Hari Pertama Kerja, Koperasi BMI Group Tekankan Pengendalian Diri dan Integritas Karyawan

BMI Corner

Tangerang, Klikbmi.com: Koperasi BMI Group mengawali hari pertama kerja pasca libur dengan menggelar briefing di kantor pusat yang dihadiri puluhan karyawan. Kegiatan dibuka dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar seluruh aktivitas kerja ke depan berjalan lancar dan penuh keberkahan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Arahan awal disampaikan oleh H. Agus Suherman, Direktur Kepatuhan dan Risiko. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai fondasi dalam membangun integritas, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

“Tidak ada yang tidak mungkin. Manusia itu bisa berubah. Segala kekurangan bisa kita lewati. Seperti puasa Senin-Kamis yang terasa berat, namun saat Ramadhan kita mampu menjalaninya sebulan penuh. Artinya, kita dilatih untuk melawan hawa nafsu,” ujarnya di hadapan peserta briefing yang terdiri dari karyawan kantor pusat Koperasi Sekunder BMI, Koperasi Syariah BMI, Koperasi Konsumen BMI dan Koperasi Jasa BMI.

Ia kemudian menguraikan tujuh tingkatan hawa nafsu sebagaimana dijelaskan para ulama, sekaligus memberikan penekanan praktis agar mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Agus, nafsu amarah (ammarah bis su’) merupakan tingkatan terendah, yaitu kondisi ketika manusia dikuasai dorongan keburukan seperti rakus, ingin menguasai, dan menuruti hawa nafsu tanpa kendali. Nafsu ini disebut sebagai pintu masuk bagi godaan setan. “Ini adalah titik terendah, di mana nafsu menjadi kendaraan bagi setan,” jelasnya.

Selanjutnya, nafsu lawwamah adalah fase pertengahan, ketika seseorang masih berada di antara kebaikan dan keburukan. Dalam literatur disebut sebagai jiwa yang mencela diri sendiri. Agus menegaskan, “Cirinya, setelah melakukan kesalahan, muncul penyesalan dalam hati. Itu tanda masih ada kesadaran untuk kembali.”

Memasuki tingkat lebih baik, nafsu mutmainnah digambarkan sebagai jiwa yang tenang. Pada fase ini, seseorang mulai merasakan ketenangan dan kenikmatan dalam beribadah.

Kemudian nafsu mulhimah, yaitu jiwa yang mendapatkan ilham untuk terus berbuat kebaikan. Dalam penjelasan ulama, pada tahap ini seseorang semakin mudah terdorong untuk melakukan amal saleh. Agus menambahkan, “Ibadah terasa ringan, bahkan menyenangkan.”

Berikutnya, nafsu radhiyah, yaitu jiwa yang ridha terhadap segala ketentuan Allah, diikuti nafsu mardhiyah, yaitu kondisi ketika seorang hamba tidak hanya ridha, tetapi juga diridhai oleh Allah karena ketaatannya.

Adapun tingkatan tertinggi adalah nafsu kamilah, yakni jiwa yang mencapai kesempurnaan spiritual. Pada tahap ini, seseorang memiliki ketenangan penuh dan konsistensi dalam kebaikan.

Agus juga memberikan cara sederhana untuk mengukur kualitas ibadah sebagai bagian dari pengendalian nafsu.

“Bagaimana kita mengenali ibadah kita? Apakah nikmatnya shalat sama dengan dzikir atau membaca Al-Qur’an? Jika kita bisa menikmati ibadah dalam waktu lama tanpa terasa berat, itu menunjukkan adanya peningkatan kualitas nafsu menuju kesempurnaan,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara, dalam arahannya menegaskan bahwa nilai-nilai ibadah tidak boleh berhenti pada ritual semata, tetapi harus tercermin dalam etos kerja sehari-hari.

“Ibadah yang baik harus diterapkan dalam pekerjaan. Tunjukkan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan fungsi dan peran kita,” tegas pria yang karib disapa Kambara tersebut.

Ia menambahkan bahwa profesionalisme, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab merupakan bagian dari implementasi nilai spiritual yang telah dilatih selama bulan Ramadhan.

Melalui briefing dihari pertama kerja tersebut, manajemen berharap seluruh karyawan dapat kembali menjalankan aktivitas kerja dengan semangat baru, tidak hanya meningkatkan kinerja, tetapi juga memperkuat integritas dan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek pekerjaan. (Nur/Humas)

Share on:

45 thoughts on “Hari Pertama Kerja, Koperasi BMI Group Tekankan Pengendalian Diri dan Integritas Karyawan

  1. “Laa taghdob walakal jannah” (لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ) yang artinya “Janganlah engkau marah, maka bagimu surga”

  2. Nafsu Muthmainnah adalah jenis nafsu yang selalu membuat manusia konsisten dalam kebaikan dan ketenangan hati

  3. Terkadang manusia terjebak di dalam nafsu amarah, yang selalu menguasai dirinya sendiri. Oleh sebab itu perlu pembelajaran dan bimbingan agar kita dalam mengendalikan hawa nafsu tersebut. Terimakasih atas pembelajarannya dari pengurus yang selalu mengingatkan.

  4. Jenis nafsu yang selalu membuat manusia konsisten (istiqomah) dalam kebaikan, merasakan ketenangan dalam ibadah, dan diridhai oleh Allah SWT adalah Nafsu Muthmainnah

  5. Nafsu mutmainnah , jenis nafsu ini yang paling tinggi dan mulia karena nafsu mutmainnah membuat seorang manusia menjadi tenang dan kepuasan dalam melakukan kebaikan

  6. Nafs al-Mutma’innah (النفس المطمئنة)

    Artinya: jiwa yang tenang
    Ini ialah tingkatan nafsu yang paling tinggi dan terbaik

  7. Nafs al-Mutma’innah (النفس المطمئنة)
    Artinya: jiwa yang tenang
    Ini ialah tingkatan nafsu yang paling tinggi dan terbaik

  8. Nafs al-Mutma’innah (النفس المطمئنة)

    Artinya: jiwa yang tenang

    Ini adalah tingkatan nafsu yang paling tinggi dan terbaik.

  9. nafsu kamilah, yakni jiwa yang mencapai kesempurnaan spiritual. Pada tahap ini, seseorang memiliki ketenangan penuh dan konsistensi dalam kebaikan

  10. Jenis nafsu yang membuat orang konsisten dalam kebaikan dan ketenangan adalah Nafsu Muthmainnah (jiwa yang tenang). Nafsu ini merupakan tingkatan jiwa yang telah mencapai ketenangan, tidak mudah tergiur oleh hawa nafsu rendah, dan konsisten dalam ketaatan karena didorong oleh iman.

  11. Nafsu Mulhimah = jiwa yang mendapatkan ilham untuk terus berbuat kebaikan

  12. Assalamualaikum ?..

    Nafsu untuk menjadi lebih baik, rasa syukur dan tangung jawab yang tak pernah dilupakan, tapi yang paling penting adalah motivasi di balik nafsu itu. Tapi Apa kamu melakukan semua kebaikan itu hanya semata-mata karna ingin di akui ? Atau karena kamu ingin ada perbedaan dari diri kamu dan yang lainya ? Apapun itu semoga niat baik kamu bisa menjadi manfaat buat diri kamu sendiri dan orang lain, karna sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, bukan di manfaatin, cuaks hihihi.

    Semoga kita semua konsisten dalam menjalan kan kebaikan buat diri sendiri dan untuk orang lain…

    Dan semoga kita semua ada lindungan dan ridho Allah Swt..
    Sukses bersama di dunia maupun akhirat..

    Salam BMI ..
    Hayang baso di sanguaaan..

    Wassalamualaikum..

  13. Nafsu Mutmainnah, karna orang yang memiliki nafsu Mutmainnah cenderung lebih tenang dan lebih mampu dalam mengontrol diri. Sehingga akan lebih konsisten dalam berbuat baik.

  14. Nafsu yang membuat manusia konsisten dalam kebaikan biasanya disebut “Nafsu Muthmainnah” atau “Nafsu yang tenang”. Nafsu ini merupakan kondisi jiwa yang tenang, damai, dan konsisten dalam melakukan kebaikan. 😊

  15. Nafsu yang membuat manusia konsisten dalam kebaikan biasanya disebut “Nafsu Muthmainnah” atau “Nafsu yang tenang”. Nafsu ini merupakan kondisi jiwa yang tenang, damai, dan konsisten dalam melakukan kebaikan.

  16. Jenis nafsu yang saya tau ada 3 bagian
    Nafs al-Ammarah cenderung mengajak ke keburukan
    Nafs al-Lawwamah masih naik turun, kadang menyesal setelah salah
    Nafs al-Muthma’innah sudah stabil dalam kebaikan

  17. Menurut saya, berdasarkan penjelasan dalam artikel tersebut, jenis nafsu yang membuat manusia konsisten dalam kebaikan adalah nafsu kamilah. Karena dalam uraian disebutkan bahwa nafsu kamilah merupakan tingkatan tertinggi, di mana seseorang telah mencapai kesempurnaan spiritual, memiliki ketenangan penuh, serta mampu menjaga konsistensi dalam kebaikan. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian diri yang baik akan membawa seseorang naik dari nafsu amarah hingga mencapai tingkat kamilah. Sejalan dengan pesan dalam artikel, integritas dan pengendalian diri sangat penting agar nilai-nilai ibadah tidak hanya dilakukan secara ritual, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan pekerjaan.

  18. Menurut saya jawabannya adalah nafsu kamilah, karena dalam artikel dijelaskan sebagai tingkatan tertinggi di mana seseorang sudah memiliki ketenangan dan konsistensi dalam kebaikan. Ini menunjukkan bahwa pengendalian diri sangat penting, bukan hanya dalam ibadah tetapi juga dalam pekerjaan sehari-hari agar tetap berintegritas dan bertanggung jawab.

  19. Nafsu yang selalu membuat manusia konsisten dalam kebaikan adalah Nafsu Muthmainnah (atau Nafsul Mutmainnah).

  20. Yang saya ambil dri kutipan diatas adalah pentingnya menjaga integritas kita sebagai insan BMI, Dan menjaga semangat bekerja kita, menurut para ulama nafsu terbagi menjadi 7, diantara ke 7 napsu tersebut ada nafsu yang paling terpenting untuk menjaga konsistensi dalam berbuat kebaikan yaitu ; nafsu kamilah, yakni jiwa yang mencapai kesempurnaan spiritual. Pada tahap ini, seseorang memiliki ketenangan penuh dan konsistensi dalam kebaikan.

  21. Yang saya ambil dri kutipan diatas adalah pentingnya menjaga integritas kita sebagai insan BMI, Dan menjaga semangat bekerja kita, menurut para ulama nafsu terbagi menjadi 7, diantara ke 7 napsu tersebut ada nafsu yang paling terpenting untuk menjaga konsistensi dalam berbuat kebaikan yaitu ; nafsu kamilah, adalah jiwa yang mencapai kesempurnaan spiritual.

  22. Yang saya ambil dari kutipan di atas adalah. Kecerdasan membuat nafsu berada di bawah kendali pikiran logika sedang kebijaksanaan membuat nafsu berada di bawah kendali hati (perasaan). Seimbangkanlah kedua hal ini sebab masing-masing serupa tetapi tidak sama bahkan terkadang bertentangan satu sama lain.

    #su bojonegara

  23. Nafsu Mutmainah

    kondisi jiwa yang udah tenang dan stabil, nggak gampang goyah sama emosi atau godaan. Biasanya diartikan sebagai level “tenang” dalam diri, karena udah bisa ngontrol keinginan, nggak reaktif, dan lebih condong ke hal-hal baik.
    Orang di tahap ini biasanya nggak gampang panik, iri, atau kebawa nafsu sesaat. Dia lebih mikir jangka panjang, sabar, dan punya pegangan nilai yang kuat. Jadi bukan berarti nggak punya keinginan, tapi lebih ke bisa ngendaliin diri.
    Singkatnya, ini tuh kondisi ideal yang banyak orang kejar buat tenang, konsisten, dan nggak gampang kegoyang sama situasi luar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *