Terima Penghargaan Internasional. M.G Yasni: Indonesia Butuh Narasi Baik, The Sun Gazer Jadi Tontonan dan Tuntunan

Nasional

Kuala Lumpur, Klikbmi.com: Penulis novel sekaligus produser film The Sun Gazer, Muhammad Gunawan Yasni yang pada novel dan film The Sun Gazer diberi nama Mogayer Gamil Yahya (MGY) menegaskan bahwa Indonesia masih sangat membutuhkan hadirnya narasi-narasi baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesan itu ia sampaikan setelah karya novel dan filmnya, The Sun Gazer: Cinta dari Langit, meraih penghargaan Most Innovative Shari’a Compliant Financing Project 2025 pada ajang bergengsi Global Islamic Finance Awards (GIFA) di Kuala Lumpur, Malaysia. Penghargaan tersebut dihadiri lebih dari 400 tamu undangan dan 60 penghargaan fisik diberikan kepada yang dianggap layak dari berbagai negara di belahan dunia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Baca disini: https://klikbmi.com/film-the-sun-gazer-terima-penghargaan-internasional-dari-gifa-2025/

Menurut Yasni, film yang lahir dari kisah nyata ini bukan sekadar tontonan, melainkan membawa pesan moral dan spiritual yang kuat. “Negeri Indonesia ini masih sangat memerlukan narasi-narasi baik dalam kehidupan bernegara dan berbangsanya,” ujar Yasni. Baginya, karya sastra dan film harus mampu berfungsi sebagai cermin sekaligus tuntunan, bukan sekadar hiburan sesaat.

Sertifikat dan Tropy penghargaan sebagai Most Innovative Shari’a Compliant Financing Project 2025 oleh Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2025 Malaysia, 11 September 2025

Lebih jauh, Yasni mempertanyakan keadilan ruang bagi film dengan narasi yang membawa nilai kebajikan. Ia menyayangkan masih sedikitnya kesempatan yang diberikan untuk karya film yang menawarkan tuntunan kebaikan. “Apakah film dengan narasi yang sangat baik untuk negeri yang sedang tidak baik-baik saja ini tidak dapat diberi kesempatan yang lebih baik untuk dapat ditonton dan dijadikan tuntunan bagi khalayak penikmat film tanah air? Rasanya kok tidak fair bagi kebanyakan dari kita yang masih sangat menunggu film-film dengan narasi baik dari tanah air,” ungkapnya.

Baca juga: https://klikbmi.com/bersama-mgy-koperasi-bmi-group-warna-pictures-angkat-the-sun-gazer-hingga-ajang-bergengsi-gifa-2025-di-malaysia/

Pernyataan Yasni tersebut mencerminkan kritik tajam terhadap industri perfilman Indonesia yang menurutnya lebih sering memberi ruang besar bagi film hiburan komersial, sementara film dengan muatan nilai sosial, religius, dan ekonomi kerakyatan kerap terseok-seok dalam distribusi. Baginya, karya seperti The Sun Gazer seharusnya bisa mendapat dukungan lebih luas karena menawarkan alternatif tontonan yang sehat dan sarat pesan moral.

M.G Yasni (kanan) menerima Tropi penghargaan diatas panggung.

Meski begitu, Yasni menegaskan tekadnya untuk tetap melanjutkan perjuangan ini. Ia menyebut film The Sun Gazer akan terus diputar melalui jalur distribusi berbasis silaturahmi dan dakwah, misalnya lewat program nonton bareng yang digelar di berbagai daerah. “Semoga film ini terus dijadikan tontonan dan tuntunan baik ke depannya walaupun dengan upaya yang lebih kepada pemenuhan keperluan penonton-penonton narasi baik film ini secara mandiri,” tuturnya.

Menurut Yasni, keistimewaan The Sun Gazer terletak pada fondasi kisahnya yang nyata. Fakta tersebut, kata dia, membuat pesan yang dibawa lebih terasa dalam. Penonton tidak sekadar menyaksikan drama fiksi, melainkan potret kehidupan nyata yang dibingkai dalam nilai-nilai syariah muamalah. Inilah yang kemudian menjadi ciri khas karakter Mogayer Gamil Yahya, The Sun Gazer, sebagai representasi dari sosok yang menjadikan syariah sebagai jalan hidup (way of life).

Pengakuan dunia melalui GIFA 2025 menambah bobot pernyataan Yasni. Penghargaan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa film dengan pendekatan syariah, ekonomi kerakyatan, dan nilai dakwah memiliki tempat di panggung internasional. Pertanyaan kritis Yasni tentang fairness ruang apresiasi di tanah air kini menemukan relevansinya, karena justru dunia luar yang lebih dahulu memberi pengakuan terhadap karya anak bangsa tersebut.

Foto bersama dengan 60 penerima penghargaan dari berbagai negara

Dengan penghargaan ini, The Sun Gazer bukan hanya menambah deretan prestasi Indonesia di kancah global, tetapi juga menjadi momentum refleksi. Apakah industri perfilman nasional siap memberi ruang lebih besar bagi narasi yang membangun bangsa? Yasni telah meletakkan batu pijakan itu melalui film yang didanai sepenuhnya dengan akad syariah Koperasi BMI Group, diproduksi dengan standar profesional dari rumah produksi Warna Pictures, dan disebarkan dengan semangat dakwah.

The Sun Gazer “Cinta Dari Langit” pun hadir bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai tuntunan, film yang lahir dari iman, dibangun dengan syariah, dan diarahkan untuk menguatkan kehidupan sosial, ekonomi, serta spiritual masyarakat Indonesia. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *