Serang, Klikbmi.com: Di usia 76 tahun, Juniah mungkin tak pernah membayangkan sebuah rumah baru akan datang sebagai jawaban atas doa-doanya. Selama bertahun-tahun, ia menjalani hari-hari bersama putra bungsunya di sebuah rumah sederhana dengan kondisi yang jauh dari layak. Dindingnya terbuat dari potongan bata yang direkatkan dengan tanah.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kondisi ekonomi membuat perempuan yang telah lama menyandang status janda itu tak memiliki banyak pilihan. Juniah sudah tidak bekerja dan hanya memiliki penghasilan sekitar Rp50 ribu. Sementara putranya sehari-hari bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, di tengah keterbatasan itu, Juniah tetap bertahan. Ia menjalani kehidupannya dengan sabar dan ikhlas, sembari menyimpan harapan bahwa suatu saat akan ada jalan keluar dari kondisi yang dihadapinya. Harapan itu akhirnya datang melalui jalan yang tak pernah ia duga.

Kamis (20/8/2026), Juniah menerima Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) ke-575 dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). Rumah baru tersebut berdiri di Kampung Petanduk RT 003/006, Desa Teras, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten.
Yang membuat kisah ini semakin istimewa, Juniah bukanlah anggota Kopsyah BMI.
Bagi Kopsyah BMI, keterbatasan ekonomi dan status keanggotaan bukan menjadi batas untuk menghadirkan manfaat. Program Rumah Siap Huni menjadi salah satu ikhtiar koperasi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal layak.
Pembangunan rumah Juniah menelan biaya sekitar Rp65 juta. Kopsyah BMI memberikan kontribusi sebesar Rp52,8 juta, Kapolsek Carenang membantu Rp10 juta, sementara Pemerintah Desa Teras turut berkontribusi berupa 40 sak semen senilai sekitar Rp2,2 juta.
Rumah tersebut lahir dari gotong royong. Sejak peletakan fondasi hingga proses pembangunan selesai, sejumlah pihak mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Direktur Keuangan Koperasi Syariah BMI, Makhrus, hadir mewakili Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara dalam penyerahan rumah tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa rumah Juniah merupakan hasil dari kolaborasi yang berjalan tanpa sekat.
“Rumah ini terselenggara karena kolaborasi yang luar biasa. Aparat desa memberikan kemudahan, masyarakat juga ikut bergerak. Dari awal pembangunan, mulai dari fondasi hingga hari ini, semua berjalan dengan gotong royong,” ujar Makhrus.

Menurutnya, gotong royong yang terlihat di Desa Teras menunjukkan bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus dimulai dari kontribusi besar. Ketika banyak pihak bergerak bersama, manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kita tidak memaksa siapa harus ikut dan siapa harus berkontribusi. Tetapi Alhamdulillah, di Desa Teras ini gotong royong sangat terasa dan terlihat,” katanya.
Makhrus juga mengapresiasi masyarakat yang ikut hadir dan menyaksikan kebahagiaan Juniah.
“Ada tetangga yang senang, kita ikut senang. Mudah-mudahan setiap kebaikan yang dilakukan di sini menjadi amal dan pahala bagi kita semua,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Makhrus mengingatkan masyarakat bahwa koperasi tidak semata-mata berbicara tentang pinjaman atau utang. Menurutnya, pembiayaan dalam koperasi harus digunakan secara bijak, terutama untuk kebutuhan yang produktif dan disesuaikan dengan kemampuan anggota.

“Ngomongin koperasi itu enggak melulu ngomongin hutang. Kalau kita punya usaha yang sudah jalan dan modalnya ingin ditambah, boleh pinjam. Atau punya kemampuan ingin membuka usaha tetapi modalnya belum ada, boleh pinjam. Tapi kalau pinjam harus berdasarkan kebutuhan dan kemampuan,” jelasnya.
Makhrus menegaskan, berkoperasi juga tidak berarti setiap orang harus meminjam. Masyarakat yang belum membutuhkan pembiayaan tetap dapat bergabung dengan membangun kebiasaan menabung.
“Kalau saya enggak mau pinjam, boleh. Karena berkoperasi itu enggak harus pinjam. Ibu pengennya nabung saja, boleh. Kita sedang belajar membiasakan hal-hal bagus, supaya biasa nabung,” katanya.
Menurut Makhrus, kebiasaan menabung dan mengelola keuangan secara disiplin merupakan bagian penting dari tujuan berkoperasi. Karena itu, ia mengajak masyarakat yang belum menjadi anggota untuk ikut bergabung dan memanfaatkan koperasi sebagai wadah untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Yang kita mau ajak ke masyarakat itu adalah kebiasaan-kebiasaan bagus. Kami insya Allah akan bantu ibu-ibu untuk meningkatkan usahanya,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan Kopsyah BMI di Desa Teras dapat semakin memberikan manfaat, tidak hanya melalui pembiayaan dan simpanan, tetapi juga melalui berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan Masyarakat melalui rembug pusat baru yang dapat dibentuk usai penyerahan HRSH ke-575 ini.
Ia berharap kolaborasi seperti ini dapat terus dijaga. Sebab, menurutnya, masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak.
Dalam kesempatan tersebut, Makhrus juga menyampaikan salam dari Kamaruddin Batubara yang tidak dapat hadir secara langsung karena mendapat undangan dari Kementerian Koperasi untuk menghadiri agenda penghargaan bagi para pelaku dan pegiat koperasi di Indonesia.

Penyerahan rumah tersebut turut dihadiri Kadis Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Serang Oke Oktaviana yang mewakili Bupati Serang, Erma Suradinara selaku Fungsional Pengawas Koperasi Dinas Koperasi Provinsi Banten, perwakilan Dekopinwil Banten, Dinas Koperasi Kabupaten Serang, Camat Carenang Imron, Kapolsek Carenang Desma, Sekdes Teras Efendi, serta unsur pemerintah desa, kepolisian dan masyarakat.
Dari jajaran Kopsyah BMI hadir Manajer Regional Ruslan dan Manajer Cabang Kibin Rosminah bersama jajaran.
Bagi Juniah, rumah itu lebih dari sekadar bangunan baru. Ia adalah ruang untuk menjalani masa senja dengan rasa aman setelah bertahun-tahun tinggal dalam kondisi serba terbatas. Di rumah barunya, doa-doa yang pernah dipanjatkan dalam kesunyian seolah menemukan jawaban.
Kisah Juniah menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah SWT dapat datang melalui jalan yang tidak pernah disangka. Dan terkadang, jawaban atas sebuah doa hadir melalui tangan-tangan manusia yang dipertemukan dalam satu kebaikan.
Di Kampung Petanduk, rumah ke-575 Kopsyah BMI itu akhirnya berdiri sebagai simbol harapan sekaligus bukti bahwa ketika kepedulian dipertemukan dengan kolaborasi dan gotong royong, sebuah kehidupan dapat berubah menjadi lebih baik. (Nur/Humas)
