Tangerang, Klikbmi.com: Bulan suci Ramadhan 1447 H telah berlalu lebih dari satu bulan. Selain menjadi momentum peningkatan ibadah dengan pahala yang dilipatgandakan, Ramadhan juga menyimpan banyak hikmah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah pelajaran tentang hidup secukupnya dan menjauhi perilaku boros atau tabdzir.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dalam agenda Jum’at Khidmat yang disampaikan oleh Ustadz Sarwo Edy, dijelaskan bahwa salah satu pelajaran sederhana namun mendalam dapat diambil dari momen berbuka puasa. Saat berbuka, seseorang kerap merasa kenyang hanya dengan sedikit makanan. Kondisi tersebut sejatinya mengajarkan bahwa kebutuhan manusia pada hakikatnya cukup sederhana dan tidak perlu berlebihan.
“Ketika berbuka puasa kita sering merasa kenyang hanya dengan sedikit makanan. Itu menjadi pelajaran bahwa sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah secukupnya. Ketika berlebihan, yang dirasakan justru begah dan tidak nyaman,” ujarnya.
Islam mengajarkan umatnya untuk hidup secara proporsional, tidak berlebihan atau israf, karena segala sesuatu yang melampaui batas pada akhirnya dapat mendatangkan mudharat. Selain larangan israf, Islam juga melarang perilaku tabdzir, yakni menyia-nyiakan nikmat dan harta yang telah Allah SWT berikan dengan cara yang tidak tepat atau digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku tabdzir sering kali terjadi tanpa disadari. Misalnya, membiarkan lampu, AC, kipas angin, atau perangkat elektronik tetap menyala meski ruangan tidak digunakan. Hal serupa juga terjadi ketika air dibiarkan mengalir hingga terbuang sia-sia. Kebiasaan tersebut dapat ditemui di berbagai tempat, mulai dari masjid, rumah sakit, tempat kerja, hingga lingkungan rumah tangga.
“Sering kali tanpa sadar kita melakukan tabdzir dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, tempat kerja maupun fasilitas umum. Membiarkan listrik menyala atau air terbuang sia-sia termasuk bentuk perilaku yang harus kita hindari,” tambahnya.
Larangan terhadap perilaku boros ditegaskan Allah SWT dalam Surat Al-Isra ayat 26-27:
“Dan berikanlah haknya kepada keluarga-keluarga yang dekat, (juga kepada) orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Ayat tersebut menjelaskan pentingnya menggunakan harta dan nikmat secara bijaksana sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Sebaliknya, pemborosan dan sikap menyia-nyiakan nikmat termasuk bentuk kufur nikmat karena tidak memanfaatkan karunia Allah dengan sebaik-baiknya.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridha) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim No. 1715)
Melalui Jum’at Khidmat ini, seluruh peserta diajak untuk semakin bijak dalam memanfaatkan nikmat yang telah Allah SWT titipkan, baik berupa harta, fasilitas, maupun sumber daya lainnya.
“Gunakan nikmat yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru kita sia-siakan,” pungkasnya. (Nur/Humas)
