Tangerang, klikbmi.com: Tubuh renta Nenek Arnawi tampak gemetar. Tongkat kayu yang ia genggam hampir terlepas dari tangannya. Di usia senja, perempuan 62 tahun itu masih sulit mempercayai kabar yang baru saja ia dengar, rumah reyot tempatnya berteduh akan dibangun ulang.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Arnawi adalah warga Desa Buaran Mangga RT 01 RW 02, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Sejak lama, warga sekitar paham betul seperti apa kerasnya hidup janda tua itu. Ia tinggal bersama anaknya, yang juga bergulat dengan ekonomi serba terbatas. Hari-hari Arnawi dihabiskan di dalam rumah, bukan karena nyaman, melainkan karena tak ada tempat lain untuk dituju.
Rumah yang ia tempati nyaris tak lagi pantas disebut hunian. Genteng bocor di sana-sini, membuat sinar matahari dan air hujan leluasa menembus ruang dalam. Dinding lapuk, lantai lembap. Untuk sekadar makan sehari-hari, Arnawi lebih sering bergantung pada uluran tangan tetangga.
Senin, 15 Desember 2025, harapan itu akhirnya tiba. Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) melakukan peletakan batu pertama Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) untuk Nenek Arnawi. Hadir dalam seremoni itu Koordinator Regional Tangerang Suta Atmaja Hidayat, Manajer ZISWAF Andi, dan Manajer Cabang Pakuhaji Dede Kurniawan.

Turut menyaksikan, Abdul Wahab dari Kecamatan Pakuhaji, Sekretaris Desa Buaran Mangga Mahriri, perwakilan Polsek Pakuhaji, serta Gunawan dari Koramil Pakuhaji. Di antara mereka, Arnawi berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, bapak ibu dari BMI. Sudah bangunin rumah buat saya. Maaf belum bisa balas apa-apa,” ucap Arnawi lirih.
Nenek Arnawi memang bukan anggota Kopsyah BMI. Namun kebahagiaan hari itu tak hanya dirasakan keluarganya. Puluhan anggota Rembug Pusat Mangga-03, yang sebagian besar adalah tetangga dekat Arnawi, turut larut dalam haru.
Ketua RP Mangga-03, Yeni, mengaku bangga pengajuan bantuan rumah untuk Arnawi disetujui.
“Alhamdulillah pak. Kami bangga jadi anggota BMI. Bukan cuma berkah buat usaha kami, tapi juga buat tetangga yang kesusahan,” katanya.
Di hadapan para anggota, Yeni bahkan mengajak ibu-ibu untuk terus menjaga semangat berbagi.
“Ayo ibu-ibu, tetap rutin isi kencleng infaknya. Manfaatnya bukan hanya buat kita, tapi juga buat saudara dan tetangga kita,” ujarnya.
Manajer ZISWAF Kopsyah BMI Andi menjelaskan, pembangunan HRSH ini bersumber dari gotong royong anggota melalui Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu (Gassiteru)—Rp2.000 untuk wakaf dan Rp1.000 untuk infak.
“Di BMI, kami tidak berhenti di simpan pinjam. Kami mengajak anggota membangun solidaritas dan keberkahan dunia-akhirat. Inilah semangat QS Al-Maidah ayat 2 yakni saling tolong-menolong dalam kebajikan. Dengan gotong royong ini, satu lagi rumah tak layak huni di Pakuhaji berkurang satu ,” jelasnya.
Apresiasi juga disampaikan Sekretaris Desa Buaran Mangga, Mahriri. Ia menyebut Kopsyah BMI kembali hadir membantu desa mengurai persoalan sosial warganya.

Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara menegaskan bahwa pembangunan Hibah Rumah Siap Huni untuk Nenek Arnawi adalah cermin nilai dasar koperasi yang sesungguhnya. “Koperasi tidak boleh berhenti pada bisnis semata. Tapi Ia harus hidup di tengah denyut kemanusiaan. Ketika ada warga yang rumahnya tak lagi layak, di situlah koperasi harus hadir,” ujarnya.
Pria yang karib disapa Kambara ini menekankan, meski Nenek Arnawi bukan anggota, BMI tidak membatasi manfaat hanya untuk lingkar internal. “Solidaritas sosial tidak mengenal kartu anggota. Selama kita mampu membantu dan itu membawa kemaslahatan, maka itulah amanah koperasi syariah. HRSH ini adalah amanah dari infak anggota yang kami jaga sebaik-baiknya,” ucapnya.
Menurutnya, rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang aman bagi martabat manusia. “Kami ingin Nenek Arnawi menua dengan tenang, beribadah dengan khusyuk, dan hidup tanpa rasa takut atap runtuh atau hujan masuk ke rumah. Rumah ini kami niatkan sebagai sedekah jariyah seluruh anggota BMI,” tutur Kambara.
Di akhir pernyataannya, pria berdarah Mandailing ini mengajak seluruh anggota untuk terus menjaga semangat gotong royong. “Setiap Rp1.000 di kencleng mungkin terlihat kecil, tapi ketika disatukan, ia menjelma rumah, harapan, dan doa. Semoga rumah ini menjadi saksi bahwa koperasi Indonesia masih punya hati, dan kesejahteraan bersama bukan sekadar slogan,” tutup Kambara.
Bagi Nenek Arnawi, hari itu bukan sekadar peletakan batu pertama. Ia adalah titik balik dari hidup yang lama berjalan dalam sunyi, sekaligus bukti bahwa di tengah keterbatasan, gotong royong masih menjadi rumah paling kokoh bagi mereka yang hampir kehilangan segalanya. (Togar/Humas)
Para pembaca Klikbmi bisa membantu pembangunan HRSH Nenek Arnawi melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI Transfer ke BSI 7200320171 an. Benteng Mikro Indonesia. nomor Konfirmasi melalui 0811-8802-013.

