Bagaimana Cara Mengubah Nasib Seperti yang Diajarkan Al-Qur’an? Jawabannya Ada Di Edisi Jum’at Khidmat Berikut ini.

Edu Syariah

Tangerang, Klikbmi.com: Dalam rangkaian Jumat Khidmat yang rutin digelar Koperasi BMI Group, Pengawas Syariah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI), Hendri Tanjung, memberikan tausiah inspiratif kepada seluruh karyawan. Kajian kali ini mengangkat tema “Kesiapan Mental dan Diri dalam Menerima Perubahan”, sebuah refleksi yang relevan dengan dinamika kehidupan maupun perjalanan organisasi.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Mengawali tausiahnya, Hendri mengutip firman Allah dalam Surat Ar-Ra’d ayat 11:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Ayat ini, jelas Hendri, mengandung pesan mendalam tentang tanggung jawab manusia terhadap perubahan nasibnya. Dalam penggalan pertama ayat tersebut, Allah juga menegaskan bahwa dalam diri setiap manusia memiliki malaikat yang senantiasa menjaganya siang dan malam secara bergiliran. “Ada malaikat siang yang turun saat subuh dan ada malaikat malam yang turun saat ashar. Malaikat-malaikat itu mencatat segala perkataan dan perbuatan manusia, berganti tugas pada waktu Subuh dan Ashar,” terang Hendri.

Lebih lanjut, Hendri menjelaskan bahwa tafsir para ulama menggambarkan ayat ini sebagai peringatan agar manusia tidak menyia-nyiakan kenikmatan yang diberikan Allah. “Allah tidak akan merubah atau mencabut kenikmatan dari seorang hamba, kecuali ketika hamba itu sendiri merubah atau merusak nikmat tersebut dengan kemaksiatan atau kekufuran terhadap nikmat,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa musibah atau kesulitan seringkali merupakan konsekuensi dari kelalaian manusia sendiri. “ketika terjadi musibah, kadang kita bertanya, salah apa saya, dosa apa saya’, karena keburukan itu tidak akan terjadi kecuali karena maksiat. Kenikmatan itu tidak akan berubah menjadi kesengsaraan kecuali hamba itu berbuat maksiat, kufur dia daripada kenikmatan tidak besyukur dia kepada kenikmatan. Nikmat akan tetap menjadi nikmat selama kita mensyukurinya,” tegasnya.

Mengutip pandangan Syekh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil dari Universitas Qasim, Saudi Arabia, Hendri menjelaskan bahwa manusia terbagi dalam dua kelompok: Ada  kelompok manusia yang hidup dalam kesengsaraan dan kelompok lainnya hidup dalam kemewahan dan gelimang harta, kelompok pertama terus berjuang keluar dari kesengsaraan itu, keluar dari kesulitan dengan berpegang pada ayat Allah, Namun kelompok lainnya mereka takut kehilangan kenikmatan yang dimilikinya itu.

“Keduanya menghadapi ujian yang sama, yaitu perubahan, untuk itu maka kita harus siap, siap menerima perubahan, siap untuk secara mental menerima apapun yang terjadi dan terus menerus kita berfikir bagaimana keluar dari persoalan itu” katanya.

Dalam konteks organisasi, Hendri menegaskan bahwa kesiapan mental menjadi kunci menghadapi setiap tantangan dan perubahan. “Kita semua di Koperasi BMI harus siap secara mental dan fisik menghadapi berbagai perubahan yang terjadi. Kita tidak boleh terjebak pada keadaan, tetapi harus fokus mencari solusi dan terus berjuang bersama keluar dari setiap persoalan,” tegasnya.

Menutup tausiahnya, Hendri mengajak seluruh insan BMI untuk menjadikan Surat Ar-Ra’d ayat 11 sebagai pegangan hidup. “ini adalah hikmah yang dapat kita ambil dari surat Ar-Ra’d ayat 11. Harapannya semua insan BMI mempersiapkan diri dari hati, pikiran, mental dan fisik untuk menerima perubahan-perubahan yang terjadi apapun perubahan itu, dan kita secara bersama-sama fokus mencari solusi.” Pintanya.

“Terimalah perubahan dengan lapang dada, dan hadapi dengan ikhtiar terbaik agar Allah senantiasa menjaga dan menuntun kita menuju kebaikan,” pungkasnya. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *