Sajira, Lebak: Sejak pagi, Nursamah memilih kerudung terbaiknya untuk dipakai hari ini. Nursamah memilih kerudung yang sering dipakainya untuk mengikuti majelis Taklim. Bagi Nursamah hari ini istimewa. Ia akan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Sanitasi Gratis Masjid, Mushola, dan Pesantren (Sanimesra) dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) di kampungnya, Cilatuk RT 04 RW 04, Desa Sukamarga, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Kamis (6/11/2025).
Sebagai Ketua Rembug Pusat Murai Kopsyah BMI, hatinya terasa hangat. Pengajuan bantuan fasilitas wudhu dan MCK untuk Majelis Taklim Arohim yang ia sampaikan beberapa bulan lalu kini disetujui.
“Alhamdulillah, Pak. Saya dan ibu-ibu Majelis Taklim senang sekali. Akhirnya kami punya tempat wudhu dan WC sendiri. Siapa yang nggak bangga, koperasi sendiri yang bangun,” ujar Nursamah dengan mata berkaca-kaca.

Sebelumnya, tiga puluh jamaah Majelis Taklim Arohim harus menempuh 200 meter menuruni jalan licin menuju sungai untuk berwudhu atau sekedar urusan buang hajat.
“Kalau malam, gelap. Pernah ada yang jatuh karena licin,” kenang Nursamah. “Alhamdulillah, nanti kalau Sanimesranya jadi, kami nggak perlu ke sungai lagi.”
Di lokasi acara, rombongan Kopsyah BMI disambut hangat oleh warga dan Kepala Desa Sukamarga, Yusuf.
“Jangan khawatir, Pak. Kami siap gotong royong membangun Sanimesra,” ujarnya lantang.
Lalu menambahkan dengan nada haru, “Banyak lembaga keuangan datang ke sini, tapi hanya Kopsyah BMI yang peduli.”
Ahmad Ubaidillah, Manajer Kopsyah BMI Cabang Sajira, mengatakan Kopsyah BMI memang lebih dari sekedar koperasi simpan pinjam. “Kopsyah BMI merupakan Koperasi untuk sesama. Maka kita harus berikan manfaat yang seluas-luasnya bagi anggota dan masyarakat. Koperasi BMI bertekad kuat mewujudkan peradaban baru koperasi Indonesia yang sebetulnya sudah lama dicita-citakan Bung Hatta” Tandasnya.
Terpisah, Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara menyampaikan bahwa pembangunan Sanimesra bukan sekadar proyek fisik. “Ini bagian dari amanah spiritual Kopsyah BMI — mengembalikan fungsi koperasi sebagai wadah gotong royong dan pemberdayaan umat dalam semangat ideologi berkoperasi yakni kesejahteraan bersama,” ujar pria yang akrab disapa Kambara tersebut, bahwa Sanimesra dirancang agar majelis taklim dapat melaksanakan kegiatan belajar agama dengan nyaman.
“Majelis taklim adalah pusat pembinaan keluarga, pemberdayaan ekonomi, dan pengembangan lingkungan. Ketika tempatnya bersih dan sehat, maka ibadah pun lebih khusyuk. Itu bagian dari pilar pemberdayaan spiritual dan kesehatan Model BMI Syariah,” tutur pria yang akrab disapa Kambara itu.
“Koperasi BMI Adalah koperasi untuk sesama. Misi kami bukan menumpuk laba, melainkan menebar manfaat. Karena bagi kami, sejahtera itu bukan saat satu orang makmur, tapi ketika semua ikut merasakan itulah sejahtera bersama,” tegasnya.

Melalui Program Sanimesra, kesejahteraan tak berhenti di sebatas laporan, melainkan hidup di wajah-wajah warga yang kini bisa berwudhu tanpa takut tergelincir ke Sungai, bahwa koperasi sejati bukan hanya membangun bangunan, tapi juga membangun martabat dan harapan.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh persaingan, kata “kesejahteraan” sering diukur dengan angka, seberapa besar penghasilan, berapa banyak aset, berapa tinggi posisi.
Tapi di koperasi, terutama koperasi syariah, makna itu jauh lebih dalam — karena ada kata kedua yang menyertainya: bersama.
Kata bersama inilah yang membedakan koperasi dari lembaga ekonomi lainnya.
Ia bukan hanya tentang bagaimana seseorang meraih keuntungan, tapi bagaimana seluruh anggota ikut tumbuh tanpa ada yang tertinggal. Kesejahteraan bukan hasil kompetisi, tapi hasil kolaborasi. Kata “Kesejahteraan bersama” berarti, kalau satu anggota naik, maka yang lain ikut terangkat, bukan tersisih.
Di Kopsyah BMI, ideologi ini hidup dalam banyak wajah dari anggota yang terbantu usahanya lewat pembiayaan mikro, hingga warga desa yang kini bisa berwudhu di Masjid, Mushola dan pesantren berkat program Sanimesra.
Setiap rupiah yang digerakkan, setiap kegiatan sosial yang dijalankan, menjadi bukti bahwa kesejahteraan sejati tak berhenti di rembug pusat, tapi berdenyut di tengah masyarakat.
Koperasi mengajarkan bahwa rezeki bukan untuk disimpan sendiri, tapi untuk menjadi manfaat agar semakin berkah. Itulah yang membedakan antara sekadar laba dan keberkahan.
Laba mungkin membuat seseorang kaya, tapi keberkahan membuat banyak orang tenang.
Dalam koperasi syariah, kesejahteraan bukan hanya urusan dunia, tapi juga urusan hati.
Ketika niat diluruskan, transaksi dijalankan dengan amanah, dan hasil dibagi dengan adil — maka ekonomi menjadi ibadah. Dan di situlah makna “sejahtera bersama” menemukan ruhnya: bukan hanya tumbuh bersama, tapi berkah bersama.
Sebab, pada akhirnya, kesejahteraan sejati bukan tentang berapa yang kita punya, melainkan berapa banyak orang yang bisa kita bahagiakan. (Togar/Humas)
