Karawang, Klikbmi.com – Senyum tipis mengembang di wajah Yuli saat kedua tangannya menggenggam papan bertuliskan Bantuan Kursi Roda. Di usia 58 tahun, perempuan asal Dusun Krajan RT 002 RW 001, Desa Cibalongsari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang itu tengah berjuang menerima kenyataan hidup yang berubah drastis.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Akibat komplikasi diabetes, salah satu kaki Yuli harus diamputasi. Penyakit yang semula ia anggap biasa perlahan mengubah ritme hidupnya. Kini, aktivitas yang dulu dapat dilakukan dengan mudah harus dijalani dengan keterbatasan.
Ada masa ketika Yuli berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan pakaian dan perabotan rumah tangga kepada para pelanggannya. Langkahnya ringan, semangatnya tak pernah habis. Dari usaha itulah ia membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan membesarkan anak-anaknya.
Namun diabetes mengubah segalanya. Perempuan yang dulu begitu aktif itu kini harus menjalani hari-harinya dengan satu kaki. Sesekali matanya menerawang ke halaman rumah, mengingat masa-masa ketika ia masih bebas berjalan dan bekerja. Meski demikian, Yuli memilih bertahan. Di balik tubuh yang melemah, tersimpan keteguhan seorang ibu yang tidak mau menyerah pada keadaan.
Di tengah ujian tersebut, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) melalui program Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) menyerahkan bantuan kursi roda untuk Yuli pada Rabu (10/6/2026). Bantuan diserahkan langsung oleh Manajer Cabang Klari, Muhammad Jana.
Bagi Yuli, kursi roda itu bukan sekadar alat bantu. Ia menjadi simbol bahwa dirinya tidak sedang berjuang sendirian.
Sebelum sakit, Yuli dikenal sebagai anggota Kopsyah BMI yang aktif dan militan. Sebagai pedagang kredit pakaian dan perabot rumah tangga, ia rutin mengikuti kegiatan rembug pusat dan menjaga komitmennya sebagai anggota koperasi. Keaktifannya membuat dirinya dipercaya memperoleh pembiayaan dana talangan umrah.
Namun kehidupan berkata lain. Komplikasi diabetes yang dideritanya membuat kondisi kesehatannya menurun hingga harus menjalani amputasi. Sejak saat itu, ruang geraknya menjadi terbatas.
Kini Yuli tinggal seorang diri di rumahnya. Kedua anaknya telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Meski demikian, salah satu anaknya masih tinggal tidak jauh dari kediamannya sehingga tetap dapat memberikan perhatian dan bantuan ketika dibutuhkan.
Manajer Cabang Klari Muhammad Jana mengatakan bahwa bantuan kursi roda merupakan bentuk kepedulian Kopsyah BMI kepada anggota yang sedang menghadapi ujian kesehatan.
“Bu Yuli adalah anggota yang selama ini aktif dan memiliki semangat yang baik. Melalui bantuan kursi roda ini, kami berharap aktivitas beliau menjadi lebih mudah dan tetap memiliki semangat untuk menjalani hari-hari ke depan,” ujarnya.
Menurut Jana, koperasi bukan hanya hadir saat anggota membutuhkan pembiayaan usaha, tetapi juga ketika anggota menghadapi kesulitan hidup.
“Keluarga besar BMI ingin memastikan bahwa anggota merasakan manfaat koperasi tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi sosial dan kemanusiaan,” tambahnya.
Bantuan tersebut disambut haru oleh Yuli dan keluarganya. Di tengah keterbatasan fisik yang kini dihadapi, perhatian dan dukungan dari sesama anggota koperasi menjadi suntikan semangat untuk terus melangkah.
Bagi Yuli, kehilangan satu kaki memang mengubah banyak hal. Namun hari itu, kursi roda yang diterimanya menjadi pengingat bahwa masih ada banyak tangan yang siap membantu, dan masih ada harapan yang bisa terus diperjuangkan. Sebab terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukan hanya bantuan untuk bergerak, melainkan keyakinan bahwa ia tidak berjalan sendirian dalam menghadapi ujian hidupnya.
Terpisah, Direktur Utama Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara, mengatakan bahwa bantuan kursi roda untuk Yuli merupakan bagian dari komitmen Kopsyah BMI untuk selalu hadir mendampingi anggota dalam berbagai fase kehidupan, termasuk ketika mereka menghadapi ujian kesehatan yang berat.
“Di BMI, kami meyakini bahwa koperasi bukan hanya tempat anggota memperoleh pembiayaan usaha, tetapi juga rumah besar yang harus hadir ketika anggotanya mengalami kesulitan. Ketika Bu Yuli sakit dan harus menjalani amputasi, maka menjadi kewajiban moral kami untuk ikut meringankan bebannya,” ujar pria berdarah Mandailing itu.
Menurut pria yang akrab disapa Kambara tersebut, keteguhan Yuli selama menjadi anggota Kopsyah BMI layak menjadi inspirasi. Sebelum sakit, Yuli dikenal aktif mengembangkan usaha dan memiliki komitmen yang baik terhadap koperasi. Bahkan, kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memperoleh dana talangan umrah menjadi bukti rekam jejaknya sebagai anggota yang disiplin dan bertanggung jawab.
“Bu Yuli mengajarkan kepada kita bahwa ujian hidup bisa datang kapan saja. Namun semangat, kesabaran, dan ikhtiar tidak boleh berhenti. Kami berharap kursi roda ini dapat membantu beliau kembali beraktivitas dan tetap menjaga optimisme dalam menjalani kehidupan,” katanya.
Kambara menambahkan bahwa bantuan tersebut berasal dari dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) yang dihimpun dari anggota dan insan Koperasi BMI Group. “Setiap infak yang diberikan anggota sesungguhnya sedang membangun jembatan pertolongan bagi sesama. Hari ini manfaatnya dirasakan Bu Yuli, besok bisa jadi dirasakan anggota lainnya. Inilah indahnya gotong royong dalam koperasi syariah, di mana keberkahan tumbuh ketika kita saling membantu,” pungkasnya.
