Belajar Dari Kisah Anak Nabi Adam As Dalam Pengendalian Diri Menahan Amarah

Info ZISWAF

Nasehat Dhuha Sabtu, 19 Juni 2021 | 9  Dzulka’dah 1442 H| Oleh :   Ust Sarwo Edy, ME

Ustadz H Hendri Tanjung, Ph.D (Ketua Pengawas Syariah Kopsyah BMI) Dalam tauziahnya di Zoom Meeting bersama Pengurus dan Pengelola Kopsyah BMI dan Kopmen BMI, (Jumat,18/6) membahas manajemen pengendalian diri anak Nabi Adam As.

Klikbmi, Tangerang –  Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam diri kita ada tiga unsur kehidupan yaitu tubuh, roh dan jiwa. Tubuh yang bertumbuh dari fisik yang terlihat mulai bayi hingga sekarang dan roh yang bertumbuh dalam hubungannya dengan Sang Pencipta dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan jiwa memerlukan “sandaran” untuk bertumbuh.  Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap manusia diberikan nafsu oleh Allah. Salah satu sifat yang diakibatkan dari nafsu adalah marah.

Dalam tausiyahnya Ustadz Hendri Tanjung, Ph.D (Ketua Pengawas Syariah Kopsyah BMI) di Zoom Meeting bersama Pengelola dan karyawan Kopsyah BMI dan Kopmen BMI yang pada saat itu membahas Manajemen Pengendalian Diri Anak Nabi Adam As, Beliau menceritakan tentang kisah Anak-anak Nabi Adam As yang termaktub di dalam surat Al-Maidah Ayat 27 – 31 yang berbunyi :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28) إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ (29) فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ (30) فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (31)

Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” “Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dari dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itu¬lah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya lah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata (Qabil), “Aduhai, celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu, jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.

Dari ayat-ayat di atas, Singkatnya Beliau menceritakan bahwa Qabil dengan menuruti hawa nafsunya tidak ingin kalah dari saudaranya, yaitu Habil (untuk mendapatkan istri yang dipilihnya, yaitu Iqlima). Karena kurban (dalam rangka perlombaan) yang diserahkan oleh Habil yang diterima oleh Allah SWT. Dan sebaliknya, qurbannya Qabil tidak diterima. Maka dengan itu menyatakan bahwa Habil yang menjadi pemenang dari perlombaan itu dan berhak untuk memilih istri yang diinginkan.Qabil tidak terima hasil keputusan itu. Akhirnya, dikarenakan dia menuruti hawa nafsunya disertai dengan iri dan dengki, Dia ingin membunuh Habil. Dikarenakan Habil tau bahwa menerima tantangan dengan membalasnya (saling membunuh) sangat dimurkai Allah. Maka Habil berserah diri (dengan dibunuh oleh Qabil).

Banyak hikmah yang bisa diambil dari peristiwa yang dialami oleh kedua anak Nabi Adam As tersebut. Tapi salah satu poin pentingnya adalah bagaimana pengendalian diri : Menahan amarah.  Dalam kesempatan Tanya Jawab, Beliau menjawab salah satu pertanyaan dari karyawan yang bertanya tentang kiat-kiat agar bisa menahan amarah.

Beliau memberikan beberapa kiat-kiat agar bisa menahan amarah :

Pertama, membaca ta’awudz, meminta perlindungan pada Allah dari godaan syaitan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ

“Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.” (HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376)

Kedua, berganti posisi. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketiga, mengambil air wudhu. Dari Athiyyah as-Sa’di Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Selain kiat-kiat di atas, Ustadz Hendri Tanjung, Ph.D juga menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW didatangi seorang laki-laki untuk meminta wasiat kepada Rasulullah, Rasulullah menjawab,”Janganlah engkau marah” (dengan jawaban berkali-kali).

Setelah selesai jawaban tersebut, Presiden Direktur Koperasi BMI, Kamaruddin Batubara,S.E, M.E menambahkan sedikit jawaban yang berkaitan dengan pertanyaan di atas, bahwa jika kita dalam menghadapi orang yang sedang emosi adalah dengan tidak emosi. Karena jika emosi dibalas dengan emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Harus dihadapi dengan sabar, mengalah dan menggunakan kata-kata yang tepat.

Selain kiat-kiat di atas, sabar dan sholat juga menjadi solusi dalam menghadapi sebuah masalah. Khususnya untuk meredam emosi. Allah berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 45 yang berbunyi :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,

Allah sengaja mengirimkan masalah-masalah untuk kita, bukan untuk membuat kita lemah dan mengeluh ataupun terpancing emosi. Tapi agar kita bisa lebih kuat dan bisa lebih sabar dalam menghadapinya. Dan karena di balik kesabaran seorang hamba, Allah berikan pahala yang besar yang menantinya. Khususnya di akhirat kelak.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang dapat menguasai diri di kala ia marah” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Memang fitrah setiap manusia memiliki sifat marah dikarenakan setiap manusia diberikan nafsu oleh Allah SWT. Dan orang yang kuat adalah yang bisa mengendalikan amarahnya.

Marah dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan (Ali Bin Abi Thalib)

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi).

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.