HRSH Kopsyah BMI Bangun Harapan Keluarga Pedagang Kue Keliling Asal Muncang Lebak

BMI Corner

Lebak, Klikbmi.com – Patimah tak banyak bicara pagi itu. Namun sorot matanya sulit menyembunyikan kebahagiaan yang sedang memenuhi hatinya.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kamis (4/6/2026), halaman rumah sederhananya di Kampung Ciminyak RT 004 RW 001, Desa Ciminyak, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, mendadak ramai. Sejumlah tamu berdatangan. Sebagian mengenakan seragam cokelat khas aparatur pemerintah. Sebagian lagi berseragam loreng hijau.

Wajah-wajah itu terasa asing bagi wanita 61 tahun itu. Ia jarang bertemu mereka, kecuali sesekali saat ada kegiatan di kantor kecamatan.

Hari itu bukan hari biasa.

Mereka datang untuk menyaksikan peletakan batu pertama Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI), sebuah program yang akan mengubah hidup Patimah dan keluarganya.

Hadir Sekretaris Kecamatan Muncang Mulyadi, Kapolsek Muncang Iptu Deni Kusnadi, Danramil Muncang Kapten Mualip, Kepala Desa Ciminyak Aditya Hendra, serta jajaran Kopsyah BMI yang terdiri dari Manajer ZISWAF Andi, Manajer Regional Suhaemudin, dan Manajer Cabang Sajira Ahmad Ubaidillah.Di hadapan para tamu itulah, harapan baru mulai dibangun.

Seremoni peletakan batu pertama HRSH Kopsyah BMI untuk Patimah.

Sebelumnya, rumah yang ditempati Patimah dan suaminya, Rojak (67), berada dalam kondisi memprihatinkan. Rumah panggung sederhana itu berdiri di atas batu-batu besar dengan tiang kayu yang mulai rapuh dimakan usia.

Dindingnya terbuat dari campuran papan, bilik bambu, dan lembaran tripleks kusam yang dipenuhi noda lembap akibat bertahun-tahun diterpa panas dan hujan. Atap asbes yang menaungi rumah mereka pun sudah lapuk dan melendut di beberapa bagian.

Saat hujan turun, air dengan mudah masuk melalui celah-celah dinding dan atap. Angin malam juga leluasa menerobos masuk karena banyak sambungan bangunan yang sudah tidak rapat lagi.

Namun rumah itulah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh bagi Patimah dan Rojak.

Keduanya memiliki kisah hidup yang tak biasa.

Mereka adalah bagian dari masyarakat Baduy yang memutuskan memeluk Islam dan hidup membaur dengan masyarakat luar. Keputusan itu membawa banyak perubahan dalam hidup mereka, termasuk perjuangan panjang untuk bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.

Rojak bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara Patimah membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue keliling dari kampung ke kampung.

Tak ada kemewahan dalam hidup mereka. Yang ada hanyalah kesabaran, kerja keras, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti akan menemukan jalan keluarnya.

Dan hari itu, jalan keluar itu akhirnya datang.


Di depan para tamu yang hadir Manajer ZISWAF Kopsyah BMI Andi menjelaskan bahwa Patimah bukanlah anggota Kopsyah BMI. Namun kondisi kehidupan keluarga tersebut membuat anggota-anggota BMI di wilayah pelayanan Cabang Sajira tergerak untuk mengusulkan namanya sebagai penerima program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH).

Fatimah dan Rojak berfoto bersama di depan rumahnya sebelum dibongkar untuk dibangun kembali menjadi HRSH Kopsyah BMI.

“Ibu Patimah memang bukan anggota BMI. Tetapi semangat program HRSH adalah menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Ketika anggota melihat ada tetangganya hidup dalam kondisi memprihatinkan, mereka mengusulkan dan bergotong royong agar bisa dibantu melalui program sosial BMI,” ujar Andi.

Menurut Andi, keberadaan HRSH menjadi bukti bahwa koperasi tidak hanya bergerak di bidang simpan pinjam dan pembiayaan syariah, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan dan kepedulian sosial. “Kami ingin masyarakat merasakan bahwa koperasi hadir dengan hati nurani. Siapa pun yang membutuhkan dan memenuhi kriteria, baik anggota maupun non anggota, bisa merasakan manfaat dari semangat gotong royong yang dibangun anggota BMI,” tambahnya.

Dalam sambutannya, Sekretaris Kecamatan Muncang Mulyadi mengungkapkan bahwa pembangunan rumah untuk keluarga Patimah merupakan bentuk nyata kepedulian sosial yang sangat dibutuhkan masyarakat kecil.

“Kami mengapresiasi langkah Kopsyah BMI yang telah membantu warga kami. Program seperti ini sangat berarti karena langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Ciminyak Aditya Hendra. Menurutnya, apa yang dilakukan Kopsyah BMI bukan sekadar seremoni atau pencitraan sesaat.

“BMI tidak hanya datang, foto-foto lalu pergi tanpa kabar. BMI benar-benar hadir dan membangun. Masyarakat bisa melihat sendiri manfaatnya. Karena itu saya mengajak warga untuk menjadi anggota Kopsyah BMI,” katanya.

Direktur Utama Kopsyah BMI sekaligus Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara, mengatakan kisah Patimah dan Rojak mengingatkannya bahwa masih banyak masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan, tetapi tetap menjaga martabatnya dengan bekerja keras dan tidak bergantung kepada orang lain. Menurutnya, orang-orang seperti itulah yang layak mendapatkan perhatian dan dukungan bersama.

“Pak Rojak dan Ibu Patimah tidak memilih menyerah kepada keadaan. Di usia yang tidak lagi muda, mereka tetap bekerja, tetap berusaha, dan tetap bersabar menghadapi keterbatasan hidup. Nilai-nilai seperti inilah yang harus kita jaga dan dukung bersama,” ujarnya.

Kambara, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) lahir dari semangat gotong royong anggota Kopsyah BMI yang ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Baginya, koperasi tidak boleh hanya mengurus urusan ekonomi, tetapi juga harus mampu menjadi solusi atas persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

“Koperasi yang besar bukanlah koperasi yang sekadar memiliki aset besar. Koperasi yang besar adalah koperasi yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Ketika masih ada warga yang tinggal di rumah tidak layak huni, maka koperasi harus hadir menjadi bagian dari solusi,” katanya.

Kambara juga menegaskan bahwa bantuan HRSH tidak hanya diperuntukkan bagi anggota. Dalam banyak kesempatan, BMI juga membantu masyarakat non anggota yang benar-benar membutuhkan. Menurutnya, semangat tolong-menolong dalam Islam tidak mengenal sekat keanggotaan ketika ada saudara yang membutuhkan bantuan.

“Ibu Patimah bukan anggota BMI. Tetapi kemiskinan tidak pernah bertanya seseorang anggota atau bukan. Kesulitan hidup juga tidak memilih status. Karena itu, selama kami mampu membantu dan masyarakat benar-benar membutuhkan, maka BMI akan hadir. Inilah bentuk nyata pengamalan nilai kemanusiaan dan ajaran Islam tentang tolong-menolong dalam kebaikan,” tuturnya.

Menurut Kambara, kisah keluarga Patimah juga menunjukkan bahwa gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Berkat kepedulian anggota BMI dan warga sekitar, rumah yang sebelumnya rapuh dan nyaris tidak layak huni kini akan dibangun kembali menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.

“Kami percaya bahwa setiap sedekah, infak, dan kepedulian yang diberikan anggota tidak pernah sia-sia. Hari ini manfaatnya dirasakan oleh Ibu Patimah. Besok mungkin dirasakan oleh keluarga lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Inilah kekuatan gotong royong yang menjadi ruh koperasi,” jelasnya.

Di akhir keterangannya, Kambara berharap rumah baru yang akan dibangun dapat menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi Patimah dan Rojak. Ia juga berharap rumah tersebut menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan, kesehatan, dan keberkahan bagi keluarga mereka.

“Mudah-mudahan ketika rumah ini selesai dibangun, Pak Rojak dan Ibu Patimah dapat menjalani hari-harinya dengan lebih tenang. Tidak lagi khawatir saat hujan turun, tidak lagi cemas melihat rumah yang rapuh. Semoga rumah ini menjadi rumah yang penuh keberkahan dan menjadi bukti bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat kita,” pungkasnya.



Di tengah tepuk tangan dan doa yang mengiringi peletakan batu pertama, Patimah hanya tersenyum pelan.

Barangkali ia sedang membayangkan rumah baru yang akan berdiri di tempat rumah reyotnya sekarang.

Rumah yang lebih aman saat hujan turun.

Rumah yang lebih nyaman untuk menjalani hari tua bersama suaminya.

Rumah yang menjadi bukti bahwa harapan terkadang datang dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *