Tangis Bahagia Bu Sarem, Buruh Tani Asal Ciasem Subang Saat BMI Bangunkan Rumah Hibah Untuknya

BMI Corner


Subang, Klikbmi.com: Tangis Sarem pecah begitu map hijau itu dibuka. Tangannya gemetar, matanya basah. Surat di dalamnya ia baca berulang-ulang, seolah tak percaya pada kata-kata yang tercetak rapi: persetujuan pembangunan Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI).

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Perempuan berusia 67 tahun itu terduduk lama. Surat bertanda tangan Direktur Utama Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara, seakan menjadi penghapus getir yang selama ini menempel dalam hidupnya. Selasa, 23 Desember 2025, hari itu menjadi penanda baru bagi Sarem, hari ketika harapan benar-benar datang.

“Selamat ya, Bu. Rumah ibu akan dibangun ulang oleh Kopsyah BMI,” ujar Mahmud, Manajer Kopsyah BMI Cabang Ciasem, sambil menyerahkan surat tersebut.

Ia lalu menunjuk sebuah rumah lain di wilayah Ciasem, contoh rumah HRSH  yang telah lebih dulu berdiri di handphone-nya kepada Sarem. Dindingnya dari hebel bercat hijau, lantainya keramik, atapnya baja ringan, dilengkapi sanitasi yang layak. Rumah seperti itulah yang kelak akan ditempati Sarem dan suaminya, Nastem, di usia senja mereka.

Bu Sarem dan Pak Nastam berfoto di depan rumahnya.

Kabar itu cepat menyebar. Kebahagiaan tak hanya singgah di wajah Sarem, tetapi juga di mata para tetangganya. Mereka tahu betul bagaimana kehidupan pasangan lansia itu dijalani bertahun-tahun.

Sarem dan Nastem tinggal di sebuah rumah yang lebih pantas disebut gubukdaripada rumah , di Dusun Margatani RT 001 RW 003, Desa Ciasem Baru, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, JawaBarat Rumah itu berdiri rapuh, seolah menunggu waktu untuk menyerah.

Atap genteng tanah liatnya bergeser dan berlubang. Sinar matahari menembus celah-celahnya di siang hari, sementara hujan bebas menyusup di malam hari. Rangka atap dari kayu dan bambu telah menghitam dimakan usia, ditopang balok miring agar tak runtuh. Dindingnya campuran anyaman bambu dan bata merah tanpa plester sebagian ditambal terpal, karung bekas, dan plastik pudar.

Lantainya masih tanah dan semen kasar. Di dapur, tungku kayu bakar dari susunan batu menjadi saksi keseharian mereka. Perabot seadanya, bangku tua, meja usang, wajan besar, tampah tersusun menyesuaikan ruang sempit. Serambi depan menjadi tempat duduk sekaligus tempat melepas lelah, dengan bangku kayu yang mulai rapuh.

ruangan depan rumah Bu Sarem.

Rumah itu bukan sekadar bangunan renta. Ia adalah potret ketabahan. Tempat bertahan dari panas dan hujan. Tempat menua dalam kesederhanaan.

“Alhamdulillah… terima kasih banyak kepada Kopsyah BMI. Saya ini orang kecil, bukan anggota, tapi masih diperhatikan,” ujar Sarem lirih, menahan haru.

Sarem dan Nastem hanyalah buruh tani. Penghasilan datang saat musim tanam dan panen tiba, itu pun tak lebih dari Rp40 ribu per hari. Di luar musim, hidup mereka bergantung pada uluran tangan tetangga.

Mahmud menjelaskan, kondisi rumah Sarem sempat viral di media sosial Facebook. Informasi itu sampai ke Kopsyah BMI Cabang Ciasem. “Karena masih wilayah pelayanan kami, rumah ini kami ajukan untuk program HRSH. Alhamdulillah disetujui,” kata Mahmud.

Terpisah,Direktur Utama Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara, menegaskan bahwa program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) lahir dari kesadaran bahwa koperasi tidak boleh berhenti pada angka dan laporan keuangan semata. “Koperasi harus hadir di titik-titik paling penting  kehidupan masyarakat. Ketika ada rumah yang nyaris roboh, di situlah nurani koperasi diuji,” ujarnya.

kondisi dapur rumah Bu Sarem. asap dapur di sini akan mengebul saat Sarem dan Nastam menerima upah sebagai buruh tani.

Pria yang akrab disapa Kambara ini mengatakan, Sarem bukan penerima bantuan semata, melainkan pengingat. Pengingat bahwa masih banyak warga yang bertahan hidup dalam diam, tanpa suara, tanpa tuntutan. “Ibu Sarem tidak datang meminta. Justru di situlah kemuliaannya. Kewajiban kitalah untuk peka dan bergerak,” katanya.

Ia menambahkan, HRSH tidak dibangun dari dana besar satu orang, melainkan dari gotong royong kecil ratusan ribu  anggota BMI. “Dari infak mingguan yang mungkin nilainya kecil, tapi ketika dikumpulkan dengan niat yang sama, Allah hadirkan rumah yang layak untuk orang-orang yang selama ini hidup dalam keterbatasan,” tuturnya.

Kambara  menekankan bahwa penerima HRSH tidak harus anggota koperasi. “BMI tidak membatasi kebaikan dengan status keanggotaan. Selama ada kebutuhan nyata, selama ada penderitaan yang bisa diringankan, di situlah BMI harus berdiri,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Kambara  berharap rumah baru Sarem bukan hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga tempat lahirnya ketenangan. “Kami mohon doa dari Bu Sarem dan Pak Nastem. Doa orang-orang yang sabar menjalani hidup sering kali lebih cepat sampai ke langit. Semoga rumah ini menjadi saksi bahwa koperasi bisa menjadi wasilah  keberkahan,” pungkasnya.

Bagi Sarem, surat bermap hijau itu bukan sekadar kertas. Ia adalah bukti bahwa di usia senja, ketika harapan nyaris padam, masih ada tangan-tangan yang mau menyalakan kembali cahaya.

Para pembaca Klikbmi bisa membantu pembangunan HRSH Bu Sarem melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI Transfer ke BSI 7200320171 an. Benteng Mikro Indonesia. nomor Konfirmasi melalui 0811-8802-013. (Togar/humas)

Share on:

2 thoughts on “Tangis Bahagia Bu Sarem, Buruh Tani Asal Ciasem Subang Saat BMI Bangunkan Rumah Hibah Untuknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *