Seribu Rupiah Jadi Rumah, HRSH Kopsyah BMI Ke-564 Untuk Jannati, Janda Pencari Kayu Asal Lebak

BMI Corner

Lebak,Klikbmi.com-Dari uang seribu rupiah yang disisihkan anggota setiap minggu , lahirlah harapan baru. Melalui Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu (Gassiteru)Rp1.000 untuk infak dan Rp2.000 untuk wakaf, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) membuktikan bahwa dari gotong royong kecil mampu menjelma menjadi rumah layak huni, bahkan bagi masyarakat yang bukan anggota koperasiBMI sekalipun.

Pagi itu hujan turun pelan di Kampung Gunung Barat, Desa Gunungkencana, Kabupaten Lebak. Bagi sebagian orang, hujan hanya cuaca. Tapi bagi Jannati, hujan pagi itu terasa seperti rahmat.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Di bawah tenda sederhana, perempuan 60-an tahun itu berdiri kaku. Matanya basah.Di depannya, pita hijau tergantung di depan rumah baru bercat hijau.

Rumah yang dulu hanya berani ia bayangkan dalam doa.kini hadir di depan mata

Kamis, 12 Februari 2026, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) menyerahkan Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) ke-564 untuk Jannati  seorang janda pencari kayu bakar.

Beberapa bulan lalu, rumah lamanya hampir roboh diterjang angin. Dinding kayu rapuh. Atap bocor. Lantai tanah yang selalu lembap saat hujan datang. Di rumah itu ia bertahan hidup. Di rumah itu pula ia menyimpan harapan.

Kini, semuanya berubah.

Lantai keramik. Dinding hebel kokoh. Dapur dengan kamar mandi dan WC. Hal-hal sederhana yang bagi banyak orang biasa saja, tapi bagi Jannati adalah kemewahan yang tak pernah ia minta hanya ia doakan.

Dan rumah itu…

Dibangun dari seribu rupiah.

Dari infak anggota Kopsyah BMI yang dikumpulkan setiap minggu melalui Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu Gassiteru.

Seribu rupiah untuk infak.

Dua ribu rupiah untuk wakaf.

Direktur Kepatuhan dan Risiko Kopsyah BMI Agus Suherman yang hadir mewakili Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara mengatakan, inilah wajah koperasi yang sebenarnya.

Jannati berfoto di depan rumah sebelumnya (kiri) Jannati (memegang kunci emas) menunggu pemotongan pita penyerahan HRSH Kopsyah BMI ke-564 untuknya(kanan).

“Koperasi bukan hanya soal simpan pinjam. Koperasi adalah rumah besar yang menampung kebutuhan masyarakat. Hari ini, Bu Jannati yang bukan anggota pun bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Bagi BMI, gotong royong bukan slogan. Tapi sistem yanghidup .

Dari infak kecil yang dikumpulkan rutin, BMI mampumelayani anggota dengan 11 armada ambulans ggratis , sanitasi dhuafa, sanitasi masjid dan makam, santunan anak yatim, hingga rumah layak bagi mereka yang hampir kehilangan segalanya.

Dan di Gunungkencana pagi itu, gotong royong itu berdiri nyata dalam bentuk rumah.

Pemerintah desa melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda.

Sekretaris Desa Gunungkencana Ahmad mengatakan, banyak lembaga keuangan datang. Tapi BMI datang dengan pendekatan kemanusiaan.

“BMI  intens koordinasi. Dari awal pembangunan sampai selesai. Kami merasa benar-benar diajak bersama,” katanya.

Perwakilan Dinas Koperasi Provinsi Banten, Masummudin, menyebut HRSH sebagai program yang tidak dimiliki semua koperasi.

Direktur Kepatuhan dan Risiko Kopsyah BMI Agus Suherman

“Apalagi ini menjelang Ramadhan. Bu Jannati mendapatkan rumah baru. Ini bukan hanya bantuan, tapi harapan,” ujarnya.

Di sudut rumah barunya, Jannati dipeluk para tetangganya .

Tangannya menyentuh dinding yang masih baru.

Matanya menatap lantai keramik yang bersih.

Rumah itu bukan sekadar bangunan.

Itu adalah bukti bahwa kebaikan, jika dikumpulkan bersama, bisa mengubah hidup seseorang.

Dan dari seribu rupiah yang disisihkan dengan ikhlas, lahirlah sesuatu yang jauh lebih besar dari angka. (Togar/Humas)

Pemotongan pita penyerahan HRSH ke-546.
Foto bersama di dalam rumah HRSH Kopsyah BMI Ke-564
Share on:

1 thought on “Seribu Rupiah Jadi Rumah, HRSH Kopsyah BMI Ke-564 Untuk Jannati, Janda Pencari Kayu Asal Lebak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *