Tangerang, Klikbmi.com: Di tengah tuntutan agar koperasi mampu tampil sebagai perusahaan yang profesional dan berdaya saing, orientasi keberhasilannya dinilai tidak boleh bergeser dari tujuan utamanya, yakni meningkatkan kesejahteraan anggota. Pertumbuhan aset, besarnya laba, maupun ekspansi usaha bukanlah ukuran akhir sebuah koperasi. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana koperasi mampu menciptakan nilai tambah (member value) yang berdampak nyata terhadap peningkatan kualitas hidup anggotanya. Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam Webinar Bedah Buku Koperasi Sebagai Perusahaan karya Akhmad Junaidi yang diselenggarakan Asosiasi Profesi Perkoperasian Indonesia (APPI) dalam rangka Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79, Selasa (21/7/2026).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dalam webinar yang dihadiri sekitar 150 peserta tersebut, Presiden Direktur Koperasi BMI Group sekaligus Direktur Utama Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI), Kamaruddin Batubara, hadir sebagai penanggap. Ia menilai buku tersebut menawarkan perspektif baru mengenai koperasi sebagai perusahaan modern berbasis anggota (member-based enterprise) yang tetap berpijak pada jati diri, tata kelola, dan tujuan utama koperasi, yaitu menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi anggota.

Menurut Pria yang akrab disapa Kambara tersebut, salah satu kekuatan buku tersebut adalah keberhasilannya menggeser cara pandang terhadap ukuran keberhasilan koperasi. Selama ini, keberhasilan sering kali diidentikkan dengan pertumbuhan aset, omzet, maupun laba, padahal yang seharusnya menjadi ukuran utama adalah manfaat yang diterima anggota.
“Saya senang dengan buku ini. Jangan hanya laba yang dikejar. Berkoperasi itu adalah bagaimana meningkatkan pendapatan anggotanya. Nilai tambah yang diterima anggota harus menjadi ukuran. Kualitas hidup anggota harus benar-benar terukur,” ujar Pria penerima penghargaan Satyalencana Wira Karya dari Presiden RI tersebut.
Ia menegaskan bahwa konsep member value yang diangkat dalam buku tersebut harus menjadi arah baru gerakan koperasi Indonesia.
“Bukan seberapa besar koperasi tumbuh, tetapi seberapa besar anggota ikut bertumbuh. Itulah ukuran keberhasilan koperasi yang sesungguhnya,“ tegasnya.
Bagi Kambara, koperasi tidak boleh berhenti pada pencapaian angka-angka kinerja organisasi. Keberadaan koperasi harus mampu membawa perubahan terhadap kehidupan anggotanya. Karena itu, peningkatan pendapatan, akses terhadap layanan ekonomi, hingga kualitas pendidikan keluarga anggota harus menjadi indikator yang terus diukur.

Prinsip tersebut, menurutnya, telah diterapkan di Koperasi BMI Group. Melalui manajemen pemberdayaan anggota, koperasi secara berkala melakukan riset untuk mengukur perubahan kondisi ekonomi dan sosial anggotanya.
“Kami mengukur pendapatan anggota naik atau tidak, bagaimana pendidikan anak-anaknya, bagaimana kualitas hidup keluarganya. Jadi yang kami ukur bukan hanya koperasinya yang bertumbuh, tetapi anggotanya juga harus bertumbuh,” katanya.
Kambara juga menyoroti pentingnya tata kelola sebagai fondasi dalam menjalankan koperasi. Ia menilai masih terdapat paradigma yang kurang tepat ketika pengurus dan pengawas diposisikan saling berseberangan, padahal keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan seluruh rencana kerja berjalan sesuai amanah anggota.
Menurutnya, nilai-nilai koperasi hanya akan bermakna apabila diwujudkan melalui tata kelola yang baik dan seluruh aktivitas usaha benar-benar dijalankan untuk kepentingan koperasi, bukan kepentingan individu.
“Pengurus dan pengawas bukan lawan. Semua harus bekerja berdasarkan rencana kerja yang sama. Nilai koperasi baru bermakna jika dikelola dengan tata kelola yang baik. Bisnis yang dijalankan juga harus benar-benar menjadi bisnis koperasi, bukan bisnis individu,“ ujarnya.
Kambara kemudian mengaitkan gagasan dalam buku tersebut dengan praktik yang diterapkan Koperasi BMI Group. Menurutnya, koperasi modern harus mampu membangun ekosistem usaha yang saling terintegrasi berdasarkan kebutuhan anggota sehingga manfaat ekonomi tidak keluar dari lingkungan koperasi.
Karena itu, Koperasi BMI Group mengembangkan berbagai sektor usaha, mulai dari Koperasi Syariah BMI disektor jasa keuangan syariah, Koperasi Konsumen BMI diperdagangan, Koperasi Jasa BMI disektor konstruksi, mekanikal-elektrikal, percetakan, bengkel hingga layanan perjalanan umrah dan wisata serta Koperasi Sekunder BMI disektor IT, kawasan wisata dan pendidikan (diklat). Seluruh unit usaha tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan anggota sekaligus menciptakan nilai tambah yang kembali kepada koperasi.
“Kalau anggota ingin membangun rumah, kita punya konstruksi. Mau umrah ada travel. Servis kendaraan ada bengkel. Semua kebutuhan anggota kita akomodasi. Yang terpenting, seluruh peluang usaha itu harus menjadi bisnis koperasi, bukan bisnis pribadi,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Kambara juga mengajak gerakan koperasi Indonesia membangun model koperasi yang berkarakter Indonesia. Menurutnya, kekuatan utama koperasi Indonesia terletak pada nilai kekeluargaan dan gotong royong yang menjadi identitas bangsa.
“Kita harus membangun koperasi Indonesia. Kita satu-satunya bangsa yang memiliki jiwa kekeluargaan dan gotong royong. Jangan terus membanggakan model luar negeri, sementara karakter kita sendiri justru tidak dibangun,” katanya.
Ia bahkan mendorong lahirnya inovasi digital khas koperasi Indonesia melalui pengembangan mobile cooperative (Mobile Coop) sebagai identitas ekonomi digital gerakan koperasi nasional.
Selain itu, Kambara juga menyinggung sejumlah regulasi teknis yang menurutnya perlu disesuaikan dengan praktik di lapangan. Salah satunya mengenai ketentuan pembatasan biaya gaji yang dinilai belum mempertimbangkan kebutuhan riil koperasi, khususnya di sektor jasa keuangan yang membutuhkan sumber daya manusia dalam jumlah besar.

Menutup paparannya, Kambara menegaskan bahwa keberhasilan koperasi pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan pengurus. Menurutnya, pengurus koperasi tidak cukup hanya memahami administrasi organisasi, tetapi juga harus memiliki integritas, karakter kewirausahaan, dan keberanian menciptakan inovasi.
“Pengurus koperasi harus memiliki jiwa entrepreneur. Tata kelola tanpa nilai hanya menjadi slogan. Tata kelola tanpa member value hanya menjadi aktivitas. Member value tanpa pengukuran hanya menjadi harapan,“ ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh insan koperasi menjadikan buku “Koperasi Sebagai Perusahaan” bukan sekadar referensi akademik, melainkan sebagai pijakan untuk membangun koperasi Indonesia yang lebih profesional, berkarakter, dan mampu menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi anggota.
“Buku ini memberi kerangka pemikiran yang kuat. Tugas kita adalah menerjemahkannya menjadi aksi nyata di lapangan. Mari jadikan buku ini bukan hanya bahan bacaan, tetapi bahan gerakan untuk membangun koperasi Indonesia yang lebih kuat dan lebih bermanfaat bagi anggotanya,“ pungkasnya.
