Belajar dari Rabi’ah bin Ka’ab: Ketika Cinta dan Cita Harus Diperjuangkan dengan Sujud

Edu Syariah

Tangerang, Klikbmi.com: Hikmah Jumat Khidmat kali ini mengangkat tema “Belajar dari Rabi’ah bin Ka’ab”, yang disampaikan oleh Hendri Tanjung, Ketua Pengawas Syariah Koperasi Syariah BMI. Dalam pesannya, Hendri mengajak insan Koperasi BMI mengambil pelajaran dari kisah Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami, seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari suku Aslam yang tinggal di sekitar Madinah.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Setelah masuk Islam, Rabi’ah memilih tinggal di Masjid Nabawi dan berkhidmat kepada Rasulullah. Ia melayani Rasulullah, menyiapkan air wudu, serta membantu ketika Rasulullah membutuhkan sesuatu. Tugas utamanya adalah menyiapkan air untuk wudu Rasulullah. Ia juga membantu Rasulullah dalam berbagai keperluan, bahkan sekadar berdiri di depan rumah Rasulullah untuk menunggu apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Rabi’ah ini bukan seorang panglima perang, bukan seorang khalifah, orang-orang besar bukan. Bukan seorang perawi hadis, bukan penulis hadis, bukan. Tapi orang yang secara peran itu mungkin kecil perannya karena hanya menyiapkan air wudu Rasul,” tutur Hendri.

Suatu malam, setelah Rabi’ah menyiapkan air untuk wudu Rasulullah, Rasulullah kemudian melaksanakan salat malam. Setelah selesai salat, Rasulullah menoleh kepada Rabi’ah dengan penuh cinta dan kasih sayang.

“Wahai Rabi’ah, mintalah kepadaku sesuatu, apa yang kau inginkan,” ujar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dengan tenang, Rabi’ah menjawab bahwa ia memohon agar dapat menjadi pendamping Rasulullah di surga.

“Aku memohon kepadamu, wahai Rasulullah, agar aku bisa menjadi pendampingmu di surga.”

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah tertegun dan kembali bertanya apakah ada permintaan yang lain. Namun Rabi’ah menjawab, “Hanya itu, wahai Rasulullah.”

Hendri mengajak untuk melihat bagaimana Rabi’ah, yang bukan orang kaya, tidak meminta untuk menjadi kaya, tidak meminta rumah, dan tidak meminta harta. Ketika Rasulullah bertanya apa yang ia inginkan, Rabi’ah justru meminta agar dapat menjadi pendamping Rasulullah di surga.

Sebagaimana di dunia ia mendampingi Rasulullah dan mengambilkan air wudu, di surga pun ia ingin tetap berada di sisi Rasulullah.

Setelah melihat keseriusan Rabi’ah, Rasulullah kemudian memberikan arahan agar keinginan tersebut diiringi dengan usaha.

“Kalau begitu, bantulah aku untuk mencapai itu dengan memperbanyak sujud,” demikian sabda Rasulullah. Hendri menyebut hadis tersebut diriwayatkan dalam Shahih Muslim nomor 489.

“Jadi tidak hanya harapan saja, tapi Rasulullah meminta Rabi’ah untuk berusaha. Berusaha mewujudkan impiannya dengan memperbanyak sujudnya,” kata Hendri.

Menurut Hendri, kisah Rabi’ah bin Ka’ab memberikan pelajaran bahwa apabila seseorang mencintai sesuatu, maka kecintaan tersebut harus dibuktikan dengan upaya. Begitu pula ketika seseorang menginginkan sesuatu sebagai tujuan, maka untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan usaha.

“Apabila kita mencintai sesuatu, itu mesti dibuktikan dengan upaya kita. Apabila kita menginginkan sesuatu sebagai tujuan kita, maka untuk mencapai tujuan itu diperlukan upaya kita,” ujarnya.

Dalam konteks Koperasi BMI, Hendri mengajak setiap insan BMI untuk memperbanyak sujud di tengah malam dan mendoakan Koperasi BMI serta seluruh anggotanya. Menurutnya, keinginan untuk mencapai tujuan tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi harus disertai upaya.

“Misalnya kalau dalam koperasi kita, kita minta juga setiap insan BMI untuk sujud tengah malam. Untuk sujud mendoakan Koperasi BMI, mendoakan anggota-anggotanya. Karena tidak hanya bisa dicapai dengan sepatah keinginan saja, harus ada upaya. Harus ada upaya,” katanya.

Hendri juga mengajak insan BMI untuk terus menjalankan budaya-budaya baik yang sudah mulai dilakukan, seperti puasa Senin-Kamis, serta memperbanyak salat di malam hari dan salat tahajud.

“Budaya-budaya yang baik, seperti misalnya puasa Senin-Kamis yang sudah mulai dijalankan. Lalu puasa, salat di malam hari. Salat tahajud. Kita doakan Koperasi BMI di sujud-sujud kita. Karena untuk mencapai tujuan itu perlu dengan upaya,” tutur Hendri.

Ia mengakui bahwa bangun malam untuk melaksanakan salat dan bermunajat bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan kesediaan untuk mengorbankan rasa kantuk agar dapat bermunajat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sekaligus mendoakan anggota-anggota BMI agar mereka dapat menyelesaikan kewajibannya.

“Dan bangun malam itu tidak mudah. Sulit. Kecuali bagi orang-orang yang sudah nafsunya itu, nafsul mutmainnah. Yang dia mau mengorbankan rasa kantuknya untuk dia bisa bermunajat kepada Allah dan sekaligus mendoakan anggota-anggota BMI agar mereka menyelesaikan kewajibannya,” jelasnya.

Salah satu doa yang disampaikan Hendri adalah agar anggota yang memiliki kewajiban, termasuk yang masuk dalam pembiayaan bermasalah atau NPF, diberikan kemauan untuk menyelesaikan kewajibannya.

“Misalnya kalau yang NPF-nya kita doakan, semoga mereka terketuk hatinya untuk membayarnya,” ujarnya.

Hendri mengingatkan bahwa bagi Allah Subhanahu wa ta’ala tidak ada sesuatu yang sulit. Allah dapat membalikkan hati, jiwa, dan keinginan seseorang. Ketika sudah ada kemauan untuk membayar, maka Allah akan memberikan jalan.

“Bagi Allah tidak ada yang sulit. Tinggal Allah balikkan saja hati mereka, jiwa mereka, keinginan mereka. Kalau mereka sudah ada kemauan untuk membayar, insyaAllah Allah akan berikan jalan,” katanya.

Menutup pesan Jumat Khidmat, Hendri mengajak dirinya sendiri dan seluruh insan BMI untuk istiqamah dalam bermunajat dan memperbanyak sujud, terutama pada malam hari, dengan mendoakan Koperasi BMI dan seluruh anggotanya.

“Nah, inilah pesan Jumat kita hari ini. Saya mengajak saya pribadi juga teman-teman sekalian untuk kita istiqamahkan, bermunajat memperbanyak sujud kita, terutama khusus di malam hari untuk mendoakan Koperasi BMI,” pungkasnya. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *