Berwudhu Tak Lagi Terbatas, Kopsyah BMI Bangun Sanimesra di Ciomas

BMI Corner

Serang, Klikbmi.com –Langit menggantung kelabu di atas Kampung Pasir Hanja, Selasa pagi itu. Awan tebal seolah menahan hujan, tetapi tak mampu menahan rasa syukur warga Masjid Baitul Mu’minin. Di pelataran masjid sederhana di Desa Sukarena, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, harapan baru dimulai lewat peletakan batu pertama program Sanitasi gratis Masjid, Musholla, dan Pesantren (Sanimesra) Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI).

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Seremoni berlangsung sederhana. Tanpa panggung megah. Tanpa sound system,. Namun wajah-wajah jamaah memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Selama bertahun-tahun, mereka berwudhu di fasilitas yang jauh dari kata layak. Kini, perubahan itu benar-benar di depan mata.

Sebelum Sanimesra hadir, tempat wudhu Masjid Baitul Mu’minin hanyalah sebuah kolam besar dari beton. Tak ada keran. Air ditimba dengan ember bekas cat. Dinding bata menghitam, dipenuhi lumut dan kerak. Air di bak penampungan terlihat kehijauan. Lantai semen retak dan licin, menyimpan risiko bagi lansia dan anak-anak.

Camat Ciomas Ugun Gurmilang meletakkan batu pertama tanda dimulainya pembangunan Sanimesra Kopsyah BMI di Masjid Baitul Mu’minin.

“Tempat wudhu ini tetap digunakan setiap hari oleh jamaah untuk bersuci sebelum salat, meski kondisinya jauh dari kata layak dan aman,” kata Manajer Cabang Padarincang Kopsyah BMI, Rizal Fauzi,.

Keterbatasan itu sudah lama dipahami warga Desa Sukarena. Namun kemampuan memperbaiki tak pernah sejalan dengan kebutuhan. Hingga akhirnya, SanimesraKopsyah BMI  datang mengetuk pintu masjid.

Manajer Regional 02 Kopsyah BMI, Sandi Sumantri, memperlihatkan contoh-contoh sanitasi masjid yang telah dibangun BMI di berbagai daerah. Jamaah menyimak dengan mata berbinar. Mereka tak sekadar melihat gambar bangunan, tetapi membayangkan kenyamanan beribadah yang selama ini hanya menjadi harapan.

Peletakan batu pertama Sanimesra dihadiri Camat Ciomas Ugun Gurmilang, Kepala Desa Sukarena Endin Hasanuddin, Bhabinkamtibmas Edi Purnomo, serta Ketua DKM Masjid Baitul Mu’minin Suhiri. Kehadiran mereka menjadi tanda bahwa gotong royong masih hidup dan bekerja.

Seremoni peletakan batu pertama.

Dalam sambutannya, Camat Ciomas Ugun Gurmilang menegaskan bahwa program sosial Kopsyah BMI telah membantu meringankan beban pemerintah.

“Dengan sinergi yang baik antara pemerintah dan Kopsyah BMI, persoalan sarana ibadah bisa ditanggulangi bersama,” ujarnya.

SementaraKepala Desa Sukarena, Endin Hasanuddin, tak menyembunyikan rasa bangganya.

“Alhamdulillah. Kami berterima kasih kepada Kopsyah BMI yang menjadi wasilah dibangunnya sanitasi, tempat wudhu, sekaligus MCK di masjid kami. Yang membuat kami semakin bahagia, ini dibangun oleh koperasi yang selama ini hadir dan beroperasi di desa kami,” tuturnya.

Bagi jamaah Masjid Baitul Mu’minin, Sanimesra bukan sekadar bangunan MCK dan tempat wudhu. Ia adalah bukti bahwa infak kecil yang dikumpulkan dengan disiplin dan keikhlasan mampu menjelma menjadi fasilitas ibadah yang bermartabat.

kondisi tempat wudhu Masjid Baitul Mu’minin sebelumnya.

Di bawah langit mendung Ciomas, harapan itu kini tak lagi menggantung. Ia mulai dibangun bata demi bataoleh gotong royong anggota Kopsyah BMI dan infak ratusan ribu anggotanya .

Sementara Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara menegaskan bahwa Sanimesra lahir dari kesadaran sederhana namun mendasar: ibadah yang khusyuk membutuhkan fasilitas yang bersih dan layak.
“Bersuci adalah pintu ibadah. Kalau tempat wudhunya tidak sehat, licin, dan berbahaya, maka yang pertama terdampak adalah kekhusyukan jamaah. Karena itu, Sanimesra kami hadirkan sebagai ikhtiar menjaga martabat ibadah umat,” ujar pria yang akrab disapa Kambara itu.

Menurut Kambara, pembangunan sanitasi masjid bukan sekadar proyek fisik, melainkan wujud nyata nilai koperasi yang sesungguhnya.
“Koperasi bukan hanya soal simpan pinjam. Koperasi adalah alat perjuangan sosial. Dari infak kecil anggota, lahir manfaat besar untuk masyarakat. Inilah koperasi yang diajarkan Bung Hatta: memberi manfaat seluas-luasnya, bukan mencari untung sebesar-besarnya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, setiap rupiah yang digunakan dalam program Sanimesra berasal dari gotong royong anggota Kopsyah BMI.
“Tidak ada dana instan. Tidak ada sponsor besar. Yang ada hanyalah keikhlasan anggota menyisihkan sebagian rezekinya. Dari seribu, dua ribu rupiah itulah, sanitasi masjid bisa berdiri, dan jamaah bisa beribadah dengan lebih aman dan nyaman,” kata Kambara.

Kambara juga menekankan bahwa kebermanfaatan program BMI tidak membedakan latar belakang.
“Masjid ini mungkin tidak berada di pusat kota, jamaahnya sederhana, tapi di mata BMI, mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan fasilitas ibadah yang layak. Di situlah keadilan sosial koperasi bekerja,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Kambara mengajak seluruh anggota dan masyarakat untuk terus merawat semangat gotong royong.
“Selama anggota masih setia berinfak, selama nilai kebersamaan dijaga, insya Allah manfaat BMI akan terus mengalir. Sanimesra ini bukan yang terakhir. Ini adalah pengingat bahwa koperasi hidup karena kepedulian anggotanya,” pungkasnya.(Togar/humas)

Share on:

1 thought on “Berwudhu Tak Lagi Terbatas, Kopsyah BMI Bangun Sanimesra di Ciomas

  1. “Koperasi hidup karena kepedulian anggotanya…..”
    Kata2 penutup yang ibarat oase ditengah gurun pasir bila berkaca pada kondisi saat ini. Menegaskan bahwa harapan itu masih tetap ada dan terjaga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *