Tangerang, Klikbmi.com: Rezeki merupakan ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Namun, untuk menjemputnya, manusia diperintahkan untuk berikhtiar, menggerakkan potensi, dan membangun kerja sama. Pesan tersebut disampaikan Ketua Pengawas Syariah Koperasi Syariah BMI, Hendri Tanjung, dalam tausiyah edisi jumat khidmat kepada insan Koperasi BMI Group.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dalam tausiyah bertema “Rezeki Turun dengan Kita Bekerja Sama” tersebut, Hendri mengajak seluruh insan koperasi untuk mengambil pelajaran dari proses turunnya hujan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Menurutnya, hujan yang membawa kehidupan dan menjadi sumber rezeki bagi manusia tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui serangkaian proses yang telah Allah tetapkan.
Sebagai pembuka, Hendri mengutip penggalan Surah Al-Baqarah ayat 22:
فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ
Artinya: “…lalu Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu.”
Pria lulusan Doktor Filsafat / Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang Ekonomi Islam dari International Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan (Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan) tersebut menjelaskan, ayat tersebut menggambarkan bagaimana Allah menghadirkan rezeki melalui perantara air hujan. Dengan turunnya hujan, bumi yang sebelumnya kering kembali hidup. Tanaman tumbuh, pepohonan menghasilkan buah, serta berbagai komoditas pertanian seperti padi dan palawija dapat dipanen untuk memenuhi kebutuhan manusia. “Allah mengeluarkan rezeki manusia melalui wasilah turunnya hujan. Karena dengan air hujan, tumbuhlah kehidupan di bumi,” jelasnya.
Namun, Hendri mengajak para peserta untuk tidak hanya melihat hujan sebagai fenomena alam, melainkan juga memahami proses di balik terjadinya hujan sebagai pelajaran dalam kehidupan, khususnya dalam menjemput rezeki.
Ia kemudian mengutip Surah Ar-Rum ayat 48 yang menjelaskan proses Allah SWT mengirimkan angin, menggerakkan awan, kemudian membentangkannya di langit sesuai kehendak-Nya.
للّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ
Artinya: “Allahlah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakkan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya….”
Menurut Hendri, proses tersebut menunjukkan bahwa hujan memiliki tahapan. Air mengalami penguapan, membentuk awan, kemudian angin menggerakkan awan hingga berkumpul dan akhirnya turun sebagai hujan. Dari proses itu, ia mengajak insan Koperasi Syariah BMI untuk memahami bahwa rezeki juga perlu dijemput melalui pergerakan dan ikhtiar. Allah SWT memang menjadi Zat yang melapangkan maupun menyempitkan rezeki, tetapi manusia tetap harus mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang dimilikinya. “Rezeki itu bisa kita peroleh dengan kita bergerak. Dengan kita menggerakkan sumber daya kita, dengan kita menggerakkan segala potensi kita. Walaupun banyak tantangan, tetapi di balik tantangan itu ada peluang,” ungkapnya.
Ia pun mengingatkan agar tantangan tidak menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Sebaliknya, setiap individu harus mampu membaca peluang, mengembangkan kemampuan, dan mengambil langkah nyata untuk mencapai hasil yang lebih baik. “Mari kita terus bergerak, kita ambil peluang, kita singkirkan tantangan,” ajaknya.
Lebih jauh, Hendri mengangkat pelajaran penting dari Surah An-Nur ayat 43. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggambarkan bagaimana awan digerakkan secara perlahan, dikumpulkan, kemudian dijadikan bertumpuk-tumpuk hingga hujan keluar dari celah-celahnya.
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهٗ ثُمَّ يَجْعَلُهٗ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖ
Artinya: “Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah mengarahkan awan secara perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk. Maka, engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya.”
Menurutnya, ayat ini memberikan gambaran bahwa awan yang berkumpul dan menyatu menjadi bagian dari proses turunnya hujan. Dari sinilah terdapat pelajaran penting tentang kekuatan kebersamaan dan kerja sama dalam kehidupan. “Hujan itu tidak akan turun jika awan itu berserakan. Hujan turun jika awan itu berkumpul, bertumpuk-tumpuk, menyatu. Begitu pula dengan mencari rezeki, hanya dapat berhasil jika kita bekerja sama,” tegasnya.
Pesan tersebut, lanjut Hendri, sangat relevan dengan kehidupan berkoperasi. Koperasi merupakan wadah yang mempertemukan berbagai potensi, kemampuan, dan sumber daya untuk mencapai tujuan bersama. Karena itu, keberhasilan koperasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan satu atau dua orang, tetapi membutuhkan keterlibatan dan sinergi seluruh insan di dalamnya.
Ia mengajak seluruh keluarga besar Koperasi Syariah BMI untuk menjadikan kerja sama sebagai kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan, mencari peluang, dan menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari. “Ini saatnya kita mengamalkan apa yang tertera dalam Surah An-Nur ayat 43. Kita bekerja sama untuk mencari rezeki, mencari peluang, dan mengatasi tantangan dari persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, lebih khusus di dalam Koperasi BMI ini,” pungkasnya.
Melalui tausiyah tersebut, Hendri mengingatkan bahwa ikhtiar menjemput rezeki bukan hanya tentang seberapa kuat seseorang bekerja secara individu, tetapi juga bagaimana setiap potensi dapat disatukan untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar. Sebagaimana awan yang berkumpul hingga menjadi hujan, kebersamaan dan kerja sama menjadi kekuatan penting dalam membangun kesejahteraan bersama. (Nur/Humas)
