Lebak.Klikbmi.com- Di bawah atap yang pernah amblas itu, Jannati biasa termenung.Tatapannya sering berhenti di langit-langit rumah panggung yang lapuk, seakan mencari jawaban dari rangkaian cobaan yang datang bertubi-tubi. Pertengahan Desember 2025 lalu, hujan deras kembali memperparah keadaan. Atap rumahnya di Kampung Gunung Barat, Desa Gunungkencana, Kecamatan Gunungkencana, Kabupaten Lebak, ambruk. Air hujan mengalir bebas ke dalam rumah. “Ya Allah sing sabar, sing sabar, …” gumam perempuan 66 tahun itu lirih.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Sejak suaminya meninggal dunia, Jannati harus menanggung hidup seorang diri bersama putrinya yang juga berstatus janda. Tak ada harta peninggalan selain rumah tua yang jauh dari kata layak. Rumah panggung sederhana itu berdiri di atas balok-balok kayu yang sudah lapuk dan tidak rata. Dindingnya dari bilik bambu dan papan kayu tua yang berlubang. Lantainya masih tanah dan papan tanpa pelapis, lembap, dingin, dan rapuh.

Di dalam rumah, ruang hidup terasa sempit dan suram. Cahaya matahari sulit menembus bilik bambu yang kusam. Dapur hanya mengandalkan tungku kayu bakar dengan ventilasi buruk. Asap kerap terperangkap, membuat mata perih dan dada sesak. Peralatan dapur tersusun seadanya, sebagian besar sudah usang. Namun, di rumah itulah Jannati bertahan hidup, hari demi hari.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar meninggi, Jannati sudah melangkah ke hutan seorang diri. Ia mencari kayu bakar, mengikatnya, lalu memikul pulang. Keesokan harinya, kayu itu dijual. Hasilnya tak sampai Rp50 ribu. Uang itulah yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan sang putri. Tak ada tabungan, tak ada rencana renovasi. Pertanyaan tentang memperbaiki rumah selalu berakhir dengan diam panjang.
Beruntung, Jannati tak hidup sendiri dalam arti sesungguhnya. Ia tinggal di tengah warga yang masih memelihara gotong royong. Saat atap rumahnya amblas, para tetangga datang membantu. Genteng dipasang ulang ala kadarnya, sekadar menjadi pelindung dari hujan dan terik matahari.

Dari kepedulian warga itulah, nama Jannati kemudian diajukan oleh anggota Rembug Pusat Kucing Pelayanan Cabang Banjarsari, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) agar masuk Program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH).
Selasa, 13 Januari 2025, menjadi hari yang tak pernah dibayangkan Jannati sebelumnya. Di halaman rumahnya, digelar seremoni sederhana peletakan batu pertama HRSH Kopsyah BMI. Rumah lama yang rapuh itu akan dirobohkan. Di atas tanah yang sama, akan berdiri rumah baru yang kokoh. “Rumah Ibu Jannati akan kami bangun kembali dengan dinding hebel, dicat hijau, dilengkapi kamar mandi, atap baja ringan, dan tentu nyaman dihuni,” ujar Manajer Regional III Kopsyah BMI, Suhaemuddin yang hadir bersama Manajer cabang Bnjarsari Muhammad Firkon.
Suhaemudin menegaskan, biaya pembangunan rumah itu berasal dari infak gotong royong anggota Kopsyah BMI sebesar Rp1.000 yang dikumpulkan setiap pekan di rembug pusat. Skema sederhana, tetapi berdampak nyata. Sejumlah unit HRSH yang telah dibangun BMI sebelumnya ditunjukkan sebagai bukti bahwa gotong royong kecil bisa menjelma rumah yang layak.
Hujan deras sempat turun siang itu. Namun suasana tetap hangat. Kebahagiaan menyelimuti Jannati dan para tetangganya. Hadir menyaksikan momen tersebut Kapolsek Gunungkencana AKP Sukar, Sekretaris Kecamatan Gunungkencana Yoga Adi Kencana, perangkat desa, serta warga sekitar.
Terpisah Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara menegaskan, Program Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan wujud keberpihakan koperasi kepada anggota dan masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan. “HRSH BMI bukan hanya tempat berteduh, tapi tempat menjaga martabat manusia. Di sanalah harapan dibangun kembali,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Kambara itu mengatakan, kisah hidup Jannati adalah potret nyata mengapa koperasi harus hadir lebih dari sekadar lembaga keuangan. “Ibu Jannati bukan angka, bukan laporan. Beliau adalah amanah. Ketika koperasi tumbuh dari gotong royong anggota, maka manfaatnya harus kembali kepada anggota dan mereka yang paling membutuhkan,” katanya dengan nada tegas.
Dikatakannya, kekuatan utama Kopsyah BMI bukan pada besarnya modal, melainkan pada konsistensi gotong royong. Infak Rp1.000 yang dikumpulkan setiap pekan di rembug pusat menjadi bukti bahwa solidaritas kecil, jika dilakukan bersama, mampu melahirkan perubahan besar. “Ini bukan tentang jumlah, tapi tentang keikhlasan dan keberlanjutan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa HRSH adalah implementasi nyata nilai koperasi sebagaimana diajarkan Bung Hatta. “Koperasi tidak boleh menjauh dari denyut nadi rakyat. Koperasi harus hadir saat negara belum sepenuhnya sampai. HRSH adalah ikhtiar kami agar tidak ada anggota yang hidup tanpa rasa aman di rumahnya sendiri,” tutur Kambara.

Kambara berharap, rumah baru yang akan ditempati Jannati kelak menjadi titik balik kehidupan. “Kami ingin rumah ini menjadi sumber kekuatan baru bagi Ibu Jannati. Tempat istirahat yang layak, tempat berdoa yang tenang, dan tempat menua dengan bermartabat,” ucapnya .
Di akhir pernyataannya, Kambara mengajak seluruh anggota Kopsyah BMI untuk terus menjaga semangat gotong royong. “Apa yang kita lihat hari ini adalah buah dari kebersamaan. Selama nilai itu dijaga, koperasi akan terus menjadi jalan kebaikan. Bukan hanya membangun rumah, tapi membangun harapan semoga nanti rumah yang dibangun menjadi baiti jannati untuk ibu Jannati,” pungkasnya.
Di tengah rinai hujan, Jannati menatap tanah tempat rumah barunya akan berdiri. Kali ini, bukan dengan keluh kesah, melainkan dengan harapan. Kami tak ingin sendiri, Para pembaca Klikbmi bisa membantu pembangunan HRSH Bu Suripah melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI Transfer ke BSI 7200320171 an. Benteng Mikro Indonesia. nomor Konfirmasi melalui 0811-8802-013.( Togar/humas)

Koperasi BMI adalah salah satu Koperasi yg sanggup memberikan kontribusi sangat banyak kepada anggota & masyarakat contoh konkrit sudah memberikan HRSH atau hibah Rumah siap Huni gratis kepada 558 penerima sampai saat ini, Koperasi lain saya belum pernah melihat seperti Koperasi BMI, saya bangga bersama Koperasi BMI
Teruslah memberi manfaat yang banyak Koperasi BMI
Bangga menjadi bagian koperasi BMI yang selalu menebar manfaat ditengah masyarakat.