca klikbmi.com

Hal itu juga diaminkan oleh ketua rembug pusat Onah, yang kebetulan ikut hadir dalam bincang-bincang ini. “Iya betul itu. Biasanya dia kalau pulang dari mulung bagi-bagi makanan ke anak yatim sekitar. Walaupun itu dari orang juga (makanannya). Emang yulandi ini orangnya suka bagi-bagi. Nggak mau diambil sendiri rezekinya,” tuturnya.

Sebenarnya banyak hikmah yang bisa kita ambil dari Yulandi. Beberapa diantaranya :

  1.  Tidak ada hambatan bagi siapapun yang mau mencoba. Karena setiap sesuatunya pasti ada jalannya. Ikhtiar dan berdoa adalah langkah terbaik yang perlu dicoba.
  2. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Kesulitan yang dialami yulandi berupa keterbatasan fisik “mengundang” kemudahan-kemudahan rezeki.
  3. Mengeluh bukanlah jalan bagi yang mendapat cobaan.
  4. Keluarga adalah hal utama yang perlu diperjuangkan.
  5. Setiap kita agar menyisihkan sebagian dari rezekinya. Karena di dalam rezeki itu ada hak oang lain yang harus ditunaikan.

Allah SWT berfirman di dalam surat Az-Zariyat ayat 19 yang berbunyi :

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.

Wallahu a’lam bish-showaab

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Togar Harahap/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.