Pandeglang, Klikbmi.com: Di usia 83 tahun, langkah Isah mulai melemah. Namun perempuan sepuh asal Kampung Ranca Seneng, Desa Ranca Seneng, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang itu masih berjuang mencari nafkah demi bertahan hidup.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Setiap hari Selasa, Isah menjajakan kue ketan di pasar. Keuntungan yang dibawanya pulang tak seberapa. Kadang hanya sekitar Rp50 ribu dalam seminggu. Saat musim tanam tiba, ia bersama putrinya, Damini, ikut menjadi buruh tani demi menambah penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.
Di rumah tua yang sederhana itulah, ibu dan anak itu bertahan hidup.
Rumah mereka tampak sudah termakan usia. Dinding rumah dibuat dari anyaman bambu tua yang mulai kusam dan rapuh. Beberapa bagian terlihat renggang dan menghitam akibat lembap dan cuaca yang terus menggerus kekuatannya dari tahun ke tahun.
Atap rumah menggunakan lembaran asbes tua yang mulai melengkung di sejumlah sisi. Tepat di bagian atas rumah terlihat celah besar pada dinding segitiga atap yang pecah dan berlubang, membuat angin malam dan air hujan mudah masuk ke dalam rumah.

Kayu penyangga rumah pun tampak mulai lapuk. Tiang-tiang depan berdiri seadanya menopang teras kecil yang sederhana. Di samping teras terdapat bale bambu tempat penghuni biasa duduk dan beristirahat.
Halaman rumah masih berupa tanah keras yang retak-retak akibat panas dan cuaca kering. Meski jauh dari kata layak, rumah itu tetap menjadi tempat berteduh bagi Ibu Isah dan keluarganya menjalani hidup dalam keterbatasan.
Namun di tengah kondisi itu, Isah tetap menjalani hidup dengan sabar.
Rabu (20/5/2026), doa panjang perempuan sepuh itu akhirnya seperti menemukan jawabannya. Hari itu, acara peletakan batu pertama Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) untuk Isah digelar oleh Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI).
Kebahagiaan itu disaksikan perangkat kecamatan, aparat desa, TNI-Polri, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar yang ikut hadir di lokasi.
Hadir dalam kegiatan tersebut Sekcam Cikeusik Khamdan Pramana, PJ Kepala Desa Ade Suhendi, Babinsa Sarda Wasim, Kapolsek Cikeusik Iptu Dwi Hartanto, serta jajaran internal Kopsyah BMI seperti Manajer ZISWAF Andi, Manajer Regional Suhaemudin, Manajer Cabang Wanasalam Mashur Saleh, staf umum Mohamad Gofar, dan mitra konstruksi Opoy.

Rumah Isah akhirnya bisa dibangun berkat kepedulian anggota Rembug Pusat Murai dan anggota Kopsyah BMI wilayah pelayanan Cabang Wanasalam.
Dalam sambutannya, Manajer ZISWAF Kopsyah BMI Andi menjelaskan bahwa pembangunan HRSH merupakan bentuk nyata gotong royong dan kepedulian sosial anggota koperasi terhadap masyarakat kecil.
“Kami ingin koperasi tidak hanya hadir dalam urusan ekonomi, tetapi juga hadir membawa manfaat sosial. Ketika anggota saling peduli, maka keberkahan itu akan kembali kepada masyarakat yang membutuhkantermasuk yang bukan anggota BMI sekalipun,” ujarnya.
Sekcam Cikeusik Khamdan Pramana turut mengapresiasi langkah sosial Kopsyah BMI yang dinilai membantu pemerintah dalam mengurangi persoalan rumah tidak layak huni di masyarakat.
“Program seperti ini sangat membantu warga kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kopsyah BMI yang terus hadir membantu masyarakat kecil dan lansia yang membutuhkan perhatian,” katanya.
Sementara itu, PJ Kepala Desa Ranca Seneng Ade Suhendi menyebut pembangunan rumah untuk Isah menjadi bukti nyata pentingnya gotong royong dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Semoga rumah yang dibangun ini menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman bagi Ibu Isah dan keluarga. Ini menjadi contoh bahwa kepedulian sosial masih hidup di tengah masyarakat kita,” ujarnya.
Terpisah, Presiden Direktur Koperasi BMI Group sekaligus Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara mengatakan kisah hidup Isah menjadi pengingat bahwa masih banyak masyarakat kecil yang menjalani hari tua dalam keterbatasan, bahkan tinggal di rumah yang nyaris roboh tanpa pernah mengeluh kepada siapa pun.
“Ibu Isah ini bukan orang berada. Di usia 83 tahun beliau masih berjualan kue ketan demi bertahan hidup. Rumahnya lapuk dimakan usia, tetapi beliau tetap sabar menjalani kehidupan. Orang-orang seperti inilah yang sebenarnya harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kambara itu menegaskan, Kopsyah BMI ingin menghadirkan koperasi yang tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga menjadi gerakan sosial yang benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat kecil hingga pelosok desa.
“Kami ingin koperasi hadir dengan hati nurani. Ketika ada lansia tinggal di rumah bocor, janda hidup sendirian, atau masyarakat kecil yang kesulitan bertahan hidup, maka koperasi tidak boleh menutup mata. Koperasi harus datang membawa solusi dan harapan,” katanya.
Menurut Kambara, program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) lahir dari semangat gotong royong anggota melalui Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu (Gassiteru). Ia menyebut kekuatan sedekah kecil yang dilakukan secara istiqamah mampu mengubah hidup seseorang secara nyata.

“Bayangkan, dari infak seribu rupiah dan wakaf dua ribu rupiah yang dikumpulkan anggota setiap minggu, hari ini bisa berdiri rumah baru untuk Ibu Isah. Ini bukan soal besar kecil nominalnya, tetapi tentang keikhlasan dan kepedulian yang dikumpulkan bersama-sama,” tuturnya.
Kambara juga menegaskan bahwa bantuan sosial BMI tidak dibatasi hanya untuk anggota koperasi. Baginya, koperasi harus menjadi bagian dari solusi sosial bagi masyarakat luas, termasuk warga non anggota yang benar-benar membutuhkan bantuan.
“Ibu Isah bukan anggota BMI, tetapi kami percaya bahwa keberadaan koperasi harus memberi manfaat seluas-luasnya. Kalau ada masyarakat kecil yang membutuhkan pertolongan dan kita mampu membantu, maka di situlah koperasi menjalankan nilai kemanusiaannya,” jelasnya.
Ia berharap rumah baru yang akan dibangun nantinya bukan hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga menghadirkan ketenangan dan martabat hidup yang lebih baik bagi Isah dan keluarganya.
“Kami ingin di sisa usia beliau, Ibu Isah bisa tinggal di rumah yang aman, nyaman, tidak lagi takut kehujanan saat malam, tidak lagi khawatir rumah roboh. Mudah-mudahan rumah ini menjadi rumah penuh keberkahan dan menjadi bukti bahwa gotong royong masih hidup di tengah masyarakat kita,” pungkasnya.
Di usia yang sudah sangat senja, Ibu Isah mungkin tidak pernah membayangkan rumahnya yang rapuh akhirnya akan dibangun kembali.
