Sri Untari Dibuat Penasaran, Koperasi SBW Jatim Belajar Spin-Off dan Spin-Out ke BMI

BMI Corner

Tangerang, klikbmi.com– Koperasi Setia Budi Wanita (SBW) Jawa Timur datang ke Kantor Pusat Koperasi BMI Group, Tangerang, Selasa (11/8/2026), bukan sekadar untuk bersilaturahmi. Dipimpin Sri Untari Bisowarno , rombongan SBW membawa sejumlah agenda untuk mempelajari langsung praktik pengelolaan koperasi BMI, mulai dari tata kelola, pengembangan keanggotaan, hingga rencana spin-off dan spin-out.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Bagi Sri Untari, kunjungan bersama jajaran pengurus dan manajemen SBW tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi atau kunjungan biasa. Selama dua hari, rombongan SBW ingin melihat secara langsung praktik pengelolaan koperasi yang telah dijalankan Koperasi BMI Group.

“Fokusnya adalah belajar. Saya meninggalkan urusan-urusan saya di DPRD karena saya betul-betul ingin belajar, supaya mendapatkan ilmu yang benar-benar bermanfaat bagi kami untuk bisa membuat SBW ini jauh lebih baik,” kata Sri Untari dalam sambutannya.

Dalam kegiatan tersebut, Sri Untari datang bersama sejumlah jajaran pengurus dan manajemen SBW. Mereka antara lain pengurus bidang perlengkapan, bendahara, sekretaris, jajaran manajemen usaha serta pengawas.

Rombongan tidak hanya mengikuti pemaparan mengenai perjalanan Koperasi BMI, tetapi juga akan melihat praktik dan pengembangan usaha koperasi secara langsung.

Hari berikutnya, rombongan SBW dijadwalkan mengunjungi Kawasan Wisata Bukit Manik di Pamijahan, Kabupaten Bogor.Salah satu agenda utama yang ingin dipelajari SBW adalah mengenai spin-off dan spin-out.

Sri Untari mengatakan SBW saat ini memiliki kebutuhan untuk mengembangkan sejumlah usaha yang membutuhkan penataan kelembagaan dan aset secara lebih matang. Karena itu, pengalaman Koperasi BMI dalam menjalankan proses tersebut menjadi penting bagi SBW.

“Kami ingin belajar yang pertama adalah tentang spin-off. Bagaimana persiapan, implementasi dan hambatan-hambatannya,” ujar Sri Untari.

Menurut dia, SBW tidak ingin hanya mempelajari konsep melalui buku, internet atau teori. Mereka ingin melihat bagaimana proses tersebut diterapkan dalam praktik.

“Kami sudah mencoba melihat dari AI dan Google untuk belajar tentang spin-off dan spin-out. Hanya kami ingin melihat praktiknya secara langsung di sini,” katanya.

Sri Untari : SBW tidak ingin hanya mempelajari konsep melalui buku, internet atau teori. Kami ingin melihat bagaimana proses tersebut diterapkan dalam praktik Koperasi BMI.

Sri Untari menyebut SBW sedang menghadapi kebutuhan nyata untuk menentukan bentuk kelembagaan yang tepat bagi pengembangan usaha mereka.

Salah satunya berkaitan dengan pengelolaan klinik yang dikembangkan SBW. Ia menjelaskan, SBW memiliki bangunan klinik, sementara persoalan kepemilikan tanah menjadi salah satu pertimbangan dalam penataan aset.

Karena itu, pengalaman BMI dalam mengelola aset dan mengembangkan kelembagaan menjadi salah satu hal yang ingin dipelajari.

“Yang sedang kami bangun adalah klinik, klinik kecantikan dan klinik BPJS. Kami ingin melihat bagaimana manajemen asetnya seperti apa dan bagaimana sumber daya manusia di dalam mengimplementasikan itu semua,” ujarnya.

Bagi Sri Untari, pengalaman langsung dari koperasi yang sudah menjalankan proses pengembangan kelembagaan memiliki nilai yang berbeda dengan sekadar mempelajari teori.

Ia menyebut SBW selama ini telah mempelajari berbagai konsep mengenai spin-off, spin-out, keanggotaan dan tata kelola. Namun, kebutuhan berikutnya adalah memahami bagaimana teori tersebut diterapkan dalam situasi nyata.

“Kelembagaan, keuangan, keanggotaan, selama ini kami mendapatkannya dari teori. Kalau sudah masuk ke sini, kami mendapatkan dari konteks,” katanya.

Karena itu, ia berharap pengalaman Koperasi BMI dapat menjadi bahan pertimbangan bagi SBW dalam menentukan langkah pengembangan organisasi ke depan.

Menurut Sri Untari, proses tersebut bukan sekadar pilihan, tetapi muncul dari kebutuhan organisasi.

“Kami sebenarnya sedang punya, bukan cita-cita, tetapi kebutuhan untuk itu,” tegasnya.

Selain spin-off dan spin-out, ada persoalan lain yang menjadi perhatian Sri Untari, yakni regenerasi kepemimpinan.

Ia mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan usia dan waktu. Karena itu, organisasi koperasi harus memiliki sistem yang memungkinkan keberlanjutan organisasi tidak bergantung pada satu atau dua tokoh.

“Manusia terbatas usianya, terbatas waktunya. Saya berpikir proses kaderisasi di BMI saya ingin melihat juga,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman BMI dalam membangun organisasi dan mengembangkan sumber daya manusia menjadi salah satu materi penting yang ingin dipelajari.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting bagi koperasi yang telah berkembang menjadi organisasi besar. Ketika skala usaha semakin luas, tata kelola dan regenerasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan figur tertentu.

SBW ingin melihat bagaimana Koperasi BMI menyiapkan sistem agar organisasi dapat terus berjalan dan berkembang.

Sri Untari juga menegaskan kepada jajaran Koperasi BMI agar tidak memandang kedatangan dirinya sebagai kunjungan pejabat.

Ia meminta agar dirinya dan rombongan diperlakukan sebagai peserta yang memang datang untuk belajar.

“Jangan pandang saya di sisi-sisi itu. Pandang saya sebagai orang yang hari ini memang betul-betul mau belajar,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan untuk menegaskan keseriusan rombongan SBW mengikuti kegiatan selama dua hari.

Ia bahkan meminta agar seluruh peserta tidak sungkan berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan.

Bagi Sri Untari, kesempatan melihat langsung praktik Koperasi BMI merupakan momentum untuk memperkaya perspektif pengurus SBW dalam mengembangkan koperasi.

“Jangan melihat saya matang beromong. Saya datang untuk belajar,” ujarnya dengan nada ringan.

Ia juga meminta agar dokumentasi kegiatan selama kunjungan dapat dibawa pulang sebagai bahan pembelajaran bagi anggota dan jajaran SBW yang tidak ikut dalam rombongan.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara atau yang akrab disapa Kambara memberikan pemaparan mengenai perjalanan dan pengembangan Koperasi BMI.

Kambara menyinggung pentingnya visi, misi, daya juang dan regenerasi dalam membangun koperasi.

Menurutnya, koperasi tidak cukup hanya memiliki struktur organisasi. Kekuatan koperasi juga ditentukan oleh kemampuan menjaga semangat perjuangan dan membangun sistem yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kambara YANG HADIR BERSAMA Direktur Keuangan Kopsyah BMI Makhrus juga memaparkan perjalanan BMI dalam membangun kemandirian kelembagaan dan usaha.

Ia menjelaskan, perjalanan tersebut tidak berlangsung singkat. Koperasi BMI dibangun melalui proses panjang, mulai dari penguatan anggota, pengembangan kantor pelayanan, hingga pengembangan berbagai unit usaha.

Dalam pemaparannya, Kambara juga menekankan pentingnya koperasi membangun kekuatan ekonomi dari anggota.

Menurut dia, anggota bukan hanya pihak yang menggunakan layanan koperasi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem usaha koperasi.

Kambara mendorong koperasi agar tidak hanya mengandalkan bisnis konvensional, tetapi juga membuka ruang bagi produk dan usaha yang dimiliki anggota.

Menurutnya, ketika anggota memiliki kemampuan menghasilkan produk, koperasi dapat menjadi pasar bagi produk tersebut.

Ia mencontohkan berbagai produk yang dapat dikembangkan dan dipasarkan melalui ekosistem koperasi.

Prinsipnya sederhana. Anggota menjadi produsen sekaligus konsumen dalam ekosistem yang sama.

Dengan cara itu, perputaran ekonomi tidak keluar dari komunitas, tetapi terus berputar di antara anggota.

Bagi Kambara, model tersebut merupakan bentuk nyata dari semangat koperasi sebagai usaha bersama.

Kambara : kemandirian menjadi salah satu tujuan penting koperasi.

Dalam pemaparannya kepada SBW, Kambara juga menyinggung perjalanan Koperasi BMI menuju kemandirian finansial.

Ia menjelaskan bahwa BMI pernah menggunakan pembiayaan dari berbagai lembaga eksternal dalam perjalanan membangun usaha. Namun, seiring pertumbuhan aset dan kekuatan anggota, koperasi terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman.

Menurut Kambara, kemandirian menjadi salah satu tujuan penting koperasi.

Sebab, semakin mandiri koperasi, semakin besar ruang bagi koperasi untuk menentukan arah pengembangan usahanya berdasarkan kepentingan anggota.

Ia juga menekankan pentingnya koperasi sekunder memberikan kemudahan kepada koperasi primer, bukan justru menambah beban.

“Kalau kita ke bank, ada biaya. Kalau koperasi sekunder bisa memberikan kemudahan kepada primer, itu yang harus dibangun,” ujarnya.

Kambara juga mendorong agar koperasi tidak hanya kuat di sektor keuangan, tetapi mampu masuk ke sektor riil.

Menurutnya, koperasi memiliki potensi besar untuk mengembangkan usaha produktif melalui kekuatan anggota dan modal yang dihimpun bersama.

Ia mencontohkan pengembangan wakaf produktif. Menurutnya, dana wakaf seharusnya tidak hanya ditempatkan pada instrumen pasif, tetapi dapat diarahkan untuk menciptakan nilai tambah sepanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Gagasan tersebut menunjukkan bagaimana koperasi dapat berperan dalam membangun ekosistem ekonomi yang lebih luas.

Koperasi, kata dia, harus mampu menghubungkan kekuatan modal, anggota, usaha dan kebutuhan masyarakat.

Presdir Koperasi BMI Group menyerahkan cendera mata kepada Ketua Koperasi SBW Jatim Sri Untari.

Setelah mengikuti pemaparan, Sri Untari menegaskan kembali bahwa tujuan utama kunjungan SBW adalah mendapatkan pembelajaran yang bisa diterapkan di organisasi mereka.

Ia berharap pengalaman Koperasi BMI dapat membantu SBW mengambil keputusan terkait pengembangan kelembagaan, pengelolaan aset, keanggotaan, sumber daya manusia dan pengembangan usaha.

“Datang ke sini tidak hanya sekadar refreshing. Fokusnya adalah belajar,” tegas Sri Untari.

Karena itu, study experience tersebut menjadi lebih dari sekadar kunjungan antarkoperasi. SBW datang dengan sejumlah persoalan konkret dan ingin menemukan perspektif baru dari pengalaman BMI.

Bagi Sri Untari, keberhasilan koperasi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya aset atau jumlah anggota. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana koperasi membangun sistem yang mampu bertahan lintas generasi.

Sementara bagi Kambara, kedatangan koperasi lain untuk belajar menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman sekaligus memperkuat gerakan koperasi Indonesia.

Pertemuan SBW dan Koperasi BMI pun memperlihatkan bahwa gerakan koperasi dapat berkembang melalui proses saling belajar. Koperasi yang lebih dahulu memiliki pengalaman dapat berbagi praktik, sementara koperasi yang sedang melakukan pengembangan membawa kebutuhan dan perspektif baru.

Dari Tangerang, proses pertukaran pengalaman itu diharapkan dapat dibawa pulang ke Jawa Timur dan diterjemahkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat Koperasi Setia Budi Wanita.

Dua hari study experience pun menjadi momentum bagi SBW untuk melihat langsung bagaimana konsep koperasi diterapkan dalam praktik dari kelembagaan, aset, keanggotaan, sumber daya manusia hingga pengembangan usaha.

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *