Medan, Klikbmi.com: Di sela kesibukannya mempromosikan film The Sun Gazer: Cinta dari Langit di Kota Medan, Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara, hadir sebagai tamu dalam program Radio Lansia, Kamis (21/8/2025). Radio ini fokus pada isu-isu yang dihadapi kaum lanjut usia (lansia) di Indonesia.
“Kenapa kita peduli pada lansia? Karena kita belum tentu sampai pada usia itu, dan mudah-mudahan kita tidak menjadi lansia yang merepotkan,” ujar Kamaruddin Batubara , atau akrab disapa Kambara, saat ditanya alasan banyak program sosial Koperasi BMI menyasar kelompok lansia.

Ia menambahkan, “Mudah-mudahan dengan peduli terhadap lansia, Allah mengabulkan doa-doa kita.”
Sejak 2014, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) telah membangun 542 unit Hibah Rumah Siap Huni (HRSH). Mayoritas penerima manfaat adalah lansia dan masyarakat berusia 50 tahun ke atas.
Rumah HRSH didesain ramah lansia, dengan spesifikasi WC duduk, lantai keramik, atap baja ringan, plafon gypsum, dan fasilitas sanitasi sehat. “BMI membangun ulang rumah dari nol, doa kami supaya mereka bahagia di sisa hidupnya,” jelas Kambara.
Banyak kisah mengharukan hadir dari program ini. Ada lansia yang tinggal seorang diri di usia 70–80 tahun, ada pula pasangan suami istri yang rumahnya hanya beratapkan terpal plastik. “Baru seminggu rumah HRSH dibangun, sang suami meninggal dunia. Saya bilang ke kawan-kawan, mungkin beliau meninggal dalam keadaan bahagia karena sudah disiapkan rumah nyaman untuk istrinya,” tutur Kambara.
Kambara menegaskan, HRSH merupakan wujud nyata amanah Pasal 4 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, yang menekankan peran koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat.
“Kopsyah BMI tidak hanya fokus pada layanan keuangan, tapi juga membangun kesejahteraan anggota dan masyarakat, termasuk bagi lansia,” ungkapnya.

Secara operasional, BMI menjalankan Model BMI Syariah, hasil modifikasi dari prinsip Grameen Bank Muhammad Yunus (Peraih Nobel Ekonomi asal Bangladesh) dan gagasan koperasi Mohammad Hatta. Nilai solidaritas, kolektivisme, gotong royong, dan syariah diimplementasikan dalam lima pilar: ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan spiritual. Pilar tersebut diwujudkan melalui lima instrumen: sedekah, pinjaman, pembiayaan, simpanan, dan investasi, serta praktik ZISWAF (zakat, infaq, sedekah, dan wakaf).
HRSH terbukti mengubah kualitas hidup penerimanya. Anak-anak dapat belajar lebih tenang, keluarga hidup lebih sehat, dan martabat meningkat di mata masyarakat. Banyak penerima menyebut program ini membuat mereka merasa “terlahir kembali”.
Selain HRSH, BMI juga menjalankan program sosial lain seperti ambulans gratis (11 armada), Sanitasi Dhuafa, Gerakan Seribu Sajadah dan Al-Qur’an (Geser Dahan), santunan dhuafa, hingga operasi katarak.
“Sedekah BMI itu merubah hidup,” tegas Kambara.
Sebagai Executive Producer film The Sun Gazer: Cinta dari Langit, Kambara juga mengumumkan bahwa film tersebut mulai tayang perdana di seluruh bioskop Indonesia pada 21 Agustus 2025.
Ia menegaskan film garapan Warna Pictures ini berbeda dari film pada umumnya. “Saya tidak pernah dan tidak akan membuat film bertema perselingkuhan. The Sun Gazer adalah film keluarga, semua tokohnya protagonis, penuh humor, drama, dan pesan mendalam. Kita belajar bahayanya judi online,” jelasnya.
Kambara mengajak para pendengar Radio Lansia untuk menonton film ini bersama keluarga. “Film ini sarat dakwah, mengajarkan keharmonisan keluarga, sekaligus hiburan yang mendidik,”tandasnya (Togar/Humas)
