Dakwah Bukan Sekedar Ceramah, Kita Tanpa Terkecuali Berkewajiban Menjadi Pelaku Dakwah

Info ZISWAF

Nasehat Dhuha Sabtu, 31 Juli 2021 | 21 Dzulhijjah 1442 H| Oleh:  Sularto

Klikbmi, Tangerang –  Sahabat BMI Kliker yang dimuliakan Allah SWT, tema kita kali ini adalah dakwah bukan sekedar ceramah, kita semua berkewajiban menjadikan dakwah sebagai nafas kita. Ada banyak ragam dakwah yang bisa kita lakukan. Tentu menyesuaikan dengan kemampuan. Yang pasti dakwah tidak mesti harus dalam bentuk ceramah, seperti yang dilakukan dai-dai pada umumnya di hadapan banyak orang.

Kita harus mensyiarkan dakwah Rasulullah SAW, setiap kita punya kemampuan, apalagi pada zaman sekarang yang kian maju, melalui multimedia, seseorang dapat melakukan dakwah  dengan media sosial yang ada.

Yang punya kemampuan di bidang multimedia, yang punya kemampuan di sound, atau yang punya kemampuan di bidang apapun untuk membantu dakwah Rasulullah SAW. Dakwah sangat luas ruang lingkupnya. Setiap orang cukup berpotensi melakukan dakwah. Hakikat dakwah bukan hanya ceramah, dakwah  berdimensi sangat luas.

Ada juga dakwah dengan tenaga, ada dakwah dengan harta, ada dakwah dengan pikiran dan masih banyak lagi. Salah satu bentuk dakwah adalah mengajak orang lain untuk mencintai Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW. Dakwah ini tidak melulu bisa dilakukan seseorang pada forum ceramah. Di luar forum itu juga sangat bisa. Termasuk juga bentuk dakwah adalah saat  kita mengajak orang untuk mencintai Rasulullah SAW.

Dakwah secara kebahasaan berasal dari bentuk da’a-yad’u yang berarti ‘panggilan’, ‘seruan’, atau ‘ajakan.’ Adapun menurut istilah agama Islam, dakwah merupakan setiap kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan akidah, syariat dan akhlak Islam.

Yang dimaksud dengan ilmu dakwah  adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan-tuntunan bagaimana seharusnya menarik perhatian orang lain untuk menganut, menyetujui dan atau melaksanakan suatu ideologi/agama, pendapat atau pekerjaan, tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut dai (juru dakwah), sedangkan orang yang menjadi objek dakwah disebut mad’u.

Para ulama berlainan pendapat dalam menetapkan hukum menyampaikan dakwah Islam itu. Ada yang menetapkannya sebagai fardu kifayah (kewajiban kolektif) dan ada pula yang menetapkannya sebagai fardu a’in. Mereka sama-sama mendasarkan pendapat mereka pada surat Ali Imran ayat 104. Kata minkum dalam ayat tersebut ada yang menganggap mengandung pengertian tab’id (bagian), sehingga hukum dakwah  menjadi fardu kifayah. Ada pula yang menganggapnya sebagai zaaidah (tambahan), sehingga hukumnya menjadi fardu ‘ain.

Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhoi oleh Allah SWT, yakni dengan menyampaikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridhoi Allah SWT sesuai dengan segi atau bidangnya masing-masing.

Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai rasul Allah SWT. Nabi SAW melakukan dakwah Islam, baik secara lisan, tulisan maupun perbuatan. Nabi saw memulai dakwahnya kepada istrinya, keluarganya dan teman-teman karibnya. Dakwah ini pada mulanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Situasi pada waktu itu belum memungkinkan penyampaian dakwah secara terang-terangan.

Kemudian, setelah pengikut Rasulullah SAW bertambah dan beberapa pemuka Quraisy juga telah menganut agama Islam, barulah dakwah Islam disampaikan secara terang-terangan. Di antara pendukung dari dakwah yang disampaikan Nabi SAW adalah Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar As-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib.

Dakwah beliau juga dilakukan melalui tulisan. Beliau pernah mengirim surat yang berisi seruan, ajakan atau panggilan untuk menganut agama Islam kepada raja-raja dan kepala-kepala pemerintahan dari negara-negara yang bertetangga dengan negara Arab. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi SAW adalah Kaisar Heraklius dari Bizantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dan Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasah (Ethiopia).

Setelah Nabi SAW wafat, dakwah Islam dilanjutkan para sahabat. Ruang gerak dakwah Islam pada masa sahabat dan masa-masa sesudahnya semakin luas dan semakin beragama. Jika ditilik dari segi objek dakwah, maka tujuan dakwah dapat dibagi menjadi empat, yaitu: Pertama, tujuan perorangan, yaitu bertujuan untuk membentuk pribadi muslim yang mempunyai iman yang kuat, berperilaku sesuai dengan hukum-hukum yang disyari’atkan Allah SWT dan berakhlaq karimah. Diharapkan agar pribadi-pribadi umat manusia menjadi muslim secara tuntas, dari ujung rambut sampai kedua telapak kakinya,sebagaimana diperintahkan Allah SWT,
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208 ).

Kedua, tujuan untuk keluarga, yaitu bertujuan untuk membentuk keluarga bahagia, penuh ketentraman dan cinta kasih antara anggota keluarga. Allah berfirman: ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)

Ketiga, tujuan untuk masyarakat, yaitu bertujuan untuk membentuk masyarakat sejahtera yang penuh dengan suasana ke-islaman. Suatu masyarakat di mana anggotanya mematuhi peraturan-peraturan yang telah disyari’atkan oleh Allah SWT, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam sekitarnya, saling bantu membantu, penuh rasa persaudaraan. Nabi Muhammad menggambarkan Islam sebagai berikut:

Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling berbelas kasih dan saling mempunyai kesamaan rasa (diantara) mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasa sakit maka seluruh anggota badannya ikut merasakan tidak tidur dan merasa demam panas.” (HR. Bukhari).

Keempat, tujuan untuk umat manusia, yaitu bertujuan untuk membentuk masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan dengan tegaknya dunia tanpa diskriminasi dan ekploitasi, saling tolong-menolong, dan menghormati.

Dengan demikian, keseluruhan umat manusia dapat menikmati islam sebagai rahmat bagi mereka. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya: 107).

Sebagai umat Islam mari kita mengambil bagian dari kewajiban dakwah. Kita sebagai pelaku ekonomi syariah insyallah telah menjalankan salah satu fungsi dakwah dalam memberikan kesejahteraan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan spiritual kepada sesama.  Wallahu a’lam bish-showaab.

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi).

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *