Tangerang, Klikbmi.com: Dalam nasehat rutin Jumat Khidmat di Koperasi BMI Group, Pengawas Syariah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia, Ustadz Sarwo Edi, menyampaikan nasehat bertema pentingnya memperbaiki hati saat menghadapi kebuntuan dalam hidup.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dalam nasehatnya, ia menegaskan bahwa masalah merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Menurutnya, kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah tempat ujian, dan setiap individu akan dihadapkan pada persoalan masing-masing sebagai bagian dari proses tersebut.
“Ada kalanya seseorang berada di titik di mana ia merasa kehabisan akal, tidak menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi,” ujarnya. “Di saat itulah, langkah pertama yang perlu dilakukan bukanlah tergesa mencari solusi eksternal, melainkan memperbaiki kondisi hati.”
Ustadz Sarwo menjelaskan bahwa proses perbaikan hati atau tazkiyatun nafs merupakan upaya penyucian jiwa dari berbagai penyakit batin. Proses ini dilakukan melalui sejumlah amalan, seperti muhasabah atau evaluasi diri, taubat, dzikir, serta peningkatan kualitas ibadah. Selain itu, sikap tawadhu’ (rendah hati), keikhlasan, dan husnudzon (berbaik sangka) juga menjadi bagian penting dalam membentuk hati yang sehat.
Ia menambahkan, tujuan dari proses tersebut adalah untuk mencapai kondisi qalbun salim, yaitu hati yang bersih dan terhindar dari penyakit hati yang dapat memengaruhi perilaku dan cara berpikir seseorang.
Lebih lanjut, ia mengutip pandangan para ulama yang menyebut hati sebagai malikul a’dhoo atau “raja” dari seluruh anggota tubuh, sementara anggota tubuh lainnya adalah “tentaranya”. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik, maka baik pula seluruh jasad, dan apabila rusak, maka rusak pula seluruh jasad, yakni hati.
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Menurutnya, hati yang bersih akan berdampak langsung pada kejernihan pikiran dan semangat dalam menjalani kehidupan. Seseorang akan lebih mudah menemukan solusi atas permasalahan, lebih bersemangat dalam bekerja dan mencari rezeki, serta terdorong untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menutup tausiyahnya, Ustadz Sarwo Edi mengajak seluruh peserta untuk senantiasa menjaga dan membersihkan hati, agar terhindar dari penyakit hati yang dapat merusak kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.
“Semoga kita termasuk orang-orang yang terus berupaya membersihkan hati dan dijauhkan dari hati yang sakit maupun mati,” tutupnya. (Nur/Humas)
