Cirebon, Klikbmi.com– Kayla Tanisha, bocah Perempuan dua tahun itu, tampak riang mendorong kursi roda ke halaman rumah. Roda itu berderit pelan di atas lantai semen yang lembab. Di atas kursi, duduk sang kakak, Nabil Cahya Pratama, 8 tahun, tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia bisa keluar rumah tanpa digendong ibunya. “Kayla senang sekali, dia pikir kursi itu mainan baru,” kata Siti Solikha (26), ibunda Nabil, sambil tertawa kecil. Tapi matanya berkaca. “Saya tahu, kursi ini bukan mainan. Ini kaki baru buat Nabil.”
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Rabu, 29 Oktober 2025, menjadi hari yang tak biasa di rumah kecil mereka di Kelurahan Depok, Kecamatan Depok, Kota Cirebon. Di siang itu, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) menyerahkan satu unit kursi roda untuk Nabil, bocah yang sejak usia satu tahun kehilangan kemampuan berjalan karena demam tinggi. “Pengakuan dokter, saraf motoriknya rusak akibat panas tinggi,” tutur Siti lirih. Sejak itu, setiap hari ia merawat Nabil, dari memandikan, memberi makan, hingga membopong anaknya ke kasur. “Kalau saya tanya apa keinginannya, jawabannya selalu sama,” ucap Siti, menunduk. “Nabil pengin bisa main bola.”
Ayahnya, Tomi (28), bekerja sebagai satpam di sebuah perumahan, sementara Siti berjualan nasi kuning dan gorengan di depan rumah. Dari dapur sempit dan tangan yang selalu basah oleh minyak dan bumbu dapur, keluarga kecil itu bertahan hidup. Di antara aroma gorengan dan suara kendaraan, mereka membangun harapan sederhana tapi tak pernah padam.
Penyerahan kursi roda dilakukan oleh Ahmad Bustomi, Asisten Manajer Kopsyah BMI Cabang Weru, disaksikan Ketua RT dan anggota koperasi setempat. Tak ada seremoni, tak ada panggung. Hanya doa singkat, senyum, dan tangis ibu Nabil Siti Solikha. Perempuan 26 tahun itu adalah anggota Kopsyah BMI Cabang Weru. “BMI ingin membantu meringankan beban Keluarga Ibu Solikha,” kata Ahmad. “Karena koperasi bukan hanya soal keuangan, tapi tentang kemanusiaan.”
Direktur Utama Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara, menyebut kisah Nabil sebagai cerminan hakikat koperasi sejati. “Bagi kami, koperasi bukan hanya tentang pembiayaan dan usaha. Ia adalah gerakan sosial yang memanusiakan manusia. Saat kursi roda itu diberikan, sejatinya kita sedang menggerakkan empati,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kambara itu menambahkan, Kopsyah BMI berusaha hadir di ruang-ruang yang tak tersentuh lembaga keuangan lain. “Bantuan seperti ini tidak kami nilai dari besar kecilnya dana, tapi dari makna manfaatnya. Karena satu kursi roda bisa membuka dunia bagi satu anak kecil,” tuturnya.
Kambara menjelaskan, setiap aksi sosial koperasi adalah bagian dari dakwah ekonomi umat. “Gerakan koperasi harus menjadi jalan dakwah. Kita bantu bukan karena kasihan, tapi karena kita percaya setiap manusia punya hak atas kehidupan yang lebih layak,” katanya. Ia juga menyinggung pentingnya peran anggota sebagai jantung dari setiap kegiatan sosial. “Ibu Siti Solikha bukan sekadar penerima manfaat. Ia anggota koperasi yang ikut menumbuhkan semangat gotong royong. Dari anggota, Oleh Anggota, Untuk anggota — inilah keindahan berkoperasi ,” ujar Kambara lagi.
Menutup percakapan, Pria kelahiran Bangkelang Mandailing Natal 2 Mei 1975 itu menyampaikan harapan sederhana: “Semoga Nabil tumbuh dengan semangat yang sama seperti ibunya. Karena yang lebih kuat dari kaki adalah harapan, dan koperasi hadir untuk memastikan harapan itu tumbuh dan tak pernah padam.”tutup Kambara
Kini, setiap sore, Kayla mendorong Nabil ke halaman. Mereka tertawa kecil melihat anak-anak lain bermain bola. Sesekali, Nabil ikut menendang udara, membayangkan dirinya di tengah lapangan.
Siti menatap dari jauh. “Mungkin kaki Nabil tak bisa sembuh,” ujarnya pelan. “Tapi hatinya… sudah bisa berlari lagi” (Togar/Humas)
