Lebak, Klikbmi.com: Setiap subuh, aroma masakan dan gorengan sudah menyeruak dari warung kecil di Kampung Dukuh, Desa Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Di balik kepulan asap dapur, Herni (43) dengan cekatan menyiapkan sarapan untuk para langganannya—mulai dari buruh tani hingga pegawai kantor desa yang mampir sebelum berangkat kerja.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!“Meskipun matahari belum naik, warung saya sudah buka,” ujarnya sambil tersenyum. “dari sinilah kami bisa makan.” kata Herni.
Suaminya, Aan Sudiyarna, membantu di dapur sambil mengurus anak-anak mereka yang berjumlah lima orang. Pasangan ini hidup sederhana namun penuh semangat. Selama bertahun-tahun mereka menumpang di rumah orang tuaHerni , hingga akhirnya muncul keinginan kuat untuk memiliki rumah sendiri.
“Awalnya kami tinggal di rumah orang tua. Tapi lama-lama tidak enak, apalagi anak sudah lima,” tutur Herni pelan. Dari rasa tak enak itulah muncul tekad untuk mandiri—punya rumah sendiri, meski penghasilan tak seberapa.
Pada Oktober 2024, Herni memberanikan diri mengajukan pembiayaan rumah tanpa uang muka (DP) kepada Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). Di saat banyak orang memilih kredit perumahan rakyat (KPR) hingga 15–20 tahun, Herni justru memilih tenor tiga tahun saja.
“Banyak yang heran,” kenangnya sambil tertawa kecil. “Mereka tanya, siapa yang berani ambil cicilan rumah cuma tiga tahun? Saya jawab: ini impian saya dan suami, pak. Saya ingin cepat lunas, biar tenang.”kata Herni

Aan pun mengamini tekad istrinya. Ia mengaku tidak ingin terus ‘terlena’ dengan kenyamanan tinggal di rumah mertua. “Saya ingin keluarga kami mandiri, punya tempat sendiri. Kopsyah BMI memberi jalan itu. Prosesnya mudah, dan benar-benar membantu kami yang punya usaha kecil,” ujarnya.
Bagi mereka, rumah baru bukan hanya bangunan, tetapi simbol kemandirian. Herni menilai, Kopsyah BMI bukan sekadar lembaga keuangan syariah, melainkan sahabat bagi rakyat kecil yang ingin naik kelas. “Kalau bukan karena koperasi, entah kapan kami punya rumah,” katanya sambil menatap dinding rumah barunya yang masih berbau semen.
Rumah bercat hijau muda seharga Rp117.500.000 itupun akhirnya terbangun kurang dari sebulan. Kini rumah sederhana itu berdiri di tanah mereka sendiri di Leuwidamar. Para tetangga sering datang berkunjung, kagum melihat bangunan yang kokoh berdiri.
“Banyak yang tanya, ‘Bu Herni caranya gimana bisa punya rumah ini?’ Saya jawab, jadi anggota Kopsyah BMI dulu,” ucap Herni tersenyum bangga.
Bagi warga sekitar, kisah Herni menjadi inspirasi bahwa lewat koperasi, mimpi bisa diwujudkan tanpa harus terjerat utang besar. Bagi Kopsyah BMI sendiri, kisah ini menegaskan bahwa ideologi kemandirian koperasi bukan sekadar slogan, tetapi hidup nyata di tengah masyarakat.

Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara, menjelaskan apa yang dilakukan Bu Herni dan suaminya mencerminkan semangat sejati gerakan koperasi. “Mereka tidak menunggu bantuan, tapi berani mengambil langkah mandiri dengan bergabung dalam koperasi. Inilah bentuk nyata self-help yang menjadi ruh Kopsyah BMI,” ujarnya.
Menurut pria yang akrab disapa Kambara , pembiayaan rumah tanpa DP ini merupakan bagian dari misi besar Kopsyah BMI untuk membumikan ideologi kemandirian dan keadilan sosial. “Kami ingin membuktikan bahwa koperasi bukan hanya bicara modal dan simpan pinjam, tetapi juga berbicara tentang martabat dan kesejahteraan hidup anggota,” katanya.
Ia menambahkan, keberanian Herni mengambil tenor tiga tahun justru sejalan dengan nilai yang selalu ditanamkan Kopsyah BMI—yakni keberanian untuk hidup lebih tangguh dan disiplin. “Kemandirian bukan sekadar berdiri sendiri, tapi berani memikul tanggung jawab atas pilihan hidup. Herni telah menunjukkan itu,” tutur Kamaruddin.
Kopsyah BMI, lanjutnya, tidak sekadar membantu membangun rumah fisik, melainkan menumbuhkan rumah spiritual dan sosial: tempat di mana keluarga anggota bisa tumbuh dalam ketenangan dan produktivitas. “Kami ingin setiap anggota merasa memiliki masa depan yang mereka bangun dengan tangan sendiri, bukan belas kasihan,” tambahnya.
Kambara menegaskan, kisah Herni adalah bukti bahwa koperasi syariah mampu menjadi lokomotif perubahan di akar rumput. “Ketika koperasi dikelola dengan nilai kemandirian, k, maka ia akan menjadi kekuatan besar yang menggerakkan ekonomi umat. Rumah Herni bukan sekadar bangunan, tapi simbol berdirinya kedaulatan ekonomi anggota,” pungkasnya.
Kini, setiap kali Herni menanak nasi di pagi hari, uapnya bukan sekadar tanda rezeki, tapi juga saksi perjuangan keluarga kecil yang menolak menyerah.
Dari dapur warung nasi hingga rumah barunya, terpatri pelajaran sederhana namun berharga: bahwa kemandirian yang dijalankan bersama koperasi bisa mengubah hidup siapa pun—asal ada tekad dan kebersamaan. (Togar/Humas)

MasyaAllah berkah berkah berkah
Anggota bisa hidup layak dan nyaman dengan senyum yang sumringah
Kopsyah BMI KEREEEEEEEENNNNNN😎