Tangerang, Klikbmi.com: Setiap orang menjalani kehidupan dengan keadaan dan peran yang berbeda. Ada yang sedang merasakan kebahagiaan, ada yang menjalani hari dengan biasa saja, dan ada pula yang tengah menghadapi kesedihan. Namun, di balik setiap keadaan yang kita terima, terdapat ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala yang belum tentu langsung dapat kita pahami.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pesan tersebut disampaikan Pengawas Syariah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia, Sarwo Edi, dalam refleksi Jumat Khidmat. Ia mengajak setiap insan untuk memahami bahwa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan belum tentu merupakan keburukan. Sebaliknya, sesuatu yang diinginkan dan dianggap baik oleh manusia belum tentu menjadi yang terbaik menurut Allah Subhanahu wa ta’ala.
Sarwo Edi mengutip firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ
“Bisa jadi apa yang engkau benci itu baik untukmu, dan bisa jadi apa yang engkau sukai itu tidak baik untukmu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Menurutnya, manusia cenderung memberikan respons berdasarkan apa yang diterimanya. Ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkan, muncul rasa senang. Sebaliknya, ketika memperoleh sesuatu yang tidak diharapkan, kesedihan atau kekecewaan dapat muncul.
Namun, manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan, seseorang perlu meyakini bahwa bisa jadi hal tersebut justru merupakan sesuatu yang terbaik bagi dirinya.
“Allah mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui,” ujarnya.
Sarwo Edi kemudian mengibaratkan kehidupan seperti sebuah film. Allah Subhanahu wa ta’ala adalah “sutradara”, sementara manusia merupakan pemeran yang menjalankan perannya. Sutradara mengetahui keseluruhan alur, sedangkan pemeran menjalankan bagian yang telah diberikan kepadanya.
Perumpamaan tersebut, menurutnya, selaras dengan keimanan kepada qada dan qadar. Segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di Lauhul Mahfuz. Namun, keyakinan terhadap takdir bukan berarti manusia boleh berhenti berusaha dan hanya pasrah.
Justru karena manusia tidak mengetahui takdirnya, maka ikhtiar menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan.
“Karena kita tidak mengetahui takdir kita dan kita ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik, maka kita harus berikhtiar sebaik-baiknya,” tuturnya.
Dari pemahaman tersebut, Sarwo Edi mengangkat tema “Jadilah Versi Terbaik dari Peran yang Allah Berikan.”
Menurutnya, setiap orang memiliki peran masing-masing yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Di lingkungan Koperasi BMI Group, misalnya, ketika seseorang berperan sebagai staf lapang, maka ia harus berusaha menjadi versi terbaik dari seorang staf lapang. Ketika mendapatkan amanah sebagai Asisten Manajer, maka ia harus menjadi versi terbaik dari peran tersebut. Demikian pula ketika menjalankan amanah sebagai Manajer Cabang.
“Sesungguhnya kita hanya menjalankan peran. Tetapi tugas kita adalah berikhtiar sebaik-baiknya,” katanya.
Ia kemudian menyampaikan sejumlah prinsip yang dapat menjadi pegangan agar seseorang mampu menjalankan perannya secara optimal.
Pertama, setiap manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Karena itu, setiap peran memiliki tanggung jawab. Seorang staf lapang merupakan pemimpin atas apa yang dikerjakannya di lapangan. Apa yang dilakukan dalam menjalankan peran tersebut pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.
Kedua, setiap peran merupakan amanah. Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan manusia berbagai peran dan profesi dengan tujuan agar kehidupan dan bumi dapat dikelola dengan sebaik-baiknya. Karena itu, amanah tidak hanya berkaitan dengan jabatan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang menjalankan setiap tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Ketiga, setiap kebaikan harus menjadi penyemangat untuk terus berbuat baik.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al-Zalzalah ayat 7:
فَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَّرَهٗ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
Sarwo Edi menjelaskan, zarah menggambarkan sesuatu yang sangat kecil. Sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan, tetap memiliki nilai dan balasan di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.
Apalagi ketika kebaikan tersebut memberikan dampak positif bagi orang lain maupun lembaga, termasuk Koperasi BMI. Karena itu, ia mengajak setiap insan untuk terus bergerak dan memberikan yang terbaik.
“Bergeraklah, karena setiap pergerakan ada keberkahan dan nilai kebaikan,” pesannya.
Keempat, menjadi versi terbaik juga dapat diwujudkan dengan memberikan kebermanfaatan kepada orang lain. Ia mengingatkan hadis yang berbunyi:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Menurutnya, kebermanfaatan menjadi salah satu jalan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Setiap peran yang dijalankan seharusnya tidak hanya berorientasi pada diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain.
Lebih jauh, peran seseorang tidak berhenti pada profesi di tempat kerja. Setiap individu juga memiliki peran dalam keluarga dan kehidupan sosial. Sebagai suami, seseorang memiliki peran sebagai pemimpin keluarga. Sebagai istri, ada amanah yang harus dijalankan sebagai bagian dari keluarga. Begitu pula sebagai anak, terlebih bagi mereka yang masih memiliki orang tua.
Namun, di atas seluruh peran tersebut, terdapat satu peran yang menjadi dasar bagi semuanya, yakni peran sebagai hamba Allah Subhanahu wa ta’ala.
Sarwo Edi mengingatkan agar setiap orang berusaha menjadi versi terbaik dalam menjalankan perannya sebagai hamba Allah, salah satunya dengan melaksanakan ibadah sebaik-baiknya.
Dengan demikian, menjadi versi terbaik bukan semata-mata tentang jabatan, profesi, atau posisi yang dimiliki seseorang. Lebih dari itu, menjadi versi terbaik adalah tentang bagaimana setiap amanah dan peran yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala dijalankan dengan penuh tanggung jawab, ikhtiar, doa, dan tawakal.
Karena itu, Sarwo Edi mengajak setiap insan untuk tidak patah semangat ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan. Ketika mendapatkan kebaikan, hendaknya disyukuri. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan, hendaknya dihadapi dengan kesabaran.
“Allah adalah sutradara, kita yang memerankannya,” ujarnya.
Keyakinan terhadap qada dan qadar, lanjutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berikhtiar. Sebab manusia tidak mengetahui takdir yang akan dijalaninya. Ikhtiar justru menjadi bagian dari perjalanan manusia dalam menjalani ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala.
“Jangan patah semangat, jangan sedih, banyak berdoa dan bertawakal. Tetapi ingat, jangan sampai karena qada dan qadar sudah Allah tentukan, kita kemudian tidak mau berikhtiar. Karena sebenarnya ikhtiar itu adalah jalan dari takdir kita. Kalau kita ingin mendapatkan takdir yang baik, maka kita harus berikhtiar dengan baik,” pungkasnya. (Nur/Humas)
