Karyawan Pertama yang Kini Menjadi Direktur di Koperasi Syariah BMI, Siapa Dia?

Serba Serbi

Tangerang, Klikbmi.com: Tahun 2003 menjadi awal perjalanan karier seorang pria kelahiran Pekayon – Tangerang di lembaga yang saat itu bernama LPP UMKM (Lembaga Pembiayaan Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah), cikal bakal dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). LPP UMKM didirikan pada tahun 2002 oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang dan Layanan Sumberdaya Informasi – Institut Pertanian Bogor (LSI-IPB). Kamaruddin Batubara Presiden Direktur Koperasi BMI Group dan Radius Usman Direktur Utama Koperasi Konsumen BMI saat itu adalah konsultan pembentukan LPP UMKM yang kemudian berlanjut menjadi pekerja. Saat itu, Mereka berdua membutuhkan tambahan tenaga kerja dan membuka informasi lowongan kerja secara terbuka. Terdapat sebelas orang yang melamar bekerja, dan Pria Bernama Sondari adalah pelamar ke-10. Dari seluruh pelamar, hanya satu orang yang diterima, dialah Sondari.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Padahal sebelumnya, ia sempat tiga kali menolak permintaan orang tuanya untuk mengantarkan surat lamaran kerja karena masih mengajar Pramuka di sekolah. Namun akhirnya, karena tidak ingin mengecewakan ibunya, ia memutuskan untuk mengikuti seleksi. “Saya tertarik waktu itu karena ingin membuktikan tantangan saja. Saya belum tahu bentuk dan model lembaganya. Tapi karena ibu saya menyuruh melamar, akhirnya saya ikuti tes. Kalau lulus saya jalani, kalau tidak ya tidak apa-apa,” kenangnya.

Sondari (kemeja biru muda) duduk paling depan, kedua dari kiri sedang mengikuti Pertemuan Umum (PU), “nunduk karena mikirin saat itu mau dimutasi dari Sukadiri ke Teluknaga” candanya kepada redaksi klikbmi

Sondari menjelaskan, saat itu LPP UMKM baru dibuka di 2 desa, salah satunya adalah Desa Pekayon, tempat tinggal Sondari. Ibunya merupakan nasabah dari Rembug Pusat (RP) pertama di Pekayon, Tangerang, dengan nomor Rembug Pusat RP0001 dengan nama RP Melati. Itulah awal perkenalannya dengan lembaga yang kini telah tumbuh menjadi Koperasi BMI Group.

Sondari masih mengingat jelas momen wawancara pertamanya. Ia datang terlalu pagi ke kantor dan disambut oleh Radius, sebelum akhirnya diarahkan ke Kamaruddin Batubara yang kini akrab disapa Kambara, untuk wawancara. Salah satu kalimat yang masih diingatnya hingga kini adalah ketika Kambara bertanya “Kamu tahu tidak, bank keliling itu merajalela di masyarakat? Dan apa manfaatnya bagi masyarakat?”

Sondari menjawab polos, “Bank keliling itu membantu orang-orang yang kesulitan ingin mendapatkan modal karena pencairannya cepat.”

Namun setelah diterima bekerja dan menjalani pelatihan, ia baru memahami bahwa kehadiran LPP UMKM justru untuk memberantas praktik bank keliling di masyarakat. Dari situ, Sondari mulai memahami makna dan tujuan keberadaan lembaga ini sebagai solusi keuangan yang adil bagi masyarakat kecil.

Sebagai petugas lapangan, tantangan terbesar Sondari di awal bukanlah pekerjaan, tetapi rasa malu. Wilayah yang ia layani berada di kampung halamannya sendiri, sementara dirinya terbiasa bergaul di luar lingkungan tempat tinggal.

“Saya malu luar biasa. Walau saya warga lokal, tapi gaya bahasa saya berbeda. Saya berusaha menyesuaikan agar terlihat lebih profesional,” tuturnya.

Perlahan, Sondari mulai menyesuaikan diri. Ibu-ibu Nasabah LPP UMKM pun semakin akrab dan menghargai kehadirannya. Kendala teknis lain yang ia hadapi adalah tidak memiliki kendaraan. “Saya tidak punya motor, jadi sering pinjam ke abang ipar atau tetangga. Setelah bekerja, akhirnya saya berani kredit motor, pinjam uang dulu untuk DP-nya,” kenangnya sambil tersenyum.

Sondari bersama motor yang ia beli nyicil setelah bekerja di LPP UMKM, cikal bakal Koperasi Syariah BMI.

Kini, lebih dari dua dekade Sondari bekerja di Koperasi BMI, perubahan terbesar yang dirasakan Sondari adalah pembentukan karakter.

“Karakter saya dibentuk di sini. Dari yang paling luar sampai inti dalam diri. Para pimpinan seperti Pak Kambara dan Pak Radius membimbing kami bukan hanya untuk mengejar target, tapi untuk membangun karakter,” jelasnya.

Proses panjang itu membuatnya memahami nilai-nilai kerja sama, tanggung jawab, dan integritas yang kini menjadi dasar seluruh aktivitasnya di koperasi BMI.

Setelah lebih dari 20 tahun berkarier, yaitu Koperasi BMI, Sondari dipercaya menjadi Direktur Operasional Kopsyah BMI. Jabatan ini ia jalani dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur.

“Operasional itu motor penggerak organisasi. Bagaimana caranya semua kegiatan berjalan lancar sesuai aturan. Mudah-mudahan saya bisa terus amanah dan bermanfaat bagi Kopsyah BMI,” ujarnya.

Sondari mengaku rahasia bertahan selama lebih dari dua puluh tahun, Koperasi BMI adalah satu-satunya tempat ia bekerja sejak lulus SMA. “Saya belum pernah bekerja di tempat lain. Saya diterima di sini langsung setelah lulus sekolah,” katanya.

Semangatnya tidak pernah padam karena ia merasa selalu mendapatkan ruang untuk tumbuh. “Di BMI ini, saya tidak hanya bekerja tapi juga mendapatkan pembinaan karakter. Lingkungannya positif, rekan kerja saling mendukung, dan pimpinan menanamkan nilai kerja sama serta kejujuran,” tuturnya.

Budaya positif itu membuat rasa jenuh tidak pernah lama singgah. “Melihat teman-teman semangat meniti karier saja sudah cukup membuat kita ikut bersemangat,” tambahnya.

Sondari adalah lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Tangerang tahun 2018, 15 tahun setelah ia mulai bekerja di Koperasi BMI. Kini, ia juga tengah menempuh pendidikan Magister Manajemen di kampus yang sama.

Perjalanan itu tidak mudah. Ia hampir tidak melanjutkan sekolah menengah karena keterbatasan biaya. Namun semangatnya untuk belajar membuatnya tetap melangkah. “Saya memanen sayur keluarga untuk mendapatkan uang dan diam-diam mendaftar ke SMA bersama dua sahabat saya, Makhrus dan Agus Suherman. Kini, mereka juga bekerja di Koperasi BMI,” kisahnya.

Sondari kini diruang kerjanya sebagai Direktur Operasional Koperasi Syariah BMI.

Saat ditanya tim redaksi klikbmi apa pesan Sondari bila bisa berbicara dengan dirinya yang baru lulus SMA, Sondari ingin mengatakan satu hal: “Buru-buru berbakti.”

“Jangan sia-siakan masa muda dengan hal yang tidak penting. Gunakan waktu untuk belajar, bekerja, dan membahagiakan orang tua. Kalau bekerja, jangan meremehkan hasilnya sekecil apa pun,” pesannya.

Lebih lanjut, Kepada generasi muda, Sondari berpesan untuk selalu bersyukur dan menjaga integritas.

“Masih banyak orang yang mencari kerja. Kalau kamu sudah diterima, syukuri dan lakukan dengan penuh tanggung jawab. Perbaiki kemampuan teknis dan manajerial. Kalau kamu berintegritas, levelmu akan naik, seperti bau durian yang menyebar ke mana-mana, banyak yang mencari,” ujarnya menutup percakapan.

Kisah hidup Sondari adalah potret ketulusan dan kesetiaan. Dari pelamar ke-10 yang dulu ragu, kini ia menjadi penggerak utama di Koperasi BMI. Dua puluh tahun pengabdian bukan hanya tentang karier, melainkan perjalanan membangun karakter, mengabdi kepada masyarakat, dan menebar manfaat bagi sesama. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *