Serang, klikbmi.com: Di Kampung Paneresan, RT 010, RW 004 Desa Pasirbuyut, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang suasana rembug pusat Cabe biasanya hanya dipenuhi ibu-ibu anggota. Namun Kamis pagi, 27 November 2025, ada yang tak lazim: Hidayat, Kepala Desa Pasirbuyut, datang dan duduk di tengah lingkaran anggota sambil memperhatikan jalannya pertemuan.
Dengan duduk bersila dan sesekali mengangguk, ia menyimak bagaimana staf lapang Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) mengarahkan anggota, bukan sebagai nasabah melainkan sebagai pemilik koperasi. Ada penegasan soal disiplin penggunaan pembiayaan, ada nasihat agar usaha semakin produktif, dan ada ajakan menjaga solidaritas lewat zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF).

“Sekarang saya makin paham, mengapa anggota patuh dan taat dengan amanahnya. Wajar saya persilahkan BMI cari anggota sebanyak-banyaknya di Pasirbuyut. Di rembug pusat, anggota dihargai dan didorong agar ekonomi rumah tangganya naik,” kata Hidayat, yang pernah menerima penghargaan Kades Penggerak Koperasi di RAT BMI tahun buku 2021itu.
Ia menambahkan bahwa pelayanan staf lapang BMI patut diapresiasi. “Mereka menjaga nama baik koperasinya. Sebelum beroperasi BMI izin ke desa, hormat ke RT, RW, semua dihargai. Kalau ada yang bilang BMI itu ‘bank emok’, saya yang duluan bilang tak setuju. Bank emok mana mau izin ke desa?” ujarnya.
Namun kekaguman Hidayat belum berhenti. Di tengah rembug pusat, Manajer Cabang Jawilan, Ahmad Abdul Riat, tiba-tiba mengumumkan sesuatu yang membuat suasana hening: Kopsyah BMI menyerahkan bantuan material kepada tiga korban angin puting beliung yang juga anggota rembug pusat Cabe yaitu Yulianti, Rohyati, dan Komariah.
Bencana itu terjadi pada Selasa, 28 Oktober 2025. hujan deras disertai angin puting beliung memporak-porandakan rumah warga di Kecamatan Kopo dan Jawilan. Ada rumah yang atapnya terbang, ada pula yang tertimpa pohon tumbang. Tak ada korban jiwa, tapi luka materi cukup membuat trauma.
Masing-masing anggota yang rumahnya rusak menerima bantuan Rp1,5 juta. Setelah rembug usai, Riat langsung mengajak keluarga korban untuk membeli bahan bangunan yang dibutuhkan.

“Kami dari Desa Pasirbuyut mengucapkan terima kasih kepada Kopsyah BMI. Untuk ibu-ibu anggota BMI, istiqomah lah dalam berinfak. Karena infak itu kembali untuk membangun warga kita sendiri,” kata Hidayat saat menutup pertemuan.
Di tempat terpisah, Direktur Utama Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara, menegaskan bahwa kehadiran Kopsyah BMI di tengah rembug pusat bukan formalitas, tetapi napas dari model pemberdayaan kopsyah BMI.
“Rembug pusat adalah jantung model BMI syariah . Di sana terlihat bagaimana koperasi bekerja dengan prinsip kebersamaan dan saling menguatkan. Anggota bukan nasabah,mereka pemilik, mereka keluarga,” ujarnya.

Terkait bantuan puting beliung, ia menegaskan bahwa solidaritas sosial ini adalah ideologi dasar Koperasi BMI.
“Dana bantuan itu bukan sekadar angka, tapi infak gotong royong dari anggota. Koperasi hanya menjadi perantara kebaikan. Ketika seseorang jatuh, ribuan saudara se-koperasi ikut menopang,” ungkapnya.
Lebih jauh, Kamaruddin mengaitkan bantuan itu dengan nilai sejahtera bersama.
“Sejahtera bersama bukan jargon. Ketika tiga rumah roboh, kita tidak biarkan mereka sendirian. Inilah koperasi yang benar: yang menegakkan keadilan sosial melalui gotong royong nyata,” tegasnya.
Kehadiran Kepala Desa Pasirbuyut, menurutnya, adalah bukti bahwa koperasi dapat menjadi mitra strategis pemerintahan desa.
“Ketika kepala desa melihat sendiri rembug pusat, ia menyaksikan betapa disiplin, amanah, dan mulianya proses ini. Pemerintah desa melihat bukan teori, tapi praktik pemberdayaan di lapangan,” jelasnya. Ia menutup dengan penegasan bahwa Kopsyah BMI akan terus hadir di tengah musibah ataupun aktivitas pemberdayaan masyarakat.(Togar/humas)
