Cilegon, Klikbmi.com – Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) terus mendorong lahirnya wirausahawan muda dari lingkungan pesantren. Upaya tersebut dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan digital printing bagi 15 santri Pondok Pesantren Al-Barokah, Kelurahan Karangasem, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, yang berada di wilayah pelayanan Kopsyah BMI Cabang Cibeber.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pelatihan yang digelar Jumat (14/8/2026) itu membekali para santri dengan keterampilan membuat berbagai produk digital printing, mulai dari sablon kaos, mug, pin, hingga gantungan kunci. Kegiatan tersebut turut didukung Koperasi Jasa Benteng Mandiri Indonesia (Kopjas BMI) yang berperan sebagai trainer melalui Divisi Percetakan.
Manajer Pemberdayaan Anggota Kopsyah BMI M. Suproni mengatakan, pelatihan tersebut tidak sekadar memberikan keterampilan teknis kepada santri. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diarahkan untuk mencetak santri yang memiliki mental dan kemampuan sebagai entrepreneur.

“Kegiatan ini mencakup pelatihan kewirausahaan seperti membuat sablon kaos, mug, pin, dan gantungan kunci. Alhamdulillah, acara ini juga disponsori Koperasi Jasa BMI sebagai trainer,” jelas Suproni kepada redaksi Klikbmi.
Dikatakannya, keterampilan digital printing memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha mandiri. Santri tidak hanya belajar menghasilkan sebuah produk, tetapi juga diperkenalkan dengan rangkaian proses bisnis yang diperlukan agar keterampilan tersebut dapat berkembang menjadi sumber pendapatan.
Karena itu, para peserta juga dibekali kemampuan mengelola usaha secara menyeluruh. Materi tidak berhenti pada proses produksi, tetapi mencakup pendataan, pengelolaan produk, hingga membangun identitas atau branding melalui bisnis printing.
“Kami ingin santri tidak hanya bisa membuat produk, tetapi juga memahami bagaimana produk tersebut dikelola dan dipasarkan. Harapannya, setelah pelatihan mereka mampu mengembangkan keterampilan ini menjadi usaha yang produktif,” katanya.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya Kopsyah BMI dalam memperluas pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pesantren dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi ruang tumbuhnya generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga keterampilan ekonomi dan kewirausahaan.
Terpisah, Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara mengatakan, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis keterampilan. Karena itu, santri perlu dibekali kemampuan yang tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat menjadi modal untuk membangun usaha setelah menyelesaikan pendidikan.

“Santri harus kita dorong menjadi generasi yang mandiri. Jangan hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga harus memiliki keberanian untuk menciptakan lapangan kerja. Digital printing ini salah satu peluang yang bisa dimulai dari lingkungan pesantren dengan modal dan skala yang disesuaikan kemampuan,” ujar pria yang karib disapa Kambara tersebut.
Menurutnya, pelatihan kewirausahaan akan lebih bermakna apabila dilanjutkan dengan praktik dan pendampingan. Koperasi BMI, kata Kambara, ingin memastikan pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi mampu melahirkan aktivitas ekonomi yang terus berjalan.
Para santri, lanjutnya, dapat memulai usaha dengan memenuhi kebutuhan percetakan sederhana di lingkungan pesantren, kemudian secara bertahap mengembangkan pasar ke masyarakat sekitar.
“Yang kita bangun bukan hanya keterampilan membuat sablon atau mencetak mug dan pin. Kita ingin membangun mental entrepreneur. Santri harus belajar produksi, menghitung biaya, menentukan harga, melakukan pemasaran, menjaga kualitas, sampai mengelola keuntungan. Kalau semua itu dikuasai, insyaallah keterampilan tersebut bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi,” katanya.
Kambaramenambahkan, kolaborasi antara Kopsyah BMI dan Kopjas BMI dalam pelatihan tersebut merupakan bagian dari semangat gotong royong yang menjadi karakter koperasi. Ia berharap model pemberdayaan serupa dapat terus diperluas ke pesantren-pesantren lain di wilayah pelayanan Koperasi BMI.
SementaraPengasuh Pondok Pesantren Al-Barokah KH Mujib mengapresiasi dukungan Kopsyah BMI terhadap pengembangan kewirausahaan santri. Menurutnya, keterampilan yang diberikan akan menjadi bekal penting bagi para santri ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

“Pelatihan ini bukan menjadi tahap akhir dari program. Kami berharap santri dapat meneruskan proses produksi dan pengelolaan usaha secara mandiri,” ujarnya.
Ia berharap keterampilan digital printing yang telah diperoleh dapat terus dipraktikkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat bagi para santri dan pesantren.
Melalui keterampilan sablon, pembuatan mug, pin, dan gantungan kunci, 15 santri Al-Barokah kini memiliki bekal awal untuk mengenal dunia usaha. Dari ruang pelatihan itu, mereka diharapkan mampu mengembangkan kreativitas menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka jalan menuju kemandirian.( Togar/Humas)
