Mencapai Ihsan Dalam Ibadah

Edu Syariah

Nasehat Dhuha  Senin, 15 November 2021 | 9 Rabiul  Akhir 1443 H | Oleh :  Ustadz Fakhry Fadhil, S.Sy , M.H

Klikbmi, Tangerang – Tema kita hari adalah Mencapai Ihsan Dalam Ibadah.Banyak ulama menjelaskan apa itu ihsan, dan pembahasan terkaitnya amat luas. Salah satunya, ihsan dipahami sebagai suatu derajat dalam ibadah yang sulit dicapai untuk kalangan awam. Namun itu semua kita bisa dapatkan dengan cara di latih dalam kehidupan sehari-hari. Ihsan menurut nabi Muhammad SAW, ketika di tanya oleh malaikat adalah

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

(Ihsan adalah) hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab meski engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu…”

 
Dalam pengamalan ibadah untuk mencapai ihsan dalam beribadah jangan sampai kita salah menempatkan posisi ibadah hanya sebagai perintah agama dan hanya sebatas kewajiban beragama, setidaknya ada 3 macam seorang hamba yang beribadah kepada allah SWT

Pertama, adalah orang yang melakukan ibadah semata menggugurkan kewajiban. Namun hal itu mesti dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui syarat dan rukun ibadah yang dilakukan. Seperti halnya mengetahui tata cara wudhu, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya.  

Kedua, adalah derajat mukasyafah. Ia merasakan hingga seolah “melihat” dan “memperhatikan” oleh Allah. Derajat ini seperti yang dirasakan oleh Nabi dalam saat shalat.

Ketiga, adalah ibadah dengan merasakan ibadahnya diawasi oleh Allah. Derajat ini adalah derajat muraqabah, yaitu perasaan dilihat Allah. Jika mukasyafah adalah rasa mampu melihat-Nya, jika tak mampu, seorang mukmin mesti senantiasa merasa muraqabah, merasa diperhatikan dan dekat dengan-Nya. Seorang hamba mungkin tidak mampu mencapai derajat ru’yatullah (“melihat” Allah), namun ia bisa selalu berusaha mendekatkan diri dan diawasi oleh Allah, karena imannya meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengawasi. 

 Dari ketiga derajat atau maqam tersebut adalah bentuk ihsan. Seperti disinggung di atas, untuk menempuh ihsan dalam ibadah terlebih dahulu dapat dengan mulai memahami pengamalan syarat dan rukun ibadah. Tata cara ibadah atau syariat, sekurang-kurangnya untuk hal yang esensial atau ‘ilmul haal perlu dicermati. Sehingga dapat dipahami bahwa dalam menempuh dan menjalankan ihsan, langkah yang bisa dimulai adalah dengan mempelajari syariat Islam, utamanya yang terkait kebutuhan sehari-hari.   Sedangkan derajat muraqabah dan mukasyafah mesti dilatih terus-menerus, salah satunya melalui pembelajaran dan pengamalan tasawuf. Kedua derajat itu dimiliki oleh kalangan khawash. Kita semua yang awam perlu tetap belajar dan rendah hati, dan tentu saja dalam meniti proses itu dibutuhkan kesabaran. Semoga usaha dan kesabaran itu yang dicatat Allah sebagai amal baik dan diridhai-Nya. Wallahu alam.

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.