HP Jadi Kunci Rezeki, Suhaeti Buktikan UKM Bisa Naik Kelas Bersama Koperasi BMI

Anggota Sukses

Serang, Klikbmi.com: Kemajuan teknologi tidak lagi hanya milik kota besar. Di pelosok desa pun, ponsel pintar kini menjadi penopang usaha kecil. Hal ini dibuktikan oleh Suhaeti (45), pedagang sayur dan gas LPG asal Kampung Mekar Sari, Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, yang berhasil meningkatkan usahanya setelah memanfaatkan pembiayaan HP melalui Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) Cabang Baros.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Sehari-hari, Suhaeti berjualan sayur dan gas LPG untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sang suami bekerja sebagai buruh, sementara ia mengandalkan dagangan untuk menopang biaya hidup dan pendidikan dua anaknya. Namun, usaha yang digelutinya sempat terkendala karena HP lama yang sering error dan membuat pesanan pelanggan tidak tercatat dengan baik.

“Kadang pesanan hilang atau tidak sempat dibalas, jadi pembeli pindah ke tempat lain,” kenang Suhaeti kepada Suryawan, Promotor Vivo di Rembug Pusat.

Situasi berubah ketika pada 2025 ia memberanikan diri mengambil pembiayaan melalui produk Mikro Multi Guna (MMG) cicilan HP merk Vivo di Koperasi BMI. Dengan cicilan ringan, proses pengajuan pembiayaan dan angsuran yang mudah, ia bisa memiliki ponsel canggih yang langsung menunjang aktivitas dagangnya.

Melalui HP barunya, kini pesanan sayur dan gas LPG bisa diterima dengan cepat via WhatsApp. Ia juga aktif mempromosikan dagangan melalui grup warga dan status, sehingga jangkauan pelanggan semakin luas. Hasilnya, omzet usahanya perlahan meningkat, dan pelanggan merasa lebih nyaman berbelanja karena komunikasi yang lancar.

“Alhamdulillah, sekarang HP bukan cuma buat komunikasi, tapi jadi kunci rezeki. Jangan takut nyicil HP untuk usaha, asal niatnya baik, insyaAllah membawa berkah,” ujar Suhaeti penuh semangat.

Suhaeti sendiri tercatat sebagai anggota Koperasi Syariah BMI sejak 18 September 2019, bergabung di Rembug Pusat Sungai Mahakam. Ia sudah menyelesaikan beberapa pembiayaan, di antaranya Mikro Tata Air (MTA) senilai Rp3,9 juta serta Mikro Mitra Usaha (MMU) berjenjang yang masing-masing bernilai Rp2 juta, Rp7 juta, dan Rp10 juta.

Kisah Suhaeti menjadi bukti nyata bahwa keberanian mengambil langkah baru, ditambah dukungan koperasi BMI, mampu mengubah cara UMKM berkembang. Dengan teknologi sederhana namun tepat guna, pelaku usaha mikro bisa naik kelas dan semakin berdaya. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *