Senin Ideologi: Bagaimana Koperasi BMI Menanamkan Ideologi Berkoperasi Aspek Pemberdayaan Kepada Anggotanya?

Ekonomi

Tangerang, Klikbmi.com: Koperasi BMI Group meneguhkan jati dirinya sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berlandaskan ideologi berkoperasi dan merangkum tujuh nilai ideologis yaitu solidaritas, pemberdayaan, peduli sesama, gotong royong, kesejahteraan bersama, kemandirian dan kekeluargaan. Edisi senin ideologis kali ini membahas berbagai program pemberdayaan yang dijalankan Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI) sepanjang tahun 2025, Koperasi Syariah BMI menunjukkan bahwa koperasi bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan wadah perjuangan ekonomi bersama untuk menegakkan martabat anggota sebagai pelaku ekonomi yang berdaya dan bermartabat. Di tengah arus ekonomi kapitalistik yang sering menempatkan rakyat kecil sebagai objek, BMI hadir dengan cara yang berbeda: mengembalikan manusia pada hakikatnya sebagai subjek pembangunan yang tumbuh bersama komunitas, yaitu sebagai Anggota Koperasi BMI Group.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Program pemberdayaan anggota Kopsyah BMI tahun 2025 meliputi lima bidang strategis, yaitu pendidikan dan pelatihan, pendampingan usaha anggota, fasilitasi perizinan usaha mikro, penguatan literasi kewirausahaan, dan pendampingan permodalan agribisnis. Dalam bidang pendidikan, Kopsyah BMI menggelar TOT Pendidikan Perkoperasian serta pelatihan bagi anggota pada momentum Pra Rapat Anggota Tahunan (Pra RAT). Pendidikan ini menjadi fondasi ideologis agar setiap anggota memahami makna berkoperasi bukan hanya sebagai tempat meminjam dan menabung, tetapi sebagai sarana memperjuangkan kesejahteraan kolektif melalui semangat kerja sama dan tanggung jawab sosial.

Dalam bidang pendampingan usaha, Kopsyah BMI memfasilitasi beragam kegiatan produktif anggota, seperti pengembangan Warung BMI di wilayah Pakuhaji dan Rajeg, bundling produk UMKM dengan pembiayaan anggota, serta kegiatan bazar UMKM pada pelaksanaan RAT Tahun Buku 2024 di Spring Club Summarecon Serpong yang melibatkan 20 pelaku usaha anggota. Melalui berbagai kegiatan tersebut, koperasi hadir sebagai mediator antara pelaku usaha kecil dan pasar, membangun jembatan yang selama ini terputus akibat keterbatasan modal, akses, dan literasi usaha. Tidak berhenti di situ, BMI juga menciptakan Kampung Otak-Otak di Desa Sangiang, Sepatan Timur, yang menaungi 18 anggota pelaku usaha olahan ikan. Para anggota difasilitasi untuk memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan desain kemasan yang menarik agar dapat menembus pasar modern. Langkah ini menjadi simbol konkret bahwa koperasi adalah wadah pemberdayaan yang menyatukan modal sosial, spiritual, dan ekonomi.

Aspek ideologi pemberdayaan juga tercermin dari inisiatif Kopsyah BMI memfasilitasi sertifikasi halal gratis bagi 165 anggota di 10 cabang wilayah Tangerang dan Bogor. Fasilitasi ini bukan hanya bentuk dukungan administratif, tetapi juga penguatan nilai syariah dalam praktik ekonomi anggota, agar setiap produk dan usaha yang dikembangkan membawa keberkahan dan kepercayaan di pasar. Sementara itu, melalui kerja sama dengan CSR PIK 2, Kopsyah BMI menyelenggarakan pelatihan literasi keuangan di enam cabang yaitu Kosambi, Pakuhaji, Teluknaga, Mauk, Sukadiri, dan Kemiri. Kegiatan tersebtu bertujuan membangun kesadaran pengelolaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan di kalangan pelaku UMKM anggota koperasi.

Tidak kalah penting, Kopsyah BMI juga memberikan pendampingan permodalan bagi sektor agribisnis yang menjadi denyut utama ekonomi desa. Sebanyak 116 petani menerima pembiayaan dengan total penyaluran Rp4,47 miliar sepanjang tahun 2025. Melalui skema pembiayaan syariah yang ringan, koperasi menjadi penggerak ekonomi produktif yang berpihak pada petani dan peternak, bukan pada tengkulak atau rentenir. Semangat kemandirian itu pula yang terwujud dalam pelaksanaan program Qurban 2025, di mana anggota secara kolektif berpartisipasi membeli 147 ekor domba dan 29 ekor sapi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ekonomi umat dan spiritualitas sosial dapat tumbuh beriringan dalam wadah koperasi.

(kiri ke kanan) Dedy Suhaemi, Tim Pemberdayaan; Muhamad Suproni, Manajer Pemberdayaan; Kamaruddin Batubara Presiden Direktur Koperasi BMI Group; Casmita Direktur Bisnis dan Pemberdayaan; dan Suhri Gozali, Tim Pemberdayaan.

Salah satu bukti nyata keberhasilan ideologi pemberdayaan ini tercermin dalam kisah Junaedi, anggota Kopsyah BMI Cabang Mekarbaru, yang kini dikenal sebagai peternak bebek sukses. Berawal dari keterpurukan akibat kebangkrutan di usaha perikanan, Junaedi bangkit dengan semangat baru saat bergabung bersama Koperasi BMI. Melalui pembiayaan program Mikro Mitra Ternak dan Tani (MMT), ia mengembangkan usaha bebek pedaging dari 300 ekor menjadi hampir 5.000 ekor dengan omzet mencapai Rp40 juta per panen. “Kalau dulu mau beli pakan sering kehabisan dana, tapi setelah ada BMI, Alhamdulillah bisa nyetok dan lebih tenang. Labanya ringan, cuma 0,5 persen, jadi peternak seperti saya bisa terus maju,” ujarnya penuh syukur.

Kini, Junaedi tak hanya menikmati hasil usahanya, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi empat warga sekitar. Ia aktif mengajak para pemuda di desanya agar berani mandiri dan bergabung dengan Koperasi BMI. “Kalau kita gak giat, siapa lagi. Saya ingin pemuda di kampung ini ikut melihara bebek dan masuk koperasi, biar semua punya usaha dan gak nganggur,” ujarnya. Kisah Junaedi memperlihatkan bahwa pemberdayaan sejati bukan sekadar bantuan modal, melainkan proses menumbuhkan kesadaran, mental kerja keras, dan solidaritas ekonomi.

Djunaidi ditengah ternak bebek yang ia kelola didampingi tim Pemberdayaan Koperasi Syariah BMI

Dari berbagai inisiatif tersebut, Koperasi BMI menegaskan bahwa pemberdayaan bukanlah program temporer, melainkan bagian dari ideologi berkoperasi yang menempatkan manusia sebagai pusat perubahan. Pendidikan, permodalan, dan pendampingan hanyalah sarana; sedangkan tujuan utamanya adalah membangun sistem ekonomi yang adil, berdaulat, dan berakar pada nilai kemanusiaan. Dalam koperasi, keberhasilan bukan diukur dari besarnya aset, tetapi dari seberapa banyak anggota yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Tonton kisah Junaedi pada tayangan youtube berikut: https://youtu.be/eGCHTt3mLHI?si=ISnn1qEigpr0qfn4

Koperasi BMI memahami bahwa kemandirian tidak diwariskan, melainkan ditumbuhkan melalui kerja sama, kepercayaan, dan saling dukung antaranggota. Ideologi pemberdayaan inilah yang menjadikan BMI bukan hanya lembaga ekonomi, tetapi gerakan moral dan sosial yang meneguhkan cita-cita luhur bangsa: menciptakan masyarakat yang adil dan makmur melalui jalan gotong royong. “Kita cuma butuh sokongan dan tempat yang pas,” ujar Junaedi menutup kisahnya. “Dan itu saya temukan di Koperasi BMI.” Pungkasnya (Nur/Humas)

Share on:

1 thought on “Senin Ideologi: Bagaimana Koperasi BMI Menanamkan Ideologi Berkoperasi Aspek Pemberdayaan Kepada Anggotanya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *