Tangerang, Klikbmi.com: Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara, atau akrab disapa Kambara, berbagi catatan reflektif dari lawatannya ke Tiongkok atas undangan Vivo, perusahaan teknologi raksasa asal negeri itu 15–21 Oktober 2025. Dalam perjalanan ke Chongqing dan Shenzhen, Tiongkok, Kambara menyaksikan langsung bagaimana sebuah bangsa besar membangun kemandirian ekonomi melalui disiplin, kerja keras, dan kebijakan strategis yang berpihak pada rakyat Tiongkok dengan penduduk lebih dari 1,4 Miliar Jiwa pada 19 Oktober 2025 (Sumber: Wolrdometer.com)
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dari kunjungan tersebut, Kambara menarik tujuh pelajaran penting yang layak menjadi bahan renungan sekaligus inspirasi bagi seluruh insan Koperasi BMI Group.
Pertama, China fokus pada produksi sehingga negaranya mandiri. Menurutnya, kemandirian China tumbuh dari kemampuan memproduksi kebutuhan sendiri. “Negara china bekerja, memproduksi, dan memastikan negeri mereka tidak bergantung pada bangsa lain,” jelas Kambara.
Kambara menambahkan China menjadi negara yang mandiri karena seluruh tenaganya diarahkan untuk memproduksi barang dan teknologi yang dibutuhkan rakyatnya. Dalam sektor otomotif dan elektronik, misalnya, dulu ada ratusan merek mobil listrik yang berlomba di pasar domestik. Kini hanya puluhan yang bertahan, namun banyak di antaranya telah merajai pasar dunia, termasuk Indonesia. Hal serupa terjadi pada industri Handphone dan sepeda listrik, dari ratusan merek yang tumbuh, kini produk-produk buatan China menjadi pemain utama global. Bahkan dalam hal teknologi digital, Google Maps tidak efektif digunakan di China karena negeri itu telah memiliki dan mengembangkan sistem peta digitalnya sendiri. Semua kebutuhan dikembangkan secara mandiri tanpa ketergantungan pada produk asing.
“Lihat saja otomotif dan elektronik mereka, dari ratusan merek mobil listrik, Handphone, hingga sepeda listrik, kini banyak yang merajai pasar dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan Google Maps pun tidak efektif di sana karena mereka punya sistem peta sendiri yang jauh lebih lengkap dan mandiri. Itulah bukti bahwa mereka fokus pada produksi dan kemandirian, bukan wacana” tambahnya.

Kedua, bisnis yang menguasai hajat hidup rakyat dikuasai negara. Bagi China, sektor strategis seperti energi, pangan, dan teknologi tidak boleh dikendalikan swasta sepenuhnya. “Negara hadir untuk menjamin kepentingan rakyat, bukan hanya keuntungan korporasi,” tegasnya.
Ketiga, tidak ada tempat dan toleransi untuk koruptor. Dalam pengamatannya, masyarakat China menaruh kepercayaan penuh kepada pemerintah karena integritas ditegakkan dengan disiplin tinggi. “Tidak ada toleransi bagi koruptor. Kejujuran adalah harga mati,” tambahnya.
Keempat, rakyat mencintai produk lokal. Masyarakat China dengan bangga menggunakan hasil karya bangsanya sendiri. Cinta terhadap produk lokal bukan sekadar slogan, tetapi budaya yang hidup. “Mereka percaya pada kemampuan bangsanya sendiri. Ini yang membuat ekonomi mereka kuat,” katanya.
“90% mobil di kota Chongqing dan Shenzhen adalah mobil buatan China (made in China) sementara sepeda listrik 100% made in China. Demikian halnya dengan Handphone, bahkan pesawat pun made in China semua” tambahnya.
Kelima, optimalisasi pasar nasional. Dengan pasar domestik yang luas, China menggerakkan ekonomi dari dalam negeri. Produk diproduksi untuk memenuhi kebutuhan nasional sebelum diekspor keluar negeri.

Keenam, subsidi diberikan kepada produsen sehingga rakyat dapat harga murah. Dengan dukungan itu, harga tetap terjangkau bagi masyarakat (konsumen) tanpa mematikan sektor produksi. “Kebijakan ini menyehatkan ekonomi riil dan menjaga daya beli rakyat,” ujar Kambara.
Dan terakhir, diskusi bukan pilihan karena hanya menghambat pekerjaan. Arti lainnya adalah diskusi bukan hal yang prioritas, kerja adalah hal utama. Kambara mencatat, di China tidak banyak waktu dihabiskan untuk perdebatan. “Diskusi panjang dianggap menghambat kerja. Bagi mereka, yang penting adalah hasil dan kemajuan,” ujarnya.
Dari lawatan tersebut, Kambara menegaskan bahwa semangat kemandirian, kejujuran, dan etos kerja bangsa China menjadi cermin bagi gerakan koperasi di Indonesia. “Koperasi juga harus belajar untuk mandiri, produktif, dan berpihak pada anggota sebagai pemilik sejati. Jangan banyak bicara, tapi banyak bekerja,” pesannya.
Melalui Catatan Kambara dari Negeri Tirai Bambu ini, seluruh karyawan dan anggota Koperasi BMI Group diharapkan dapat mengambil inspirasi: bahwa kemajuan bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari disiplin, kesungguhan, dan keberpihakan kepada rakyat. (Nur/Humas)

KOPERASI BMI GRUP PASTI KUAT DITANGAN PENGURUS DAN PENGELOLA YG SMART 😎
MasyaAllah, jadi pengingat banget nih 😍 kalau mau maju, harus kerja keras dan cerdas, mandiri, dan jauh dari korupsi. Islam pun ngajarin hal yang sama kerja itu ibadah 💪💚