Tangerang, KlikBMI.com: Momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus menjadi pengingat akan perjuangan para pahlawan dalam membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Namun, makna kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga memiliki makna yang lebih dalam dalam kehidupan seorang Muslim, yakni kebebasan untuk menjalankan tujuan hidup sebagai hamba Allah.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pesan tersebut disampaikan Sarwo Edi, Pengawas Syariah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia, dalam program Jumat Khidmat. Ia mengajak untuk kembali memahami arti kemerdekaan dari perspektif Islam.
Menurut Sarwo Edi, merdeka berarti bebas. Namun, dalam Islam, kebebasan bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa batas. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia terbebas dari berbagai hal yang menghambatnya untuk menjalankan tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Ayat tersebut, menurutnya, menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya.
“Kemerdekaan menurut Islam adalah bagaimana kita bebas. Tujuan kita adalah menghamba kepada Allah. Jadi tidak ada lagi yang menghambat kita untuk beribadah kepada Allah,” ujar Sarwo Edi.
Ia menjelaskan, terdapat berbagai hal yang dapat menjadi penghambat seseorang dalam menjalankan tujuan hidupnya. Di antaranya adalah syirik, hawa nafsu, serta kepentingan-kepentingan lain yang ditempatkan lebih tinggi daripada ibadah.
Hawa nafsu, misalnya, dapat membuat seseorang mengetahui kewajibannya untuk beribadah, tetapi justru memilih untuk menundanya. Begitu pula dengan berbagai kesibukan duniawi. Pekerjaan memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti makan dan minum. Namun, jangan sampai pekerjaan justru membuat seseorang meninggalkan salat.
“Jangan sampai gara-gara kita kerja tidak salat. Gara-gara kita bergadang karena kerja, kita telat melakukan salat Subuh, bahkan meninggalkan salat Subuh. Gara-gara kita kecapekan, kita meninggalkan salat Asar dan salat-salat yang lainnya,” pesannya.
Dalam konteks tersebut, Sarwo Edi mengingatkan bahwa pekerjaan, makan, dan kehidupan sehari-hari seharusnya menjadi bagian dari rangkaian yang mendukung tujuan utama manusia untuk beribadah.
Manusia bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan hidup. Dengan makan dan minum, manusia dapat hidup. Dan dengan kehidupan tersebut, manusia menjalankan tujuan utamanya, yakni beribadah kepada Allah.
Karena itu, menurutnya, jangan sampai manusia justru terbalik dalam menempatkan tujuan.
“Kita bekerja untuk makan, untuk hidup, tapi meninggalkan salat, meninggalkan ibadah. Nah, ini yang salah kaprah, sehingga dia lupa tujuan hidup untuk apa,” ungkapnya.
Sarwo Edi juga mengingatkan bahwa salat memiliki kedudukan yang sangat penting. Ia mengutip hadis:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ
“Perkara yang pertama kali dihisab adalah salat.”
Salah satu tantangan yang menurutnya banyak dihadapi adalah menjaga salat Subuh. Seseorang mungkin mampu menjalankan salat Magrib dan Isya, tetapi masih kesulitan bangun untuk menunaikan salat Subuh.
Padahal, Subuh merupakan awal dari perjalanan satu hari. Ketika hari dimulai dengan baik, maka diharapkan seluruh aktivitas pada hari tersebut juga berjalan dengan baik.
Menurut Sarwo Edi, persoalannya sering kali bukan semata-mata karena seseorang tidak mampu bangun, tetapi karena salat Subuh belum ditempatkan sebagai prioritas.
Ia memberikan gambaran sederhana. Seseorang mampu bangun pagi untuk mendaki gunung karena mendaki gunung menjadi prioritas. Seseorang juga mampu melakukan perjalanan jauh dan mengeluarkan biaya besar karena perjalanan tersebut dianggap penting.
“Kalau kita menjadikan salat Subuh menjadi prioritas, maka kita akan membuat langkah-langkah bagaimana kita bisa salat Subuh. Bahkan kalaupun kita kebangun, walaupun masih mengantuk, ketika kita menjadikan salat Subuh itu menjadi prioritas, maka kita akan bangkit untuk salat,” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak untuk melawan hawa nafsu, melawan keinginan untuk kembali tidur, serta melawan kepentingan-kepentingan lain yang dapat menghalangi ibadah.
Dalam kesempatan tersebut, Sarwo Edi juga mengapresiasi lingkungan kerja di Koperasi BMI Group yang memberikan ruang dan kebebasan kepada karyawan untuk menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya.
Menurutnya, kebebasan tersebut bukan berarti mendorong seseorang untuk bebas meninggalkan ibadah. Sebaliknya, kebebasan yang diberikan seharusnya menjadi kesempatan untuk semakin baik dalam menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah.
“Di Koperasi BMI Group ini diberikan kebebasan seluas-luasnya kepada karyawannya untuk melakukan ibadah sebaik-baiknya. Bahkan ada juga anjuran untuk bagaimana kita mengedepankan salat atau ibadah yang lainnya. Ini patut kita syukuri,” katanya.
Ia menilai, Koperasi BMI Group bukan menjadi penghambat seseorang dalam menjalankan ibadah, melainkan memberikan dukungan agar karyawan dapat menjalankan kewajibannya kepada Allah.
Pada akhirnya, Sarwo Edi mengajak seluruh insan Koperasi BMI Group dan masyarakat untuk kembali memaknai kemerdekaan secara lebih mendalam.
Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka adalah ketika manusia mampu membebaskan dirinya dari berbagai hal yang menghambatnya untuk menjalankan tujuan hidup sebagai hamba Allah.
“Dengan kita merdeka secara Islam, khususnya di Koperasi BMI Group atau di tempat lainnya yang diberikan kebebasan waktu untuk beribadah, gunakan sebaik-baiknya untuk menjadi hamba Allah yang sebaik-baiknya. Jangan karena diberikan kebebasan, akhirnya bebas tidak melakukan ibadah,” pesannya.
Momentum kemerdekaan pun menjadi pengingat bahwa kebebasan yang dimiliki semestinya tidak menjauhkan manusia dari Allah. Sebaliknya, kemerdekaan harus menjadi jalan untuk semakin bebas dari hawa nafsu, bebas dari berbagai penghambat ibadah, dan semakin teguh menempatkan ibadah sebagai prioritas kehidupan. (Nur/Humas)
