Resensi Buku : Sejarah Kopi Rindoe Benteng (Mengukir Sejarah Kopi Melalui Wakaf Menuju Ekowisata Di Tangerang)

Serba Serbi

Judul Buku : Sejarah Kopi Rindoe Benteng (Mengukir Sejarah Kopi Melalui Wakaf Menuju Ekowisata Di Tangerang)
Penulis : Kamaruddin Batubara,SE,ME dan Dr. Hamdani, SE,MM,MPd, MAk
Penerbit : Penerbit Yayasan Insan Tangerang
Tahun Terbit : Januari 2020
Tebal Buku : 130 Halaman

Gagasan untuk mengangkat sejarah bahwa Tangerang memiliki budaya minum kopi menjadi lekat dari buku ini. Buku ini juga memiliki nilai yang tinggi untuk memberikan pengetahuan yang mendalam bahwa Tangerang dulunya adalah tempat Tamanan kopi yang tumbuh subur.

Buku ini bukan sekedar bercerita, buku ini merupakan buku yang ditulis dari hasil penelitian yang berjudul : Jejak Sejarah Dan Budaya Mengkonsumsi Kopi di Tangerang. Buku ini berisi tentang bagaimana kopi di Tangerang ini berasal. Di mana letak-letak dan pusat penanaman kopi pada masa lalu.

Buku ini juga syarat makna, bukan sekedar memberikan informasi kepada pembaca tentang Tangerang sebagai salah satu pusat kopi nusantara tetapi juga memiliki spirit untuk menumbuhkan nilai mengukir kembali sejarah perkebunan kopi melalui wakaf menuju ekowisata di Tangerang.

Buku ini memberikan pemahaman bahwa Tangerang adalah pusat perkebunan kopi di masa lalu, sehingga di Tangerang sudah ada budaya minum kopi yang secara bisnis berpeluang untuk dikembangkan agar bisa menjadikan kopi sebagai mata pencaharian baru bagi masyarakat Tangerang. Buku ini mengejak menghidupkan kembali upaya melestarikan kopi dengan menjual kopi secara modern dan kekinian. Mengemas budaya minum kopi lebih asik dan menciptakan bisnis kopi bagi masyarakat Tangerang.

Balaraja merupakan kawedanan di mana kopi sangat terlihat jejak sejarahnya, tepat di Desa Cikuya, Kampung Cibayana. Kopi di Kampung Cibayana memang telah tergantikan dengan tanaman lain dan saat ini telan tiada, namun gagasan untuk menghidupkan kopi sebagai sebuah bisnis masyarakat terus harus dilakukan. Orang bilang bisnis atau usaha, jika pasar ada dan terbuka lebar maka potensinya ke depan akan sangat bagus prospeknya.

Buku ini sebetulnya bertujuan untuk menggali sebuah produk sejarah yang diharapkan menjadi unggulan produk di Kabupaten Tangerang. Penggalian sejarah tentang perkebunan kopi di Tangerang ini dilakukan oleh Paguyuban Balaraja bekerjasama dengan Kopsyah BMI. Dan dari buku inilah akan dikembangkan usaha kopi dengan merk Kopi Rindoe Benteng yang berasal dari keinginan yang sangat historikal untuk mengangkat kesejahteraaan masyarakat melalui kopi dan sekali menjadikan kopi sebagai produk unggulan Kabupaten Tangerang.

Buku yang diberikan Kata Pengantarnya oleh Bupati Kabupaten Tangerang A. Zaki Iskandar, SE, MSi ini memberikan apresiasi bahwa kopi sangat layak untuk diangkat kembali dan dijadikan model usaha yang akan mampu menarik dan mengajak  banyak orang untuk memperoleh kesejahteraan dari produk kopi ini.

Bab Pertama buku ini menuliskan tentang gagasan Kopi Rindoe Benteng, bahwa produk yang berhasil adalah produk yang berasal dari riset atau penelitian. Untuk memastikan bahwa bisnis kopi ini akan berhasil maka diadakan dulu penelitian tentang sejarah dan budaya mengkonsumsi kopi di Tangerang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah minum kopi di Balaraja, Sepatan, Teluknaga, Mauk, Curug, Cikupa, Pasar Kemis, dan Legok. Bab pertama buku ini mencoba meyakinkan diri bahwa kopi kabupaten Tangerang harus kembali dihidupkan melalui proses bisnis yang benar. Mulai dari meriset bahwa orang Tangerang suka minum kopi, orang Tangerang punya kopi khas dan kembali akan disajikan kopi bernuansa Tangerang yang di kemas dengan Merk Kopi Rindoe Benteng.

Bab Kedua buku ini berisi tentang Kopi Di Tangerang. Menuliskan tentang wilayah penyebaran kopi di Tangerang, jejak sejarah kopi di Tangerang, pedagang dan merk kopi di Tangerang, komposisi dan pengolahan kopi giling  di Tangerang, pasokan dan distributor kopi di Tangerang

Bab Ketiga  buku ini berisi tentang sejarah kopi di masing-masing kecamatan di Kabupaten Tangerang. Pada  bab ini ditulis tentang sejarah pedagang dan merk kopi di Kecamatan Balaraja, Sepatan, Teluknaga, Mauk, Curug, Cikupa, Pasar Kemis, dan Legok.

Bab Keempat buku ini berisi tentang sekilas kopi di Indonesia. Sejarah kopi di Indonesia merupakan pengetahuan  yang kita peroleh begitu membaca awal bab ini. Selanjutnya kita akan mengetahui luas area dan produksi kopi di Indonesia.

Bab Kelima berisi tentang jejak budaya mengkonsumsi kopi di Tangerang. Budaya mengkonsumsi kopi di Indonesia seperti budaya angkringan, budaya rumpi di warung kopi, minum kopi di perkebunan kopi, minum kopi di batok kelapa, dan berbagai kebiasaan minum kopi masyarakat Indonesia disampaikan dalam bab ini. Bab ini juga menulis tentang perilaku konsumsi kopi sebagai budaya masyarakat dan budaya mengkonsumsi kopi di Tangerang.

Bab Keenam buku ini berisi budaya mengkonsumsi kopi di Kabupaten Tangerang. Di beberapa kecamatan Tangerang diteliti tentang bagaimana budaya mengkonsumsi kopi masyarakatnya. Denga membaca bab ini kita akan lebih tahu tentang bagaimana masyarakat Balaraja, Sukamulya, Sepatan, Teluknaga, Mauk, Curug, Cikupa, Pasar Kemis dan Legok dalam mengkonsumsi kopi.

Bab Ketujuh berisi tentang mengukir sejarah perkebunan kopi melalui wakaf menuju ekowisata di Tangerang. Jika kita baca buku ini, maka inilah sebetulnya salah satu spirit terbesar buku ini. Bagaimana Kopi Rindoe Benteng dimunculkan dan menjadi sebuah pengerek kemajuan ekonomi Kabupaten Tangerang. Awal bab ini berisi tentang idealisme membangun kembali perkebunan Kopi Rindoe Benteng, yang akan dipusatkan di Cisoka. Pembangunan perkebunan melalui wakaf kopi Rindoe benteng oleh Koperasi BMI dan akan diolah sebagai pusat ekowisata baru di Kabupaten Tangerang. Pada bab ini juga berisi tentang pusat studi wakaf Koperasi BMI dan rumah kebudayaan di Koperasi BMI. Bab inilah hang sangat menarik untuk dibaca dan pasti kita bisa membacanya berkali – kali karena di bab ini ada tujuan yang sangat mulia. Satu yang tidak kalah menarik adalah konsep wisata halal Koperasi BMI dan pusat unggulan produk dan kewirausahaan Koperasi BMI.

Bab Kedelapan menutup buku ini berisi tentang optimisme bahwa Kopi Rindoe Benteng akan sangat maju ke depan dan akan menjadi bisnis di ratusan outlet. Bisnis Kopi Rindoe Benteng ini sangat sinergi dengan masa depan Gemilang yang menjadi tema pengembangan Kabupaten Tangerang.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena berisi semangat dan idealisme membangun ekonomi, umkm dan koperasi. Pokok pikiran mendasar buku ini yang tidak akan ditemui dari buku lain adalah wakaf yang berasal dari Kopi Rindoe Benteng dihimpun dan dikelola oleh ZIZWAF Koperasi BMI untuk digunakan sebagai sumber dana bagi pembangunan ekowisata di Tangerang. Di kawasan ekowisata ini akan dibangun pusat Pendidikan dan Pelatihan Perkoperasian, pertanian, peternakan, pusat studi wakaf, pusat wisata halal, dan pusat kewirausahaan. Wakaf ini juga akan digunakan membangun pusat Pendidikan mulai PUAD hingga perguruan tinggi. Sarana lain yang akan dibangun antara lain masjid, rumah sakit, pabrik bio ethanol, pabrik beras, pabrik pupuk hayati, sawah wakaf dan pertokoan. Wakaf juga dimanfaatkan untuk pembelian lahan dan pembangunan perkebunan kopi, rumah kebudayaan, pusat sejarah, pusat kesenian, dan rumah adat Tangerang. Pembaca akan menyesal melewatkan buku yang sangat menarik ini.

Saya mengajak masyarakat Tangerang, Banten dan Indonesia yang penikmat kopi dan penikmat pengetahuan untuk membeli buku ini. Semoga resensi buku ini bermanfaat untuk kita semua.

Sularto
Peresensi Buku  0812 8512 7765

ReplyForward
Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *