Simbol Ekonomi Kerakyatan, Kopmen BMI Fokus Garap Pasar Tradisional

Nasional

Klikbmi, Tangerang –  Saat inipasar tradisional masih berfungsi utama sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Pada pasar tradisional terbentuk pola hubungan ekonomi yang menghasilkan terjalinnya interaksi sosial. Sifat dari interaksi sosial dalam pasar tradisional memang lebih  akrab dibanding pasar modern. Transaksi yang terjadi pada pasar tradisional terlihat lebih akrab karena ada proses tawar – menawar. Selain itu pada pasar tradisional banyak juga pelanggan yang dari hari ke hari sama pada penjual dan pembelinya.

Besarnya transaksi pada pasar tradisional sering dimaknai sebagai bentuk dari bergulirnya ekonomi masyarakat. Semakin ramai pasar tradisional biasanya semakin baik ekonomi warga sekitar. Artinya terjadi perputaran yang menghidupkan ekonomi lokal.

Assahril Batubara, General Manager Kopmen BMI Memberikan Paparan Tentang BMI Point

Kopmen BMI melalui BMI Point berupaya untuk masuk ke pasar tradisional untuk menciptakan beberapa stimulasi untuk memudahkan transaksi antar di pasar. Bagi pedagang yang membutuhkan modal untuk membeli barang dagang melalui BMI Point hal ini bisa diatasi. Jika seorang pedagang misalnya butuh Rp 5 juta untuk membeli barang dagangan, maka pedagang ini bisa datang ke BMI Point di pasar untuk mendapatkan modal membeli barang dagangan ini.

BMI Point juga bisa menjadi penyedia kebutuhan berbagai produk yang dibutuhkan oleh pedagang, bukan hanya barang dagangan. Kebutuhan berdagang seperti alat kulkas, freezer, gerobak, alat elektronik dan berbagai macam kebutuhan pendukung berdagang bisa diakses melalui BMI Point.

Di Kantor Kopmen BMI, redaksi melakukan wawancara dengan Assahril Batubara, General Manager Kopmen BMI, ia memberikan keterangan tentang mengapa BMI Point masuk ke pasar tradisional. Ariel panggilan akrab pria kale mini mengatakan BMI Point memang fokus ke pasar tradisional tetapi karena kebutuhan masuk juga pasar termasuk pasar modern.”Memang fokus kita tetap di pasar tradisional karena sasaran kita memang usaha mikro dan ultra mikro, memang ada sasaran untuk usaha kecil tetapi memang kita berusaha untuk mengangkat yang mikro dulu. Mengapa ke mikro dan ultra mikro dulu, karena merekalah yang saat ini butuh meningkatkan pendapatan. Jadi kita masuk ke pedagang pasar untuk meningkatkan kesejahteraan pedagang dan ini kita ciptakan melalui kolaborasi dengan aplikasi DOIT.BMI yang kita punya” ujar Ariel.

Petugas Menampilkan Brosur Stand Handphone di BMI Point 01 Pasar Suvarna 8, Suvarna Sutera, Sindangjaya, Tangerang

Ia menambahkan bahwa perputaran ekonomi di pasar termasuk pasar tradisional terhitung cepat. “Jangan dikira perputaran di pasar tradisional itu lambat, putarannya sangat cepat, apalagi di pasar tradisional yang begitu banyak macam jenis yg ditawarkan pedagang. Di pasar  mulai dari sembako sampai berbagai macam elektronik juga dijual” imbuh Ariel.

“Target dari BMI Point ini juga menjual barang kebutuhan pedagang di pasar atau para pelaku UMKM di pasar, kita juga bisa berfungsi sebagai suplier produk. Ke depan kita akan menjadi rantai pasok yang sempurna bagi semua pedagang di satu pasar. Contoh misalnya ada pedagang butuh daging, kita dalam waktu yang terukur bisa saja menyediakan daging bekerja sama dengan vendor daging besar atau dengan anggota Kopsyah BMI yang memelihara ternak sapi. Jadi BMI Point ini akan menyelesaikan rantai pasokan ke depan” ujar Ariel melanjutkan.

“Kita saat ini sudah melakukan layanan berbagai macam kebutuhan, melalui BMI Point kebutuhan elektronik seperti HP, Kulkas dan lain sebagainya bisa diakses di BMI Point” ujarnya lagi.

Ditanya bagaimana caranya pedagang mengakses barang dagangan, Ariel mengatakan bahwa bagi pedagang yang sudah memiliki akses vendor juga bisa akses barang dagangan ke BMI Point. “Bagi pedagang yang sudah ada suplier barang dagangan, kita menyediakan Pembiayaan Multi Barang yaitu Modal Usaha dengan Aqad Murabahah wal Wakalah. Jadi bagi pedagang datang saja ke BMI Point pokoknya insyallah beres” ujar Ariel menjanjikan.

“Oia di pasar ini banyak pelepas uang tidak resmi yang bunganya mencekik pedagang kita hadir sebagai solusi bagi mereka. Misalnya ada pedagang butuh membayar barang dagangan Rp 5 juta, datang saja ke BMI Point maka di sini pedagang diberikan waktu 100 hari untuk menyelesaikan pembiayaannya, pokoknya kita hadir untuk memberikan kemudahan bagi pedagang pasar” pungkasnya.

Dihubungi melalui saluran telepon Radius Usman, Direktur Utama Kopmen BMI mengatakan bahwa kehadiran BMI Point di pasar mengatasi semua masalah di pasar. “Kita hadir melalui BMI Point agar para pedagang tersenyum ceria. Pedagang sayur, pedagang sembako, buah, ikan dan pedagang apa saja di pasar bisa mengakses BMI Point. Oia kita juga menerima produk anggota koperasi untuk dipamerkan atau dipasarkan di BMI Point ini. Pokoknya one stop servise istilah jaman sekarang. BMI Point elu dateng gue ada. Kira-kira begitu” papar Radius membuka penjelasan.

“Sebetulnya kita hadir di pasar juga untuk memasok kebutuhan para pedagang di pasar, pasokan yang di maksud sebetulnya produk. Tetapi karena produk sebagian sudah tersedia maka kita bantu alat tukarnya. Kita bantu modal pengadaan barangnya. Tetapi yang kita inginkan nanti semua akan dilayani melalui aplikasi kita DOIT.BMI” jelas pria kelahiran Cirebon ini.

“Bisnis proses kita juga sederhana, melalui tim survai kita buka BMI Point, lalu store manager memberikan informasi ke pedagang bisa melalui brosur atau melalui media sosial atau melalu omongan dari mulut ke mulut. Pedagang yang tertarik tinggal datang ke BMI Point lalu kita survei dan transaksi. Mudahkan?” ujar pria alumnus IPB University ini setengah bertanya.

Radius Usman, Direktur Utama Kopmen BMI di Kopi Rindoe Benteng GTG

“Begitu survei dan disetujui maka saat itu juga pedagang telah setuju menjadi anggota Kopmen BMI untuk sejahtera bersama koperasi kita. Nanti mereka cukup membayar simpanan pokok Rp 100 ribu, kita berikan fleksibilitas untuk menyimpan di simpanan pokok ini” ujarnya melanjutkan.

Radius mengatakan bahwa BMI Point hadir di pasar untuk memberikan keuntungan dan kemudahan bagi pedagang pasar. “Jadi intinya sekali lagi saya ulangi, BMI Point hadir mengatasi kesulitan pedagang. Ga punya modal untuk beli dagangan kita talangi, ga punya produk kita sediakan, pengin beli macem-macem produk elektronik dan belanja modal kita beliin dulu. Pokoknya kalau sudah jadi anggota Kopmen BMI kemudahan milik pedagang” papar Radius lagi.

Menutup pernyataannya Radius meyakinkan bahwa kehadiran BMI Point di pasar untuk memudahkan pergerakan ekonomi di pasar. “ Dari hasil survei kita, kita mendapati ada pedagang yang dagangannya ramai tapi karena ia kebetulan menggunakan modalnya untuk bayar anak sekolah, uang modal dipakai dan gak bisa beli barang dagangan. Tentu usahanya hari itu sepi. Nha yang begini datang aja ke BMI Point, ke depan insyallah pertukaran akan semakin mudah karena kita bisa pake pembayaran digital DOIT.BMI. Kita targetkan tahun ini ada 100 pasar dulu yang akan kita masuki. Dan saat sampai bulan ini kita sudah masuk ke 24 pasar, 19 di antaranya pasar tradisional dan 5 pasar modern. Regional Banten itu sudah melayani 14 pasar, 12 pasar tradisional dan 2 pasar modern, sementara Regional Jabar 10 pasar, 7 pasar tradisional dan 3 pasar modern. Kita berharap pasar-pasar ini akan menjadi ekosistem pembayaran digital DOIT.BMI sehingga transaksi antar pedagang lebih mudah. Bagaimana pun pasar tradisional merupakan simbol ekonomi kerakyatan.” pungkas Radius. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

1 thought on “Simbol Ekonomi Kerakyatan, Kopmen BMI Fokus Garap Pasar Tradisional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.