Bayah, Klikbmi.com-Suara ombak Pantai Sawarna siang itu terdengar biasa saja. Namun di sebuah rumah sederhana di Kampung Gempol Timur 1, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, ada air mata yang mengalir tanpa bisa ditahan.
Umi Ecin (63) menggenggam erat kursi roda baru di hadapannya. Tangannya gemetar. Air mata jatuh tanpa jeda.
“Maaf… saya sudah lama nggak bisa hadir ke kumpulan ,” ucapnya lirih, sebelum tangisnya pecah.
Hari itu, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) menyerahkan satu unit kursi roda kepadanya. Kursi roda itu langsung dipakai. Bukan sekadar alat bantu berjalan. Bagi Umi Ecin, kursi roda itu seperti jalan pulang,ke kehidupan yang sempat terasa menjauh.
Perempuan yang akrab disapa Umi Ecin itu adalah anggota Kopsyah BMI Cabang Bayah, Rembug Pusat Nila. Dulu, ia dikenal sebagai anggota yang paling rajin hadir. Usianya memang sudah tidak muda. Tapi semangatnya selalu muda.
Ia berjualan kopi di sekitar Pantai Sawarna. Dari warung kopi kecil itulah ia bertahan hidup. Bahkan saat suaminya meninggal dunia pada 2022, Umi Ecin tetap memilih melanjutkan kewajibannya sebagai anggota koperasi.
Ia menolak pemutihan pembiayaan. Baginya, pembiayaan dari Kopsyah BMI justru menjadi penopang usahanya.
“Warung kopi itu yang bikin saya bisa bertahan,” begitu ia pernah bercerita kepada staf lapang.
Namun empat bulan terakhir, tubuhnya menyerah. Gula darah dan kolesterol tinggi membuat kakinya lemas. Ia tak lagi bisa berjalan. Tak lagi bisa datang ke rembug pusat. Sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
Hari itu, saat kursi roda diserahkan langsung di rumahnya, Umi Ecin tak kuasa menahan perasaan.
Ia menangis. Bukan karena sakit. Tapi karena merasa masih diingat.
Koordinator Regional 03 Kopsyah BMI Suhaemudin, Manajer Cabang Bayah Nurjana, staf lapang Trisno, Ketua Rembug Pusat Nila Nur Sari Antin, serta anggota Ella dan Ruhasih datang langsung menyerahkan bantuan tersebut.
Di depan mereka, Umi Ecin berulang kali mengucapkan terima kasih. Diselipi doa-doa panjang agar Kopsyah BMI terus menebar manfaat untuk masyarakat.
Di Sawarna, di antara suara angin laut dan aroma kopi yang biasa ia seduh setiap pagi, kursi roda itu kini berdiri. Sederhana. Tapi sarat makna.
Bagi Umi Ecin, kursi roda itu bukan hanya alat bantu. Itu adalah tanda bahwa ia tidak sendiri.
Dan bagi Kopsyah BMI, hari itu bukan sekadar menyerahkan bantuan. Tapi menjaga satu hal yang paling berharga dalam koperasi: kebersamaan.
Sementara,Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara menegaskan, bantuan kursi roda untuk Umi Ecin bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bentuk nyata kehadiran koperasi dalam kehidupan anggota. “Koperasi tidak boleh hanya hadir saat anggota butuh pembiayaan. Koperasi harus hadir saat anggota jatuh sakit, saat lemah, bahkan saat merasa sendiri,” ujarnya.

Menurut pria yang akrab disapa Kambara itu, kekuatan koperasi bukan terletak pada besar kecilnya aset, tetapi pada seberapa besar kepedulian terhadap anggotanya. “Kalau koperasi hanya bicara angka, maka dia kehilangan jiwanya. Koperasi itu tentang manusia, tentang saling menjaga,” katanya.
Kambara mengaku tersentuh mendengar kisah Umi Ecin yang tetap setia menjadi anggota meski dalam kondisi sulit. Terlebih saat Umi Ecin memilih tidak melakukan pemutihan pembiayaan setelah suaminya meninggal dunia. “Itu menunjukkan karakter anggota BMI. Mandiri, punya harga diri, dan menjaga amanah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh program sosial BMI, termasuk bantuan kursi roda, bersumber dari gotong royong anggota melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. “Bisa jadi, ada anggota yang berinfak tanpa tahu infaknya akan membantu siapa. Tapi Allah yang mempertemukan. Dan hari ini, infak itu menjelma menjadi kursi roda untuk Umi Ecin,” tuturnya.
Menurut Kambara, koperasi harus menjadi rumah besar bagi anggotanya. Tempat pulang ketika lelah. Tempat mencari solusi ketika hidup terasa berat. “Anggota tidak boleh merasa sendirian. Selama dia menjadi bagian dari koperasi, maka koperasi juga menjadi bagian dari hidupnya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa BMI ingin terus menumbuhkan budaya saling peduli di tengah anggota. Karena baginya, kekuatan koperasi bukan hanya pada simpanan dan pembiayaan, tetapi pada solidaritas sosial. “Kalau satu anggota sakit, maka yang lain ikut membantu. Itulah koperasi yang sesungguhnya,” jelasnya.
Kambara berharap semangat gotong royong anggota BMI terus terjaga. Karena dari infak kecil yang dikumpulkan bersama, banyak manfaat besar yang bisa dirasakan masyarakat. “Kita mungkin merasa hanya memberi sedikit. Tapi bagi yang menerima, itu bisa menjadi penopang hidup,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Kambara mendoakan agar Umi Ecin segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti dulu. “Kami tidak hanya memberi kursi roda. Kami juga menitipkan doa dan harapan. Semoga Umi Ecin diberi kesehatan, kekuatan, dan tetap menjadi bagian dari keluarga besar BMI,” pungkasnya.(Togar/Humas)

