CilegonKlikbmi.com-Pagi yang cerah itu, teras rumah Mustamil di Kelurahan Karang Asem, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, mendadak ramai. Belasan ibu-ibu duduk melingkar, sebagian bersandar di dinding, sebagian lagi menggenggam buku simpanan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Bukan pengajian .
Bukan pula ceramah dari ustaz.
Namun, dari tempat sederhana itu, lahir pesan yang terasa lebih dekat,karena disampaikan oleh tetangga sendiri.
Selasa (7/4/2026), anggota Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) Rembug Pusat 009 Dahlia berkumpul dalam agenda rutin rembug bersama staf lapang dan Manajer Cabang Cibeber, Saepudin.
Siapa sangka, rembug yang kini kembali hidup itu pernah berada di titik hampir hilang.
Beberapa waktu lalu, Rembug Pusat Dahlia nyaris bubar. Dari puluhan anggota, hanya dua orang yang masih bertahan datang ke pertemuan. Aktivitas rembug sempat meredup, bahkan hampir tak terdengar lagi.
Namun perlahan, semangat itu kembali dinyalakan.
Melalui program Gebyar Rembug Pusat Ceria (GRPC), anggota mulai berkumpul kembali. Dari yang semula hanya dua orang, perlahan bertambah menjadi delapan dari total 23 anggota.
Tidak berhenti di sana, upaya penguatan terus dilakukan melalui Latihan Wajib Kumpulan (LWK). Dari proses itu, rembug kembali hidup. Kini, sebanyak 14 anggota aktif kembali berkumpul dan mengakses pembiayaan.
Lebih dari itu, pembiayaan yang berjalan pun kembali lancar—buah dari kedisiplinan dan kebersamaan yang mulai tumbuh lagi.
Di sesi penutup, Saepudin mempersilakan Mustamil untuk berbicara.
Mustamil bukan ustaz. Ia hanya seorang Ketua RT. Tapi kepeduliannya terhadap koperasi dan warganya membuat ia berdiri di depan anggota, menyampaikan sesuatu yang sederhana, namun menyentuh inti kehidupan.
Tentang utang.
Tentang amanah.
“ Bahwa sekecil apapun utang kita. Kita harus tanggung jawab, apalagi yang besar karena setiap pengambilan (mengakses pembiayaan-red) itu ada tanggung jawabnya,”
Kalimat itu meluncur pelan. Tidak panjang. Tidak berapi-api. Tapi cukup untuk membuat suasana berubah hening.
Mustamil lalu mengingatkan bahwa utang dalam Islam bukan sekadar urusan dunia. Ia berkaitan dengan keadilan dan pertanggungjawaban hingga akhirat. Menunda pembayaran padahal mampu adalah kezaliman. Bahkan, utang yang belum lunas bisa menjadi beban setelah seseorang wafat.
Ia kemudian menukil sabda Rasulullah SAW:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bagi Mustamil, hadis itu bukan hanya soal jabatan. Tapi tentang bagaimana seseorang memimpin dirinya sendiri, termasuk dalam menjaga amanah atas utang yang ia ambil.
Di hadapan anggota Rembug Pusat Dahlia, ia mengaitkan pesan itu dengan kepercayaan yang diberikan oleh Kopsyah BMI kepada anggotanya.

Bahwa setiap pembiayaan adalah amanah.
Bahwa setiap rupiah yang diterima harus dipertanggungjawabkan.
“Sehingga saat sesorang wafat, para keluarga ahli waris bersiap untuk melunasi utang piutang almarhum agar tak menjadi beban. “ Makanya sering di sampaikan para ustad di saat jenazah akan dimakamkan , bagi siapapun yang punya utang untuk menghubungi ahli warisnya jadi bagi ahli waris menjadi tanggung jawabnya untuk melunasi utang tersebut, biar apa, biar orang tuanya bebas dari api neraka, maka harus kita usahakan,” kata Mustamil.
Angin pagi berembus pelan. Beberapa anggota tampak menunduk, merenung. Tidak ada yang merasa digurui. Karena yang berbicara adalah orang yang mereka kenal yang hidup bersama mereka setiap hari.
Di akhir sambutannya, Mustamil menutup dengan doa sederhana.
“mudah-mudahan Perkumpulan kita ini dijadikan sebagai ladang pahala . Amin. Dan mudah-mudahan semua yang ada pinjaman di BMI,dilancarkan rezekinya, sehingga tiap minggu bisa dibayar. Amin. dimanapun kita melangkah disitulah rezeki pasti ada karena rezeki kita itu sudah digariskan sudah dicatat oleh Allah nanti jam sekian akan mendapatkan rezeki sekian jalan jam sekian dapat sekian itu udah garisannya udah ada mungkin itu aja yang bisa sampaikan kurang lebihnya mohon maaf,” tutup Mustamil.

Pesan tentang amanah itu juga sejalan dengan yang disampaikan Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara. Ia menegaskan bahwa pembiayaan dalam koperasi bukan sekadar transaksi keuangan, melainkan kepercayaan yang harus dijaga.
“Setiap rupiah yang diakses anggota itu adalah amanah. Bukan hanya kepada koperasi, tapi juga kepada Allah SWT. Karena itu harus dijaga dengan niat yang benar dan tanggung jawab yang sungguh-sungguh,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kambara itu menekankan bahwa koperasi dibangun di atas nilai kejujuran dan kedisiplinan. Menurutnya, keberkahan usaha anggota sangat bergantung pada bagaimana mereka menjaga amanah tersebut.
“Kalau anggota jujur dan disiplin, insyaAllah usahanya akan tumbuh. Tapi kalau amanah ini diabaikan, maka bukan hanya koperasi yang terdampak, tapi juga kehidupan anggota itu sendiri,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam Islam, utang bukan perkara ringan. Karena itu, setiap anggota harus memiliki niat kuat untuk melunasi sejak awal mengambil pembiayaan.
“Orang yang berutang dengan niat ingin membayar, Allah akan mudahkan jalannya. Tapi kalau sejak awal tidak punya niat, itu yang berbahaya,” tegasnya.
Kambara berharap, forum-forum kecil seperti rembug pusat tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang penguatan nilai.
“Di sinilah koperasi hidup. Bukan hanya di kantor, tapi di pertemuan-pertemuan seperti ini. Ketika anggota saling mengingatkan, saling mendoakan, di situlah keberkahan koperasi tumbuh,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh anggota untuk menjaga semangat kebersamaan dalam koperasi.
“Koperasi ini milik kita bersama. Kalau kita jaga dengan amanah, maka manfaatnya akan kembali kepada kita semua, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat,” pungkasnya.
Pagi itu, di teras rumah seorang RT, koperasi tidak hanya bicara soal angka.
Ia bicara tentang amanah.
Tentang kejujuran.
Dan tentang bagaimana manusia menjaga tanggung jawabnya bukan hanya di dunia, tapi juga di hadapan Tuhannya.(Togar/Humas)
