Pandeglang, Klikbmi.com — Mata Encuk (63) sembab. Bibir perempuan sepuh itu bergetar menahan haru. Air matanya jatuh perlahan saat bata pertama diletakkan di tanah rumahnya yang nyaris roboh di Kampung Babakan Teureup RT 002/001, Desa Kadupandak, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang, Banten, Selasa (19/5/2026).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Hari itu menjadi hari yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) melakukan peletakan batu pertama Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) untuk dirinya. Encuk bukan anggota BMI. Namun, penderitaan hidup yang ia jalani mengetuk hati anggota-anggota Kopsyah BMI di wilayah pelayanan Cabang Picung.
Selama bertahun-tahun Encuk tinggal di rumah yang jauh dari kata layak. Atap rumahnya lapuk dan berlubang di banyak bagian. Saat hujan turun, air masuk dari sela-sela atap yang mulai runtuh dimakan usia.
Rangka kayu penyangga rumah tampak miring dan rapuh. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu tua yang sebagian sudah bolong dan menghitam akibat lembap dan cuaca. Angin malam bebas masuk dari celah-celah dinding yang nyaris tak mampu lagi melindungi penghuninya.
Lantai rumah masih berupa tanah gelap yang lembap. Barang-barang rumah tangga disusun seadanya di sudut ruangan sempit tanpa sekat memadai. Rumah itu terasa pengap, gelap, dan nyaris roboh.
Namun di tengah keterbatasan itu, Encuk tetap bertahan hidup.
Tatapannya tenang. Wajahnya menyimpan ketabahan seorang ibu yang sudah terlalu lama akrab dengan kesusahan.
Untuk bertahan hidup, Encuk menggantungkan harapan pada anak pertamanya, Kanta, seorang duda yang bekerja sebagai juru parkir di pertigaan Pasar Picung. Penghasilannya tak menentu. Kadang, dalam seminggu ia hanya mampu memberikan uang Rp50 ribu kepada ibunya.
Kanta juga harus menghidupi anak laki-lakinya yang masih berusia enam tahun setelah sang istri meninggal dunia.
Sementara anak kedua Encuk mengalami gangguan kejiwaan ringan sehingga belum mampu membantu perekonomian keluarga.

Karena kebutuhan hidup yang terus berjalan, Encuk terkadang pergi ke hutan mencari kayu bakar. Selebihnya, ia hanya berharap belas kasih tetangga yang sesekali memberinya sedikit rezeki.
Di tengah kondisi itulah, doa Encuk akhirnya seperti menemukan jalannya.
Melalui kepedulian anggota Rembug Pusat Anggrek dan anggota Kopsyah BMI wilayah pelayanan Cabang Picung, rumah Encuk akhirnya masuk program HRSH.
Dalam sambutannya, Manajer ZISWAF Kopsyah BMI Andi menjelaskan bahwa pembangunan rumah tersebut berasal dari gotong royong anggota melalui Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu (Gassiteru), yakni Rp2.000 untuk wakaf dan Rp1.000 untuk infak.
“Ini bukan sekadar bantuan, tetapi praktik syariah yang dijalankan secara konsisten. Koperasi membuktikan bahwa bisnis dan kepedulian sosial bisa tumbuh bersama,” ujarnya.
Kebahagiaan Encuk pagi itu turut disaksikan internal Kopsyah BMI, perangkat desa dan kecamatan, hingga unsur TNI. Hadir Manajer Regional Suhaemuddin, Manajer Cabang Picung Muhroji, PLT Kasi Pembangunan Kecamatan Picung Sofyan Hadi Reza, serta Danramil 0108/Bojong-Picung Kapten Arm Siswoyo.

PLT Kasi Pembangunan Kecamatan Picung Sofyan Hadi Reza mengapresiasi langkah sosial yang dilakukan Kopsyah BMI untuk masyarakat kecil di wilayahnya.
“Dengan adanya bantuan hibah dari Kopsyah BMI ini bisa menopang dan membantu warga masyarakat yang rumahnya benar-benar tidak layak huni sehingga bisa menjadi layak dan bermanfaat,” katanya.
Sementara itu, Danramil 0108/Bojong-Picung Kapten Arm Siswoyo menilai bantuan tersebut tepat sasaran.
“Kami mendukung adanya bantuan hibah dari Kopsyah BMI yang merealisasikan rumah warga atas nama Ibu Encuk seorang janda. Yang memang benar-benar harus kita bantu,” pungkasnya.

Terpisah, Presiden Direktur Koperasi BMI Group sekaligus Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara mengatakan program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) merupakan bentuk nyata bahwa koperasi harus hadir menyentuh persoalan dasar masyarakat kecil, termasuk persoalan tempat tinggal yang layak.
“Masih banyak saudara-saudara kita yang hidup di rumah tidak layak, bahkan nyaris roboh. Karena itu koperasi tidak boleh hanya bicara soal bisnis dan pembiayaan, tetapi juga harus hadir menyelamatkan martabat hidup masyarakat kecil,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kambara itu menjelaskan, rumah yang dibangun untuk Encuk merupakan hasil gotong royong anggota Kopsyah BMI melalui Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu (Gassiteru). Menurutnya, infak kecil yang dikumpulkan secara istiqamah mampu melahirkan manfaat besar bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Dari seribu rupiah infak yang dikumpulkan setiap minggu, hari ini lahir rumah harapan untuk Ibu Encuk. Ini membuktikan bahwa gotong royong anggota memiliki kekuatan luar biasa ketika dilakukan dengan niat ibadah dan kepedulian,” katanya.
Kambara juga menilai kehidupan Encuk menjadi potret perjuangan masyarakat kecil yang tetap bertahan hidup di tengah keterbatasan. Karena itu, koperasi harus menjadi bagian dari solusi sosial bagi masyarakat sekitar, termasuk bagi mereka yang bukan anggota.
“Ibu Encuk bukan anggota BMI, tetapi koperasi harus tetap hadir membantu. Sebab dalam ajaran Islam, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kami ingin koperasi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil,” tuturnya.
Ia berharap rumah baru yang akan dibangun nantinya dapat menjadi tempat tinggal yang aman, nyaman, dan membawa ketenangan bagi Encuk dan keluarganya di masa mendatang.
“Mudah-mudahan rumah ini menjadi tempat berteduh yang penuh keberkahan, tempat beribadah, dan tempat Ibu Encuk menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa takut lagi kehujanan atau rumah roboh saat malam,” pungkasnya.
Di rumah reyot yang selama ini nyaris roboh itu, air mata Encuk akhirnya jatuh bukan karena kesedihan.
Melainkan karena harapan yang akhirnya datang mengetuk hidupnya.

