Tangerang, Klikbmi.com: Peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum bagi setiap orang tua untuk kembali menguatkan perannya dalam membentuk generasi yang beriman, berakhlak, berilmu, dan peduli terhadap sesama. Pesan tersebut disampaikan Anggota Pengawas Syariah Koperasi Syariah BMI, Sarwo Edy, dalam program Jumat Khidmat Koperasi BMI Group, Jumat (24/7/2026).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Menurut Sarwo Edy, meskipun Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli bukan merupakan bagian dari syariat Islam, peringatannya dapat dijadikan pengingat bagi setiap orang tua agar tidak mengabaikan tanggung jawab dalam memenuhi hak-hak anak, mulai dari pendidikan, kesehatan, perlindungan, hingga kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
“Momentum Hari Anak Nasional hendaknya kita jadikan sebagai pengingat untuk kembali menjalankan kewajiban sebagai orang tua dalam mendidik dan membimbing anak-anak sebaik mungkin,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, anak bukan sekadar anugerah yang menghadirkan kebahagiaan dalam keluarga, tetapi merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Pendidikan akhlak, keimanan, dan ilmu pengetahuan menjadi fondasi penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh sekaligus menjadi investasi akhirat bagi kedua orang tuanya.
Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa mendidik keluarga, termasuk anak-anak, merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Sarwo Edy mengatakan, anak yang saleh merupakan salah satu amal yang pahalanya akan terus mengalir kepada orang tua. Karena itu, setiap orang tua perlu menjadikan pendidikan anak sebagai investasi jangka panjang, bukan hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan akhirat.
“Anak adalah amanah Allah sekaligus investasi akhirat. Ketika kita mampu mendidiknya menjadi anak yang saleh, doa mereka akan menjadi salah satu amal yang terus mengalir bagi orang tuanya,” katanya.
Dalam tausiyahnya, Sarwo Edy memaparkan empat bekal utama yang perlu diberikan kepada anak sejak usia dini. Pertama adalah bekal iman, yakni mengenalkan Allah SWT, Rasulullah SAW, syahadat, rukun iman, rukun Islam, membiasakan salat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa.
Bekal kedua adalah akhlak, dengan menanamkan nilai-nilai kejujuran, amanah, kedisiplinan, sopan santun, menghormati orang tua dan guru, serta menyayangi sesama. Menurutnya, Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia sehingga pembentukan karakter menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan anak.
Selanjutnya adalah bekal ilmu. Ia menegaskan bahwa ilmu menjadi fondasi dalam membentuk karakter dan cara berpikir anak. Melalui pendidikan yang baik, anak akan mampu menjalani kehidupan berdasarkan pengetahuan yang benar, baik dalam menjalankan ibadah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Bekal terakhir adalah kepedulian sosial, yakni membiasakan anak untuk gemar berbagi, membantu orang lain, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki empati terhadap mereka yang membutuhkan. Nilai-nilai tersebut diyakini akan membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Namun demikian, Sarwo Edy mengingatkan bahwa seluruh bekal tersebut tidak akan efektif apabila orang tua tidak memberikan keteladanan. Anak, katanya, lebih cepat belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang mereka dengar.
“Anak melihat orang tuanya salat, maka ia akan lebih mudah belajar salat. Anak melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an, berpuasa, dan berperilaku baik, maka hal itu akan lebih cepat ditiru dibandingkan hanya melalui perintah. Sebelum memperbaiki anak, kita harus memperbaiki diri kita terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia menambahkan, lingkungan keluarga merupakan faktor utama dalam membentuk karakter anak. Orang tua yang memiliki komitmen kuat dalam pendidikan akan lebih mudah melahirkan generasi yang berakhlak mulia, berilmu, dan memiliki prinsip hidup yang baik.
Sarwo Edy juga mengajak seluruh orang tua untuk senantiasa memanjatkan doa yang diajarkan Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati.” Menurutnya, doa tersebut tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui ikhtiar nyata dengan memberikan pendidikan terbaik, kasih sayang, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan tersebut, Sarwo Edy turut menegaskan komitmen Koperasi Syariah BMI dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak-anak anggota sebagai implementasi Lima Pilar Pemberdayaan, khususnya pilar pendidikan. Menurutnya, koperasi tidak hanya berperan meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota, tetapi juga mempersiapkan masa depan keluarga melalui akses pendidikan yang lebih baik.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program, di antaranya Simpanan Cendikia Syariah yang membantu anggota merencanakan dana pendidikan anak sejak dini, serta fasilitas pembiayaan Mikro Tata Cendikia (MTC) bagi anggota yang membutuhkan biaya pendidikan secara cepat dan mudah. Selain itu, Koperasi Syariah BMI juga terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan.
Melalui berbagai layanan tersebut, Koperasi Syariah BMI berharap tidak ada lagi anak-anak anggota yang terhambat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya. Pendidikan dipandang sebagai investasi terbaik untuk melahirkan generasi yang unggul, mandiri, dan berakhlak mulia.
Menutup tausiyahnya, Sarwo Edy mengajak seluruh keluarga besar Koperasi BMI Group menjadikan Hari Anak Nasional sebagai momentum untuk memperkuat komitmen dalam mendidik anak sebagai amanah Allah SWT sekaligus investasi akhirat.
“Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita keluarga dan keturunan yang menjadi penyejuk hati serta memudahkan kita menjalankan amanah sebagai orang tua. Sebab, anak-anak yang saleh bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat,” pungkasnya. (Nur/Humas)
