Menjadi Hamba Yang Dicintai Allah

Edu Syariah

Nasehat Dhuha Sabtu, 16 Oktober 2021 | 9 Rabiul Awal 1443 H | Oleh : Achmad Nasution, M.E

Klikbmi, Tangerang – Tema kita hari ini adalah menjadi hamba yang dicintai Allah. Pada dasarnya tingkat kecintaan Allah kepada makhluknya berbeda-beda, sehingga kita sebagai makhlukNya hendaknya berbuat semaksimal mungkin untuk menjadi makhluk yang dicintai olehNya. Kita sebagai manusia, secara umum mencintai pekerjaan yang kita sukai, mencintai wanita/laki-laki yang menarik [menyenangkan/menenangkan hati] untuk kita, dan lain sebagainya, jika tidak menarik jelas kita tidak akan melakukan dan mencintainya. Lalu, siapakah orang yang paling dicintai oleh Allah? Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. (رواه مسلم)

Dari Abi Hurairah R.A dia berkata: Rasulallah SAW bersabda: “Seorang mu’min yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada seorang mu’min yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)

Tentu kita sepakat jika kita mengatakan bahwa orang yang kuat tentu dapat melakukan ibadah yang lebih daripada mereka yang lemah. Secara rasional, orang yang kuat fisiknya tentu akan lebih mampu untuk memperbanyak intensitas dan kualitas ibadahnya ketimbang orang yang lemah. Orang yang kuat secara ekonomi akan lebih mampu untuk berzakat, infak, sedekah dan wakaf ketimbang orang yang perekonomiannya lemah. Jadi, diantara jalan yang perlu kita lalui untuk menjadi orang yang dicintai oleh Allah adalah menjadi mu’min yang kuat, sehinga kita bisa dicintai olehNya dengan sebaik-baik kecintaan. 

Lalu, kuat seperti apakah yang dimaksudkan dalam hadits tersebut?

Imam Nawawi mendefinisikan kuat dalam Hadits Riwayat Muslim tersebut adalah kuatnya tekad untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah SWT. Dan juga, Syaikh Utsaimin mengatakan bahwa maksud dari mu’min yang kuat adalah yang kuat imannya, bukan yang dimaksud dengan yang kuat dalam tubuhnya, karena kekuatan fisik dapat membahayakan seseorang jika dia menggunakan kekuatan ini dalam ketidaktaatan kepada Allah, karena kekuatan tubuh itu sendiri tidak terpuji atau tercela. Jika seseorang menggunakan kekuatan ini untuk keuntungannya di dunia dan di akhirat, itu menjadi terpuji, dan jika dia menggunakan kekuatan ini untuk mendurhakai Allah, itu menjadi tercela.

Sudah menjadi sebuah karakter dan tabiat bagi orang yang beriman untuk berlomba-lomba mengejar kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Para sahabat Nabi SAW selalu mencari tahu, apa sunnah Nabi mereka yang belum sempat mereka kerjakan. Jika ada momentum melakukan kebaikan, mereka tak ingin ketinggalan, apalagi mengabaikannya. Itu semua dilakukan untuk mengejar derajat hamba yang dicintai oleh Allah.

Pada dasarnya setiap apa yang kita perbuat akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang telah kita perbuat, sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Aritnya: Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.QS. Az-Zalzalah: 7-8

Dari ayat diatas dapat kita ambil sebuah pembelajaran bahwa Allah merincikan balasan untuk setiap amal perbuatan. Barang siapa beramal baik, walaupun hanya seberat zarrah [atom/partikel terkecil] niscaya akan diterima balasannya, dan begitu pula yang beramal buruk walaupun hanya seberat zarrah akan mendapatkan balasannya.

Untuk itu mari kita tingkatkan amal kebaikan, hingga akhirnya dapat meningkatkan keimanan kita dan jangan sebaliknya, ini selaras dengan pernyataan syeikh khalid mushlih:

أَنَّ الْإِيْمَانَ يَزِيْدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

Artinya: ”Sesungguhnya iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”

Kesimpulan dari tema kita hari ini adalah pertama untuk menjadi hamba yang dicintai oleh Allah maka kita harus menjadi mu’min yang kuat [iman], dan akan lebih baik lagi jika fisik kitapun kuat agar dapat meningkatkan ketaatan kepadaNya. Kedua setiap apa yang kita kerjakan akan mendapatkan balasan, untuk itu kita harus selalu mengingat bahwa tidak ada yang bisa lepas dari balasan perbuatannya di hari akhir kelak. Wallahu ‘alam bi shawab

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888 (Sularto/Klikbmi).

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.