Bogor Klikbmi.com– Rimah (62 tahun ) tak pernah benar-benar yakin bahwa mimpinya punya rumah layak bisa terwujud. Tapi hari ini, Selasa, 22 Juli 2025, air matanya tak mampu dibendung saat berdiri di depan rumah barunya—rumah yang datang tanpa cicilan dan tanpa syarat. Sebuah rumah yang diserahkan langsung oleh Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI), melalui program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) Gratis. Rumah untuk Rimah merupakan HRSH unit ke-538.

“Alhamdulillah, Saya tidak menyangka melalui Kopsyah BMI, Allah menjawab doa-doa saya,” ujar Rimah pelan, seraya terus mengusap sudut matanya yang basah. “Rumah ini jauh lebih bagus dari yang dulu.” ucapnya.
Rimah adalah janda tua yang tinggal di Kampung Iwul, RT 003/RW 004, Desa Bojongsempu, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Selama ini, ia bergantung hidup dari dua putranya—yang satu buruh pembuat golok, satunya lagi pekerja serabutan. Keduanya juga belum selesai berjuang menafkahi keluarganya masing-masing.

Kehidupan Rimah berubah sejak Juni lalu, ketika tim survei dari Kopsyah BMI mendatangi rumah reyotnya. Tak lama setelah itu, rumah lamanya dibongkar, dan dalam tempo kurang dari sebulan, bangunan baru berdiri di atasnya—dengan tembok kokoh berdinding hebel, atap rapi berangka baja ringan, dan lantai yang tak lagi becek karena sudah dilapisi keramik.
Penyerahan rumah hibah ini dihadiri Direktur SDM Kopsyah BMI, Akhmad Jauhari yang mewakili presiden direktur Koperasi BMI group Kamaruddin Batubara, dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa program HRSH untuk Rimah berasal infak Rp1.000 anggota Koperasi BMI lewat semangat Al-Maidah ayat 2 – bergotong royong dalam kebaikan yang menjadi jiwa Koperasi BMI.
“HRSH menjadi bukti bahwa jika koperasi dikelola dengan baik dan semangat gotong royong anggotanya, koperasi akan memberikan manfaat bagi anggota dan masyarakat,” ujar Jauhari yang hadir didampingi Manajer Kopsyah BMI Cabang Parung Siti Zulfah.

Namun, HRSH bukan satu-satunya buah dari hebatnya partisipasi anggota Koperasi BMI. Jauhari menyebut sejumlah program sosial lainnya yang berjalan secara aktif seperti layanan ambulans gratis dengan 11 armada lengkap sopir, BBM, dan e-toll yang kesemuanya ditanggung BMI. Kemudian sarana fisik lainnya seperti program Sanitasi Dhuafa, Sanimesra (sanitasi masjid, mushola, dan pesantren), Sanikam (sanitasi makam); lalu Gerakan Seribu Sajadah dan Al-Qur’an (Geser Dahan); khitanan massal; hingga santunan anak yatim.
“Semua ini tidak mungkin berjalan tanpa kontribusi para anggota,” ujar pria, yang akrab disapa Pak Jo tersebut.
Di sela sambutannya, Jo sempat menyelipkan undangan. Ia mengajak seluruh tamu yang hadir untuk menonton film terbaru produksi Koperasi BMI Group bersama Warna Pictures berjudul The Sun Gazer: Cinta dari Langit, yang akan tayang perdana pada 21 Agustus 2025 di bioskop seluruh Indonesia.

“Film ini bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Tentang membangun keluarga harmonis, dan juga memperkenalkan ekonomi syariah dengan cara yang menghibur,” katanya.
Sementara itu, canda segar datang dari sang MC acara, Andi, yang juga Manajer ZISWAF Kopsyah BMI. Melihat wajah Rimah yang bersinar bahagia, ia berseloroh, “Bu Rimah sekarang mirip gadis 16 tahun, wajahnya cerah karena dapat rumah baru.”
Di balik suasana gembira itu, hadir pula Camat Parung, Adi Nugraha dan Kades Bojong Sempu Pitung Abdurrahman. Adi Nugraha memberi apresiasi tinggi. Ia menyebut program HRSH sebagai kontribusi nyata koperasi dalam menyokong tugas Pemkab Bogor—mengentaskan rumah tak layak huni.
“Infak seribu rupiah bisa menghasilkan rumah. Ini bukti betapa dahsyatnya kekuatan infak. Terima kasih kepada anggota BMI yang membantu Pemkab Bogor,” kata Adi.

Senada dengan itu, Kepala Desa Bojong Sempu, Pitung Abdurrahman, menyarankan warganya agar bergabung dengan koperasi BMI.
“Kalau yang bukan anggota saja dibantu, apalagi yang jadi anggota. Jadi anggota BMI itu bukan cuma soal simpan pinjam saja, tapi juga keberkahan,” ucapnya tegas.
Dan di antara doa yang pelan-pelan naik ke langit, sebuah rumah—lahir dari infak Rp1.000 , cinta, dan gotong royong—telah turun perlahan ke bumi, menjejak di tanah Parung.( Togar/Humas).
