Klikbmi, Pandeglang– Raut bahagia terpancar di wajah Suhamah (49) pagi itu. Tangannya mengelus perlahan kursi roda baru yang berdiri di depan rumahnya di Kampung Gunung Tanggeran, Desa Baturanjang, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Bagi orang lain, kursi roda mungkin hanya alat bantu.
Namun bagi Suhamah, benda beroda itu seperti pintu yang kembali membuka dunia yang sempat tertutup.
Tiga bulan terakhir, hidupnya berubah. Kakinya patah saat bekerja di sawah di lereng Gunung Pulosari. Pagi itu, ia sedang membantu suaminya yang tengah mencangkul.
“Pas kejadian itu, kebetulan suami saya lagi ada di sawah juga. Jadi beliau yang bopong saya pulang,” kenangnya pelan.
Sejak saat itu, Suhamah hanya bisa duduk di rumah. Menatap halaman. Mendengar suara tetangga lalu lalang. Sesekali memandang jalan kecil menuju tempat berkumpul warga.
Tempat itu adalah rembug pusat Wonosobo, tempat para anggota Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) berkumpul setiap pekan.
Dan di sanalah rindu Suhamah bersemayam.
“Padahal mah kangen, Pak… pengen ke rembug pusat,” ujarnya lirih.
Kerinduan itulah yang akhirnya sampai ke telinga pengurus Kopsyah BMI. Rabu (4/3/2026), Manajer Cabang Cimanuk Irwan bersama Manajer Regional 03 Ahmad Mulyadi datang ke rumah Suhamah. Mereka tidak datang sendiri. Beberapa anggota Rembug Pusat Wonosobo ikut mendampingi.
Mereka membawa sesuatu yang membuat Suamahh tak kuasa menahan haru: sebuah kursi roda.
Irwan mengenal Suhamah bukan sekadar anggota biasa.
Menurutnya, Suhamah adalah anggota yang militan. Rajin hadir di rembug pusat. Disiplin menabung. Bahkan termasuk anggota dengan simpanan yang cukup besar di kelompoknya.
“Bu Suhamah ini anggota yang sangat aktif. Karena itu kami merasa perlu hadir membantu,” kata Irwan.
Kursi roda itu langsung dipakai.
Perlahan Suhamah duduk tegak di atasnya. Punggungnya bersandar pada sandaran hitam yang masih mengilap. Tangannya menggenggam ponsel sederhana. Seolah belum sepenuhnya percaya bahwa kursi roda itu kini benar-benar miliknya.
Sebelumnya, untuk sekadar bergerak saja ia harus dibopong suami atau anaknya.
Bahkan untuk berwudhu pun begitu.
“Kalau mau wudhu, saya harus digendong suami atau anak,” tuturnya.
Kini semuanya terasa lebih ringan.
Suhamah sehari-hari adalah ibu rumah tangga. Suaminya bekerja di sawah, sementara anaknya membuka usaha kecil-kecilan di rumah menyewakan PlayStation dan berjualan es serta jajanan.
Hidup mereka sederhana. Namun pagi itu terasa istimewa.
Suhamah berkali-kali mengucap syukur.
“Saya bersyukur bergabung di BMI bisa dibantu. Terima kasih banyak. Insya Allah nanti saya juga akan mengajak warga kampung bergabung di BMI,” katanya.
Desanya memang terpencil. Berada di ujung wilayah, di atas lereng Gunung Pulosari. Tidak banyak lembaga keuangan yang menjangkau daerah itu.
Namun hari itu, Suhamah merasa tidak sendirian.
Di halaman rumah sederhana itu, kursi roda baru berdiri seperti tanda kecil bahwa kepedulian bisa datang dari mana saja.
Dan bagi Suhamah, roda-roda kecil itu bukan hanya alat bantu berjalan.
Ia adalah harapan untuk kembali berkumpul di rembug pusat bersama teman-teman yang selama ini ia rindukan.
Terpisah, Direktur Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara mengatakan, bantuan kursi roda kepada Suhamah adalah bentu kehadiran koperasi yang tidak hanya hadir dalam urusan ekonomi, tetapi juga dalam urusan kemanusiaan.
“Bagi kami di BMI, koperasi bukan sekadar lembaga simpan pinjam. Koperasi adalah rumah besar bagi anggotanya. Ketika anggota mengalami kesulitan, koperasi harus hadir untuk meringankan beban itu,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kambara itu menjelaskan, semangat gotong royong menjadi fondasi utama gerakan koperasi BMI. Dari kebersamaan anggota itulah berbagai program sosial lahir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Di BMI, kami percaya bahwa kekuatan koperasi bukan hanya pada asetnya, tetapi pada kepedulian anggotanya. Ketika anggota saling peduli, maka koperasi akan menjadi kekuatan sosial yang nyata di tengah masyarakat,” katanya.
Menurutnya, perhatian terhadap anggota seperti Suhamah adalah bentuk penghormatan terhadap loyalitas anggota yang selama ini aktif dalam kegiatan koperasi.
“Bu Suhamah adalah contoh anggota yang setia. Beliau rajin hadir di rembug pusat dan disiplin menabung. Sudah sewajarnya koperasi juga hadir saat beliau membutuhkan bantuan,” tutur Kambara.
Ia berharap bantuan sederhana seperti kursi roda itu dapat memudahkan Suhamah menjalani aktivitas sehari-hari dan kembali berkumpul dengan anggota lainnya.
“Kami ingin anggota merasa bahwa koperasi benar-benar menjadi tempat mereka bersandar. Tidak hanya saat mereka menabung atau meminjam, tetapi juga ketika mereka membutuhkan perhatian dan kepedulian,” pungkasnya. (Togar/humas)
