BMT NU Ngasem Luncurkan Program Tabungan Nonton Film The Sun Gazer “Cinta Dari Langit”

Nasional UMKM

Dorong Edukasi Anggota, Presiden Direktur BMT NU Ngasem: Tabungan Nonton Adalah Investasi Kesadaran Anggota Koperasi

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Bojonegoro, klikbmi.com:Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap film The Sun Gazer: Cinta dari Langit, Holding Koperasi BMT NU Ngasem membuka program tabungan khusus bagi anggota dan pengelola koperasi untuk menonton film tersebut. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk memperluas jangkauan edukasi koperasi kepada generasi muda serta memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya gerakan ekonomi berbasis kebersamaan.

Baca juga: BMT NU Ngasem Dukung Penuh Pemutaran Film The Sun Gazer: Cinta dari Langit, https://klikbmi.com/bmt-nu-ngasem-dukung-penuh-pemutaran-film-the-sun-gazer-cinta-dari-langit/

Kepada redaksi klik BMI, Presiden Direktur BMT NU Ngasem, Moh. Wahyudi, menegaskan bahwa kepentingan di balik program ini bukan semata untuk BMT NU Ngasem, melainkan untuk masa depan koperasi secara nasional. “Ini bukan soal teman, bukan soal BMT atau BMI saja. Ini soal masa depan gerakan koperasi. Film ini harus sukses, harus ditonton banyak orang, dan harus menjadi sejarah baru. Karena ketika ini viral, koperasi akan diperhitungkan di pentas nasional bahkan internasional,” ungkapnya.

Sosok Moh Wahyudi, Presiden Direktur Holding Koperasi BMT NU Ngasem Jawa Timur yang mendukung film The Sun Gazer: Cinta Dari Langit

Program tabungan yang dibuka bersifat fleksibel, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota sebagai antisipasi kebutuhan dana terhadap transportasi mengingat lokasi Anggota yang jauh dari Bioskop. “Intinya nabung dulu. Kalau lebih bisa buat transport, kalau kurang tinggal ditambah sedikit. Kami sedang menunggu kejelasan di mana film ini akan diputar. Kalau bisa di Bojonegoro, lebih efisien karena dekat. Tapi kalau harus ke Ngawi atau Surabaya, tentu ada biaya tambahan dan kami perhitungkan lewat program tabungan ini,” jelas Wahyudi.

Meski hingga akhir Juli ini belum ada kepastian terkait bioskop mana saja yang akan menayangkan film tersebut di wilayah Bojonegoro karena tayang perdana baru dimulai 21 Agustus 2025. Padahal kepastian lokasi sangat penting untuk menyusun kalkulasi biaya transportasi dan logistik yang akan menggerakkan pengelola maupun anggota koperasi. Moh Wahyudi tidak kehabisan ide mengantisipasi kemungkinan akan kelokasi yang jauh untuk demi dapat menonton film The Sun Gazer: Cinta Dari Langit. Meski jarak bioskop terdekat di Surabaya adalah 125 km dengan jarak tempuh 3 jam, Ia mengaku semangat mendorong karyawan dan Anggota untuk menonton film ini.

Lebih lanjut, Wahyudi mengusulkan agar Koperasi BMI Group sebagai produser film menginisiasi pertemuan daring (Zoom Meeting) dengan berbagai koperasi di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah menyamakan visi bahwa The Sun Gazer adalah agenda kolektif koperasi, bukan milik satu entitas semata. “Kalau ini berhasil, koperasi-koperasi lain akan percaya diri menggarap proyek-proyek besar, bahkan sektor kreatif yang selama ini dikuasai perusahaan raksasa. Maka edukasi dan konsolidasi lintas koperasi sangat penting,” ujarnya.

Terkait sasaran penonton, Wahyudi menyampaikan bahwa selain pengelola yang diwajibkan menonton, prioritas juga diberikan kepada anggota koperasi dari kalangan muda seperti siswa SMA dan mahasiswa. “Anak-anak muda ini yang akan menjadi masa depan koperasi. Mereka harus kita tanamkan nilai-nilai ekonomi syariah dan kebersamaan melalui medium yang mereka sukai, yaitu film,” tambahnya.

Dengan berbagai langkah ini, BMT NU Ngasem berharap The Sun Gazer: Cinta dari Langit bukan hanya menjadi tontonan, tetapi gerakan. Sebuah gerakan kolektif untuk memposisikan koperasi sebagai kekuatan ekonomi rakyat yang relevan, berani, dan mampu menembus batas-batas konvensional. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *