Bogor, Klikbmi.com: Diskusi lanjutan dalam Focus Group Discussion (FGD) Pendirian Koperasi Sekolah Vokasi IPB yang digelar di IPB International Convention Center (IICC), Selasa (14/4/2026), mengerucut pada penguatan konsep pengembangan koperasi berkelanjutan melalui model kolaborasi lintas sektor.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara atau yang akrab disapa Kambara, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif melalui model ABCG (Academic, Business, Community, Government) sebagai fondasi utama dalam membangun koperasi yang adaptif dan berkelanjutan.

Menurut Kambara, peran akademisi tidak hanya terbatas pada penyediaan ilmu, tetapi juga harus terlibat aktif dalam riset model bisnis, inkubasi, hingga pendampingan koperasi. “Kampus mencetak pelaku, bukan hanya lulusan,” ujarnya, menegaskan pentingnya keterlibatan mahasiswa vokasi sebagai sumber daya manusia yang siap terjun langsung dalam operasional koperasi.
Dari sisi bisnis, Kambara menyoroti pentingnya kehadiran mitra sebagai offtaker dan pembuka akses distribusi. Ia menilai, koperasi tidak cukup hanya mampu memproduksi, tetapi harus memiliki kepastian pasar agar mampu berkembang secara berkelanjutan. “Tanpa market, koperasi tidak akan scale up,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komunitas merupakan fondasi utama koperasi, di mana anggota berperan sebagai pemilik, pengguna, sekaligus pengendali. Kepercayaan (trust) menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan koperasi. “Tanpa trust, koperasi tidak punya fondasi,” tambah Kambara.
Sementara itu, peran pemerintah dinilai krusial dalam menciptakan ekosistem yang mendukung, baik melalui regulasi yang adaptif, akses pembiayaan, maupun dukungan program pengembangan. Kambara menekankan bahwa regulasi seharusnya menjadi pendorong, bukan penghambat pertumbuhan koperasi.
Dalam implementasinya, Kambara juga menegaskan pentingnya model kolaborasi yang terstruktur dan terukur. Ia menyebut, seluruh pihak harus terlibat sejak awal dalam proses perencanaan (co-creation), disertai integrasi antara aspek bisnis dan kelembagaan, serta pemanfaatan teknologi berbasis data dalam pengelolaan koperasi.

“Kolaborasi tidak boleh hanya menjadi formalitas. Harus ada struktur, indikator kinerja bersama, dan fokus pada output, bukan sekadar kegiatan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kemandirian koperasi menjadi prinsip utama yang harus dijaga sejak awal pembentukan. Menurutnya, koperasi harus segera berdiri sebagai entitas independen agar tidak berhenti pada tataran wacana atau seremoni semata.
Menutup pemaparannya, Kambara menegaskan bahwa keberhasilan koperasi sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi anggota. “Maju mundurnya koperasi tergantung pada partisipasi anggota, baik sebagai pemilik, pengguna jasa, maupun pengendali,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Dekopinda Kabupaten Bogor, Pepi Januar menyampaikan bahwa koperasi merupakan pilihan tepat dalam mendukung konsep Teaching Factory di lingkungan pendidikan vokasi. Ia menilai koperasi memiliki landasan kuat sebagai amanat konstitusi sekaligus relevan dengan kebutuhan pendidikan modern.
Di sisi lain, praktisi koperasi Apendi Arsyad menyoroti pentingnya pemahaman ideologi koperasi yang berlandaskan nilai gotong royong dan keadilan. Ia mengingatkan agar koperasi yang dibangun tetap berpegang pada prinsip dasar, di mana anggota berperan sebagai pemilik sekaligus pengguna, serta menjauh dari praktik yang menyimpang dari nilai-nilai koperasi.

Diskusi ini mempertegas bahwa pengembangan koperasi di lingkungan Sekolah Vokasi IPB tidak hanya berorientasi pada pembentukan kelembagaan, tetapi juga pada pembangunan ekosistem yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berbasis nilai. (Nur/Humas)
