Bogor, klikbmi.com: Koperasi BMI Group menggelar acara buka puasa bersama yang berlangsung di Kafe Kopikop, kawasan wisata Bukit Manik Indonesia, Pamijahan, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat nilai spiritual di bulan suci Ramadan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Acara tersebut dibuka langsung oleh Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh karyawan menjadikan Ramadan sebagai waktu untuk meningkatkan ibadah, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan semangat berbagi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausyiah yang disampaikan oleh Hendri Tanjung. Dalam ceramahnya, ia menyampaikan kisah inspiratif tentang seorang penjual tempe bernama Ani yang tidak pernah berhenti berdoa di tengah kesulitan yang dihadapinya.
Ustaz Hendri menceritakan, sejak subuh Ani sudah gelisah karena tempe yang hendak dijualnya belum juga matang. Padahal hari sudah semakin siang dan ia harus segera berangkat ke pasar agar tetap bisa mendapatkan rezeki hari itu.
Dengan penuh harap, ia menengadahkan tangan dan berdoa, “Ya Allah, matangkanlah tempeku ini supaya bisa aku jual di pasar.”
Beberapa waktu kemudian, ia kembali membuka bungkus tempenya. Namun tempe itu masih juga mentah. Ani kembali berdoa dengan harap yang sama. Hingga akhirnya, meski tempenya belum matang, ia tetap membawanya ke pasar sambil terus berdoa sepanjang perjalanan.
Setibanya di pasar, para pedagang lain mulai menjajakan dagangan mereka. Sementara Ani masih menunggu dengan cemas. Pukul sembilan pagi, dagangan pedagang lain hampir habis, tetapi tempenya masih mentah. Ia kembali berdoa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Ya Allah, matangkanlah tempeku,” lirihnya.

Waktu terus berjalan. Pukul sepuluh pagi, ia membuka kembali bungkus tempenya, namun masih mentah. Air matanya mulai menetes karena khawatir tidak ada yang mau membeli.
Menjelang siang, satu per satu pedagang lain pulang dengan dagangan yang sudah habis. Namun Ani tetap bertahan. Ketika azan zuhur berkumandang, ia meninggalkan lapaknya untuk berwudhu dan menunaikan salat di masjid.
Usai salat, dengan doa yang lebih khusyuk ia kembali memohon, “Ya Allah, matangkanlah tempeku.”
Ia kembali ke tempat jualannya dan terus menunggu dengan sabar. Hingga pukul dua siang pasar mulai sepi. Tempenya masih juga mentah, namun bibirnya tidak berhenti berdoa.
Menjelang waktu asar, ketika hampir tidak ada lagi orang di pasar, sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti di dekat lapaknya. Seorang wanita turun dari mobil dan menghampiri Ani.
“Bu, ada tempe mentah?” tanya wanita itu.
Ani terkejut dan memastikan kembali apa yang ia dengar.
“Ibu cari tempe mentah? Coba ulangi lagi, Bu,” kata Ani memastikan.
Wanita itu kembali bertanya, “Ada tempe mentah, Bu?”
Ani masih penasaran. “Untuk apa tempe mentah, Bu?”
Wanita itu pun menjelaskan, “Anak saya di Jepang baru saja menelepon. Dia ingin makan tempe. Kalau saya kirim tempe matang bisa busuk di perjalanan. Tapi kalau tempe mentah, sampai di sana justru bisa matang.”
Mendengar itu, Ani kembali berdoa dalam hatinya. Namun kali ini doanya berubah.
“Ya Allah, jangan matangkan tempeku… jangan matangkan tempeku,” ucapnya berkali-kali sebelum membuka bakul dagangannya.
Ketika bakul itu dibuka, tempenya ternyata masih mentah.
Ani langsung mengucap syukur berkali-kali. “Alhamdulillah… alhamdulillah…”
“Ibu benar mau membeli tempe ini?” tanya Ani.
“Ya, saya beli semuanya,” jawab wanita itu.
Ustaz Hendri menjelaskan, tiga pedagang tempe lain yang sudah pulang lebih dulu hanya membawa pulang sekitar Rp300 ribu dari hasil dagangan mereka. Sementara Ani yang bersabar hingga sore justru membawa pulang hingga Rp3 juta.
Melalui kisah tersebut, ia mengajak para karyawan untuk mengambil pelajaran penting tentang kesabaran, keteguhan doa, dan sikap berbaik sangka kepada Allah.
“Pelajaran pertama adalah kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah atas setiap kejadian yang terjadi dalam hidup kita,” ujar Hendri.
Menurutnya, kesulitan yang dialami seseorang bisa jadi merupakan cara Allah mempersiapkan kebaikan yang lebih besar.
Pelajaran kedua, lanjutnya, adalah pentingnya tidak pernah berhenti berdoa. Ia menegaskan bahwa seseorang yang enggan berdoa menunjukkan sikap sombong karena merasa tidak membutuhkan pertolongan Allah.
Selain itu, Hendri juga mengingatkan pentingnya menjaga salat dalam kondisi apa pun. Ia mencontohkan sikap Ani yang tetap memenuhi panggilan salat ketika azan berkumandang meski sedang menghadapi kesulitan dalam berdagang.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengimbau seluruh karyawan untuk memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan i’tikaf.

“Saya berharap teman-teman juga meluangkan waktu untuk i’tikaf. Ini adalah kesempatan membuka pintu langit agar Allah semakin mencintai kita,” tuturnya.
Acara buka puasa bersama tersebut kemudian ditutup membaca Al-Qur’an surah Al-Waqiah bersama-sama dan diakhiri dengan doa bersama, tidak lupa lebih dari 100 peserta yang hadir turut mendo’akan almarhum Irsyad Muchtar yang telah berpulang di awal Ramadhan lalu, pimpinan redaksi Peluang Media Group yang terus membumikan koperasi ke penjuru negeri. Acara dilanjutkan dengan santap buka puasa yang diikuti oleh seluruh peserta yang hadir serta tim peluang media group. Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat kebersamaan sekaligus menjadi pengingat untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan di bulan Ramadan. (Nur/Humas)

Subhanallah Wal hamdulillah