Belajar dari Resolusi Jihad, Hendri Tanjung Ajak Insan BMI Tak Lelah Berjuang

Edu Syariah

Tangerang, Klibmi.com: Ketua Pengawas Syariah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI), Hendri Tanjung, mengajak seluruh insan BMI untuk meneguhkan semangat perjuangan dalam menjaga dan mengembangkan koperasi. Menurutnya, perjuangan yang dilandasi niat untuk meraih rida Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bagian dari perintah agama yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Pesan tersebut disampaikan Hendri dalam tausyiah Jumat Khidmat yang mengangkat tema “Meneguhkan Perjuangan”. Pria lulusan Doktor Filsafat dalam bidang Ekonomi Islam dari International Islamic University (IIU) Islamabad Pakistan tersebut mengawali tausyiahnya dengan mengingatkan kembali sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya peristiwa Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Resolusi Jihad tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam membangkitkan semangat umat Islam untuk berjuang mengusir penjajah, yang kemudian berkaitan erat dengan berkobarnya pertempuran 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

“Kalau kita flashback ke tahun 1945, tepatnya tanggal 22 Oktober, itu adalah Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Tujuannya bagaimana mengobarkan semangat jihad untuk mengusir penjajah,” ujar Hendri.

Ia juga mengingatkan bahwa setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Resolusi Jihad pada 22 Oktober menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa. Tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional, yang baru saja dirayakan sehari sebelum tausyiah ini disampaikan.

Menurut Hendri, semangat perjuangan tidak hanya penting dalam merebut kemerdekaan, tetapi juga harus terus diteguhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa perjuangan merupakan bagian dari perintah Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hajj ayat 78:

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖ

Artinya: “Berjuanglah kamu pada (jalan) Allah dengan sebenar-benarnya…”

Hendri menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung pesan agar setiap muslim menjalankan perjuangan dengan sungguh-sungguh, bukan setengah hati. Perjuangan yang dilakukan harus memiliki tujuan yang jelas, yakni mengharapkan rida Allah SWT.

“Jadi, perjuangan itu bukan main-main. Tapi betul-betul perjuangan. Perjuangan yang ditujukan untuk meraih rida Allah,” tegasnya.

Ia menambahkan, semangat jihad dan perjuangan telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para nabi, para salafus saleh, hingga para pejuang bangsa yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, masyarakat saat ini dapat menikmati kemerdekaan karena perjuangan yang dilakukan oleh para pendahulu. Karena itu, semangat tersebut perlu diteruskan melalui kerja keras dan kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing.

Hendri kemudian menjelaskan bahwa jihad tidak selalu identik dengan peperangan. Dalam konteks kehidupan saat ini, perjuangan dapat diwujudkan melalui kerja keras, kesungguhan, keuletan, serta kesediaan untuk menghadapi kesulitan demi mencapai tujuan yang baik.

“Jihad itu bermakna kerja keras, kesungguhan, keuletan, bersedia bersusah payah. Jadi, yang namanya berjihad itu selalu identik dengan bersedia bersusah payah,” jelasnya.

Jika dahulu para pejuang mempertaruhkan nyawa di medan perang, menurut Hendri, perjuangan pada masa sekarang dapat diwujudkan melalui kesediaan untuk bekerja keras dan menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan amanah.

Dalam konteks Koperasi BMI, ia mengajak seluruh insan BMI untuk memaknai pekerjaan dan tanggung jawab sebagai bagian dari perjuangan yang bernilai ibadah. Menjaga koperasi bukan sekadar menjalankan aktivitas organisasi, melainkan juga ikhtiar bersama untuk mempertahankan amanah dan mengembangkan lembaga yang memberikan manfaat bagi anggotanya.

Ia berharap seluruh insan BMI dapat terus memperkuat komitmen, ketekunan, dan kesungguhan dalam menjaga koperasi, dengan menempatkan rida Allah sebagai tujuan utama.

“Insan-insan BMI, saya berharap bagaimana kita bersama-sama meneguhkan perjuangan kita di dalam menjaga koperasi ini,” ungkapnya.

Hendri menutup tausyiahnya dengan mengajak seluruh insan BMI menjadikan pesan tersebut sebagai pengingat bagi diri sendiri maupun sesama. Ia berharap perjuangan yang dijalankan dengan sungguh-sungguh dan berlandaskan niat mencari rida Allah dapat mendatangkan keberkahan.

“Ini tausyiah kepada diri saya juga, kepada teman-teman juga, mari kita teguhkan perjuangan kita untuk menjaga Koperasi BMI ini,” pungkasnya. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *