Sait Hanya Seorang Diri di Usia Senja, Rumah Roboh dan Tubuhnya Tak Lagi Berdaya. Mari Bantu

Info ZISWAF

Tangerang, Klikbmi.com: Di usia 77 tahun, Sait menjalani kehidupan seorang diri. Istri dan anaknya telah meninggal dunia. Kini, ujian kembali datang ketika rumah yang ditempatinya di Kampung Sikluk, Desa Jeujing, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, roboh pada 18 Agustus 2026.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Sejak rumahnya roboh, Sait tidak memiliki tempat tinggal untuk ditempati. Warga sekitar dan Ketua RT setempat kemudian bergantian menampungnya. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Sait juga masih mengandalkan bantuan dari masyarakat.

Kondisi Sait semakin memprihatinkan karena ia tengah menderita hernia yang membatasi aktivitas sehari-hari. Keterbatasan fisik tersebut membuat Sait kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk untuk mandi dan buang air.

Ketiadaan fasilitas mandi dan toilet membuat Sait terkadang harus buang air di tempat. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan dirinya, tetapi juga berpotensi mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar.

Informasi mengenai kondisi Sait awalnya diterima Kamaruddin Batubara, Presiden Direktur Koperasi BMI Group sekaligus Ketua Pengurus Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI), melalui Bilal, seorang sahabatnya. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Andi, Manajer Ziswaf Kopsyah BMI. Tidak berhenti pada informasi, Andi bersama tim langsung melakukan survei ke lokasi untuk melihat kondisi Sait dan tempat tinggalnya.

Kondisi rumah sait yang dibangun ulang seadanya diatas reruntuhan rumah lama yang roboh dimakan usia.

Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat setempat telah terlebih dahulu bergotong royong membantu Sait. Bersama dukungan dari Kepala Desa, warga membangun kembali tempat tinggal sederhana berukuran 3 x 5 meter atau sekitar 15 meter persegi.

Bangunan tersebut dibuat menggunakan material sederhana berupa triplek dengan lantai semen. Meski jauh dari kata layak, rumah itu setidaknya memberikan tempat bagi Sait untuk berlindung setelah rumah sebelumnya roboh.

Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai. Dari hasil koordinasi dengan warga terdekat, termasuk Tabrani, seorang guru SMP, serta Ketua RT setempat, Pei, diketahui bahwa kebutuhan paling mendesak setelah tempat tinggal tersedia adalah pembangunan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting mengingat kondisi kesehatan Sait yang mengalami keterbatasan dalam beraktivitas.

Melihat kondisi tersebut, Kopsyah BMI kemudian mengambil bagian dalam membantu Sait. Bantuan senilai Rp5 juta diserahkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan MCK sekaligus beberapa kebutuhan dasar rumah tangga.

Bantuan disalurkan dalam bentuk material pembangunan berupa semen, pasir, hebel, kloset, dan paralon. Selain itu, Kopsyah BMI juga memberikan mesin air, kasur, lemari, magic com, serta akomodasi untuk tukang yang mengerjakan pembangunan.

Bantuan tersebut diserahkan oleh Andi, Manajer Ziswaf Kopsyah BMI, bersama Raodotul Jannah, Manajer Cabang Cisoka Kopsyah BMI.

Secara terpisah, Kambara mengatakan, informasi mengenai kondisi Sait menjadi pengingat bahwa di tengah masyarakat masih banyak warga yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama.

“Ketika kita mendapatkan informasi ada orang tua yang hidup sendiri, sakit, kemudian rumahnya roboh, tentu kita tidak boleh hanya melihat. Kalau ada yang bisa kita bantu, maka kita bantu sesuai kebutuhan yang paling mendesak,” kata Kambara.

Menurutnya, bantuan sosial tidak selalu harus menunggu sebuah program besar. Kepedulian dapat dimulai dari melihat persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat dan hadir memberikan solusi yang dibutuhkan.

“Yang kita bantu bukan sekadar bangunan atau barangnya. Kita ingin memastikan Sait bisa menjalani hari dengan lebih layak. MCK itu mungkin terlihat sederhana bagi kita, tetapi bagi beliau, itu kebutuhan yang sangat penting,” ujarnya.

Kambara juga mengapresiasi gotong royong masyarakat yang telah lebih dahulu bergerak membangun kembali tempat tinggal Sait setelah rumahnya roboh.

“Ini contoh bahwa kepedulian akan menjadi lebih kuat kalau dilakukan bersama-sama. Masyarakat sudah bergotong royong, pemerintah desa ikut membantu, dan Kopsyah BMI melengkapi kebutuhan yang masih belum terpenuhi. Semangat seperti ini yang harus terus kita hidupkan,” katanya.

Kambara pun mengajak masyarakat luas untuk ikut mengambil bagian membantu Sait. Menurutnya, kebutuhan Sait masih cukup panjang dan bantuan dari banyak pihak akan sangat berarti untuk memastikan kehidupan Sait ke depan menjadi lebih baik.

“Saya mengajak siapa pun yang membaca kisah Sait ini, mari kita bantu bersama-sama. Tidak harus besar. Apa yang kita punya dan mampu kita berikan, insyaallah akan sangat berarti bagi Sait. Kalau banyak orang bergerak, sedikit demi sedikit, insyaallah kebutuhan beliau bisa kita penuhi,” tutur Kambara.

Ia menambahkan, kepedulian terhadap sesama tidak harus menunggu seseorang memiliki kemampuan yang besar.

“Jangan berpikir bahwa karena bantuan kita kecil lalu tidak berarti. Justru kalau yang kecil-kecil itu dikumpulkan oleh banyak orang, hasilnya akan menjadi besar. Mari kita pastikan Sait tidak merasa sendirian menghadapi kondisi ini,” katanya.

Sebelumnya, kondisi rumah Sait sempat dipertimbangkan untuk diajukan melalui program HRSH. Namun, pengajuan tersebut belum dapat dilakukan karena terdapat persyaratan yang tidak terpenuhi, di antaranya status tanah yang masih dalam sengketa serta luas tanah yang berada di luar ketentuan program.

Dokumentasi penyerahan bantuan dari Kopsyah BMI untuk Sait

Kendati demikian, kondisi tersebut tidak menghalangi upaya untuk memberikan bantuan. Kopsyah BMI memilih mengambil bagian melalui bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan paling mendesak di lapangan.

Di tengah keterbatasan, Sait kini kembali memiliki tempat untuk berteduh. Sebuah rumah sederhana yang lahir dari gotong royong masyarakat, dilengkapi fasilitas MCK melalui kepedulian Kopsyah BMI. Namun, perjalanan untuk membuat kehidupan Sait benar-benar lebih layak masih membutuhkan kepedulian bersama.

Karena itu, kisah Sait bukan hanya tentang rumah yang roboh. Ini tentang seorang lansia yang kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal, menghadapi keterbatasan fisik, dan masih harus bergantung pada kebaikan orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mari bersama-sama membantu Sait. Tidak perlu menunggu mampu memberikan banyak. Kepedulian sekecil apa pun, ketika dilakukan bersama, dapat menjadi pertolongan yang besar bagi mereka yang membutuhkan.

Bagi Kopsyah BMI, koperasi tidak hanya berbicara tentang simpanan, pembiayaan, dan kegiatan ekonomi. Koperasi juga harus hadir ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan. Sait mungkin hidup seorang diri, tetapi kepedulian kita dapat membuatnya tidak merasa sendirian. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *